
London, DARAS.ID– Ratusan demonstran memadati halaman Gedung Parlemen Inggris pada Sabtu malam (1/3) untuk menuntut penghentian segera operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Aksi ini dipelopori oleh koalisi Stop the War Coalition, yang selama ini dikenal vokal menentang intervensi militer Barat di berbagai kawasan konflik.
Massa membawa spanduk bertuliskan “Hentikan Perang Trump” serta menyerukan penghentian keterlibatan Inggris dalam mendukung operasi militer yang mereka nilai sebagai bentuk agresi dan ancaman serius terhadap perdamaian global. Dalam orasi yang disampaikan bergantian, para demonstran mengecam eskalasi konflik yang disebut telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Desakan Sidang Darurat Parlemen
Para aktivis mendesak Parlemen Inggris segera menggelar sidang darurat guna membahas posisi resmi pemerintah dan kemungkinan penarikan dukungan terhadap operasi militer tersebut. Mereka menilai, keterlibatan Inggris berpotensi menyeret negara itu ke dalam konflik regional yang lebih luas dan berisiko memperburuk stabilitas keamanan internasional.
“Ini bukan perang kami. Pemerintah harus segera mengambil sikap tegas untuk tidak terlibat dalam agresi yang hanya akan memperluas penderitaan rakyat sipil,” ujar salah satu koordinator aksi dalam orasinya.
Eskalasi Konflik dan Serangan Balasan Iran
Aksi protes ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk, terutama setelah Iran melancarkan serangan balasan berupa rudal ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah tersebut. Serangan itu dinilai sebagai sinyal meluasnya zona peperangan dan meningkatkan risiko konflik terbuka yang lebih besar.
Pengamat hubungan internasional menilai, eskalasi ini dapat memicu instabilitas geopolitik global, termasuk gangguan jalur energi dan ketegangan diplomatik antarnegara besar.
Tuntutan Perdamaian Global
Koalisi Stop the War menegaskan bahwa solusi diplomatik harus segera ditempuh untuk mencegah perang skala penuh. Mereka juga menyerukan solidaritas internasional guna menekan pemerintah-pemerintah Barat agar menghentikan intervensi militer dan kembali ke meja perundingan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Inggris terkait tuntutan sidang darurat tersebut.
(Noer/Noer)
Sumber: VIORY






