
Oleh Nurdin Qusyaeri
Setelah Ramadhan, Lalu Apa?
Bulan Ramadhan beberapa hari lagi akan berlalu. Kita ada memasuki bulan Syawal. Pertanyaan besarnya: apakah kita termasuk orang yang berhasil atau justru kembali ke kebiasaan lama?
Rasulullah ﷺ bersabda, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ini menegaskan bahwa konsistensi lebih utama daripada kuantitas.
Syawal: Bulan Peningkatan
Kata “Syawal” (شَوَّالُ) secara bahasa berasal dari “syala” (شَالَ) yang berarti irtafa’a (meningkat) . Makna ini menjadi inspirasi: setelah sebulan ditempa di Ramadhan, kita harus meningkat, bukan menurun.
Salah satu amalan utama di Syawal adalah puasa enam hari. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim)
Kunci Istiqamah
Pertama, muhasabah—introspeksi. Evaluasi ibadah kita selama Ramadhan. Apa yang bisa dipertahankan?
Kedua, muraqabah—kesadaran diawasi Allah. Latihan spiritual Ramadhan mengajarkan kita merasa selalu dalam pengawasan-Nya .
Ketiga, menjaga shalat berjamaah. Kebiasaan shalat tepat waktu di Ramadhan harus dipertahankan .
Keempat, tetap membaca Al-Qur’an. Jika di Ramadhan bisa khatam, di luar Ramadhan setidaknya jaga rutinitas harian meski hanya satu halaman .
Kelima, lingkungan positif. Berteman dengan orang saleh membantu mempertahankan semangat ibadah .
Keenam, doa. Mohon kepada Allah agar diteguhkan hati dalam iman .
Sindiran untuk yang Kembali Lalai
Abu Nawas pernah berkata: “Lihatlah orang-orang yang di Ramadhan rajin ke masjid, rajin tadarus, rajin sedekah. Begitu Syawal tiba, masjid sepi, Al-Qur’an berdebu, dan sedekah lupa. Mereka seperti pasien yang sembuh lalu lupa obat.
Padahal, penyakit sebenarnya bukan lapar, tapi lupa pada Allah.”
Refleksi
Ramadhan akan segera pergi, tapi Rabb-nya Ramadhan tetap ada . Keberhasilan sejati bukan seberapa banyak ibadah di bulan puasa, tapi sejauh mana kita mampu mempertahankan kualitas itu di sebelas bulan berikutnya .
Wallahu a’lam bish-shawab.






