“Aku Pernah Tersengat, Tapi Tak Terbakar”

Puisi Cinta, Luka, dan Perempuan yang Bangkit

Saya pernah tersengat,tapi tidak terbakar
Foto Ilustrasi Canva: Lebah yang sedang mencoba aroma bunga

Oleh: Popi Sri Mulyani 

“Kadang cinta datang seperti puisi – indah di awal, tapi penuh jebakan di ujung umpan” 

Aku pernah…

tersengat manisnya dopamin dari caramu bicara.

Kata-katamu lembut seperti angin sore yang menyentuh kulitku perlahan,

menggoda hati yang semula tenang,

mengajak terbang—

tapi aku tetap memilih berpijak di bumi

karena aku tahu,

langit yang kau tawarkan tak pernah benar-benar ingin memelukku.

 

Aku sadar,

yang kuhadapi bukan sembarang insan,

kau pujangga ulung,

yang merangkai kata seindah fatamorgana—

Memancarkan,

menyesatkan.

 

Tapi kau lupa…

Aku pun perangkai kata.

Aku tahu mana yang tulus, mana yang sekadar jebakan rima.

Kau pikir aku akan hanyut?

Kau kira aku akan melayang jauh dan lupa daratan?

 

Tidak…

Aku masih waras.

Aku masih memeluk logika,

meski sesekali hatiku sempat bergetar oleh bujuk rayamu.

 

Aku cukup tahu…

kau hanya pantas masuk ke pikiranku,

tidak—

tidak sampai ke hatiku.

Hatiku terlalu berharga untuk dijadikan tempat persinggahanmu.

Terlalu rahasia untuk menempatkan seseorang yang hanya pandai berkata manis,

namun tak mampu tinggal dalam diam.

 

Aku tahu…

kau tak datang untuk tinggal,

hanya lewat seperti angin malam yang dingin—

dan menusuk.

Jadi, jika kau bertanya…

apakah aku baik-baik saja?

Aku akan menjawab,

aku belajar memaafkan diriku sendiri karena pernah percaya.

Aku belajar mencintai diriku sendiri lebih dulu,

setelah luka yang kau tinggalkan tak sempat kau obati.

Kini, biarlah aku jadi pujangga dari lukaku sendiri.

Menulis luka menjadi makna,

membungkus udara mata menjadi puisi.

Semoga, di suatu malam saat kau membaca ini,

Baca Juga:  Sebuah Penyesalan dan Harapan Seorang Ibu

ada yang mengganjal di dadamu—

dan kau menyesal…

karena telah mempermainkan hati,

yang hanya ingin mencintai dengan sederhana. 

“Puisi ini untuk semua hati yang pernah dikecewakan. Pernah tersengat, tapi tak terbakar-karena kita lebih kuat dari luka”

7 Agustus 2025

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *