Sastra  

Sebuah Penyesalan dan Harapan Seorang Ibu

 

Oleh Lina Roslina*

 

Di sudut sebuah majelis, seorang ibu setengah baya duduk bersimpuh. Suaranya tertahan di tenggorokan, hanya napas yang terdengar berat. Di depan sana, seorang pemuda melantunkan ayat-ayat suci dengan merdu, suaranya menyelinap ke dalam setiap sudut ruangan, menggema di dinding-dinding hati yang pernah sunyi.

Getaran itu menelusup ke dalam jiwanya, menampar kenangan, membangkitkan harapan yang sekian lama terpendam. Matanya berkaca-kaca, dadanya sesak oleh keinginan yang tak pernah terucapkan: Seandainya pemuda itu adalah anakku…

 

Sebuah keluh tak bersuara melintas di benaknya. Ada kerinduan yang tak berwujud, kesedihan yang tak terucap. Seandainya waktu bisa diputar kembali, seandainya dulu ia lebih gigih dalam menanamkan nilai-nilai agama pada anak-anaknya, mungkin kini ia akan duduk di tempat yang sama, bukan dengan penyesalan, melainkan dengan kebanggaan.

Tetapi, waktu tak pernah sudi berjalan mundur. Ia hanya bisa memandangi kenyataan, merasakan betapa melelahkannya penantian, betapa panjangnya jalan menuju harapan yang belum terwujud.

Namun, di balik segala kegundahan itu, ia tak pernah menyerah. Dalam setiap sujud, dalam setiap helaian tasbih yang meluncur dari bibirnya, ia terus berdoa. Memohon kepada Allah yang Maha Membolak-balikkan hati, agar anak-anaknya diberi hidayah, agar mereka kelak menjadi insan yang mencintai Rabb-nya, agar ia diampuni atas segala kelalaiannya. Ia tahu, hidayah adalah hak prerogatif Allah.

Tapi ia juga tahu, doa adalah jembatan yang bisa menghubungkan harapan dengan kenyataan.

 

Anak-anaknya bukanlah anak-anak yang bermasalah. Mereka telah menyelesaikan pendidikan dengan baik, memperoleh gelar sarjana, menjalani kehidupan yang mapan. Tetapi ada satu ruang kosong dalam hatinya—sebuah ruang yang hanya bisa diisi oleh keyakinan dan kecintaan anak-anaknya kepada Sang Pencipta.

Baca Juga:  Revisi UU TNI: Hanya Akan Membawa Kita Kembali Ke Masa Kelam

Dan kekosongan itu lahir dari dirinya sendiri, dari masa lalunya yang dulu abai terhadap pendidikan agama.

Kenangannya melayang ke dua puluh tahun silam, ketika Allah mengetuk hatinya, membukakan jalan hidayah melalui seorang teman. Saat usianya tak lagi muda, ia baru menemukan betapa luasnya samudera ilmu agama yang selama ini diabaikannya. Ia mulai belajar di pesantren, mengeja kembali huruf-huruf yang seharusnya telah akrab sejak kecil, mendengar kajian demi kajian yang membuatnya tersadar betapa selama ini ia hanya menjalani ibadah dalam kefasihan ritual tanpa pemahaman mendalam.

Dan di tengah semangat itu, ada satu hal yang luput dari perhatiannya: anak-anaknya yang masih kecil, yang masih butuh bimbingannya.

Kini, setiap kali ada sikap anak-anaknya yang membuat hatinya nyeri, ia hanya bisa beristighfar. Bukan mereka yang harus disalahkan, tetapi dirinya sendiri.

Dalam setiap istighfar itu, ia titipkan harapan, agar Allah melembutkan hati anak-anaknya, membimbing mereka menuju cahaya-Nya, entah saat ia masih hidup atau ketika ia telah tiada.

Terlebih di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, ia tak henti-henti berdoa. Hatinya menadahkan harapan, lisannya tak pernah lelah merangkai pinta. Ia yakin, Allah Maha Mendengar. Bahwa harapannya ini, sekecil apa pun, akan menemukan jalannya sendiri. Dan kelak, di suatu masa yang ia tak tahu kapan, doanya akan berbuah.

Sampai saat itu tiba, ia hanya bisa terus berdoa, berharap, dan mencintai dalam diam. Semoga keluarganya selalu dalam naungan kasih sayang Allah, hingga Jannah-Nya nanti. Aamiin.

*Penulis adalah mahasiswi KPI semester VI IAI PERSIS Bandung 

Editor Nurdin Qusyaeri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *