
Oleh Ade Fajar
Menjaga lisan merupakan salah satu perbuatan atau akhlak yang utama dalam Islam.
Banyak masalah dan pertikaian timbul akibat tidak menjaga lisan. Menjaga lisan sangat penting untuk dilakukan kaum muslimin.
Dengan menjaga lisannya, seseorang akan terhindar dari berbagai masalah seperti pertengkaran dan kebencian.
Di televisi, media sosial, dan grup whatsapp kasus, pencemaran nama baik, ghibah diantara tim sukses pasangan yang saling menjelekan pasangan lainnya, dan merasa paling benar calon yang didukungnya.
Belum lagi kasus pembunuhan tidak sedikit terjadi karena masalah ketersinggungan. Itu adalah termasuk salah satu akibat tidak menjaga lisan.
Dalam Islam, seseorang yang tidak dapat memelihara lisan tergolong orang yang merugi, dan bakal diadili di akhirat. Sebaliknya, kaum muslim yang berhasil menjaga lisannya diganjar pahala dan surga dari Allah.
Larangan Berghibah Dan Sejenisnya
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al – Hujurot : 12)
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَطُوفُ بِالْكَعْبَةِ وَيَقُولُ: “مَا أَطْيَبَكِ وَأَطْيَبَ رِيحَكِ، مَا أَعْظَمَكِ وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكِ. وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَحُرْمَةُ الْمُؤْمِنِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ حُرْمَةً مِنْكِ، مَالُهُ وَدَمُهُ، وَأَنْ يُظَنَّ بِهِ إِلَّا خَيْرٌ
Telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Amr r.a. yang mengatakan bahwa ia pernah melihat Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) sedang tawaf di ka’bah seraya mengucapkan:
Alangkah harumnya namamu, dan alangkah harumnya baumu, dan alangkah besarnya namamu, dan alangkah besarnya kesucianmu.
Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya kesucian orang mukmin itu lebih besar di sisi Allah (Subhanahu wa Ta’ala) daripada kesucianmu; harta dan darahnya jangan sampai dituduh yang bukan-bukan melainkan hanya baik belaka. (Ibnu Katsir)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ، وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَسَّسُوا، وَلَا تَنَافَسُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا”
Dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) pernah bersabda:
Janganlah kamu mempunyai prasangka buruk, karena sesungguhnya prasangka yang buruk itu adalah berita yang paling dusta;
Janganlah kamu saling memata-matai, janganlah kamu saling mencari-cari kesalahan,
Janganlah kamu saling menjatuhkan,
Janganlah kamu saling mendengki,
Janganlah kamu saling membenci dan
Janganlah kamu saling berbuat makar, tetapi jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.
Imam Bukhari meriwayatkannya dari Abdullah ibnu Yusuf, sedangkan Imam Muslim meriwayatkannya dari Yahya ibnu Yahya.
Imam Abu Daud meriwayatkannya dari Al-Atabi, dari Malik dengan sanad yang sama.
قَالَ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَا تَقَاطَعُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا، وَلَا يَحِلُّ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ”
Sufyan ibnu Uyaynah telah meriwayatkan dari Az-Zuhri, dari Anas r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) pernah bersabda:
Janganlah kalian saling memutuskan persaudaraan, janganlah kamu saling menjatuhkan, janganlah kamu saling membenci, dan janganlah kamu saling mendengki, tetapi jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak dihalalkan bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.
Lisan, Tangan Dan Kaki Akan Menjadi Saksi
يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS. Ana – Nur : 24)
Tafsir Ibnu Katsir Surat An – Nur ayat 24
Dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa sesungguhnya mereka adalah orang-orang musyrik. Manakala mereka merasakan bahwa tiada yang dapat masuk surga kecuali ahli salat, mereka berkata,
“Marilah kita mengingkari perbuatan-perbuatan kita dahulu (semasa di dunia).”
Maka ketika mereka hendak mengingkari perbuatannya, dikuncilah mulut mereka, dan bersaksilah kedua tangan dan kedua kaki mereka (menyatakan perbuatan mereka yang sesungguhnya) sehingga mereka tidak dapat menyembunyikan kepada Allah suatu amal perbuatan pun.
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، عَنْ رسول الله صلى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:”إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ، عُرف الْكَافِرُ بِعَمَلِهِ، فَيَجْحَدُ وَيُخَاصِمُ، فَيُقَالُ لَهُ: هَؤُلَاءِ جِيرَانُكَ يَشْهَدُونَ عَلَيْكَ. فَيَقُولُ: كَذَبُوا. فَيَقُولُ: أَهْلُكَ وَعَشِيرَتُكَ. فَيَقُولُ: كَذَبُوا، فَيَقُولُ: احْلِفُوا. فَيَحْلِفُونَ، ثُمَّ يُصمِتهم اللَّهُ، فَتَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَيْدِيهِمْ وَأَلْسِنَتُهُمْ، ثُمَّ يُدْخِلُهُمُ النَّارَ”
Dari Abu Sa’id, dari Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) yang telah bersabda:
Apabila hari kiamat telah terjadi, maka diperkenalkanlah kepada orang kafir amal perbuatannya, lalu ia mengingkarinya dan berkilah. Maka dikatakan kepadanya, “Itulah mereka para tetanggamu yang mempersaksikan kamu.”
Dia berkata, “Mereka dusta.” Kemudian dikatakan pula, “Itulah mereka keluarga dan kaum kerabatmu.” Ia menjawab,
“Mereka dusta.”
Lalu dikatakan, “Bersumpahlah kamu!” Maka mereka berani bersumpah, setelah itu Allah membuat mereka bisu (tidak dapat bicara), maka bersaksilah terhadap mereka kedua tangan dan lisan mereka, lalu Allah memasukkan mereka ke dalam neraka.
Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu secara marfu’, Beliau Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ : اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ ؛ فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا ، وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا
“Apabila manusia menjelang pagi, maka semua anggota-anggota badannya menyalahkan lisan. Mereka berkata,
“(Wahai lisan) bertakwalah engkau kepada Allah, karena kami. Maka sesungguhnya keadaan kami tergantung kepadamu. Jika kamu istiqomah, kamipun istiqomah. Namun jika kamu menyimpang, maka kamipun menyimpang”. (HR. At – Tirmidzi No 2407 Shahih)
Hikmah Menjaga Lisan
Allah subhanahu wata’ala, akan menutup aibnya. Maksudnya Allah akan menutupi aib dan kecacatan orang yang diam, menjaga lisan dan tidak banyak bicara yang berburuk sangka. Karena dengan diam berarti ia telah menutupi aib orang lain, tidak menggunjingkan, tidak merendahkan, dan tidak berkata keji.
Dengan demikian, secara tidak langsung ia telah berlaku santun dan bijaksana dalam pergaulan dengan menjaga mulutnya. Karena sikap diamnya ini maka Allah membalas dengan menutupi aib dirinya di depan orang lain. Sebagaimana penjelasan Rasulullah saw. yang artinya:
“Barangsiapa yang menjaga lisannya, niscaya Allah menutupi auratnya. Barangsiapa menahan murkanya niscaya Allah melindunginya dari siksa-Nya dan barangsiapa yang mengemukakan alasan kepada Allah, niscaya Allah menerima alasannya.”
Manfaat menjaga lisan. Diam atau tidak banyak bicara merupakan sikap bijaksana dalam menjaga keselamatan diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan munkar, sebab banyak orang yang jatuh kehormatannya, dilecehkan kedudukannya, terperosok dalam kemaksiatan, dan banyak musuhnya adalah akibat dari ketidakmampuannya dalam mengendalikan lisan.
Editor: Dinur





