Kunci Kebahagiaan Itu, Berdamai dengan Waktu Lalu Menikmati Hidup

Kunci Bahagia itu, Berdamai dengan Hati Lalu, Menikmati Hidup
Pasangan romantis menciptakan rasa bahagia walau dalam suasana perjalanan menuju warung kopi sekalipun.

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Dalam pencarian hidup yang panjang, kebahagiaan sering kali menjadi tujuan utama yang ingin diraih oleh manusia. Namun, apa sebenarnya kebahagiaan itu?

Dr. Fahruddin Faiz, seorang filsuf dan akademisi, menyederhanakan konsep kebahagiaan ke dalam tiga ciri utama yaitu, tidak menyesali masa lalu, tidak mengkhawatirkan masa depan, dan mampu menikmati hari ini.

Pernyataan ini, meski terdengar sederhana, menyimpan kedalaman dan  filosofis yang relevan dengan berbagai aspek kehidupan.

1. Tidak Menyesali Masa Lalu

Masa lalu adalah kumpulan peristiwa yang tak dapat diubah. Bagi orang yang bahagia, masa lalu tidak menjadi penjara yang mengikat pikiran dan emosi.

Menyesali sesuatu yang sudah berlalu hanya akan memupuk rasa bersalah dan menyedot energi emosional.

Orang yang bahagia mampu berdamai dengan kesalahan, kegagalan, atau kehilangan sesuatu yang berharga di masa lalu. Dia tidak menghapus kenangan, tidak mecela, tidak menyesali tetapi melihatnya sebagai pelajaran berharga.

Seperti pepatah bijak,

“Pengalaman adalah guru terbaik”.

Dia memandang masa lalu sebagai fondasi yang memperkuat dan langkah  menjadikanya lebih dewasa menuju masa depan gemilang.

2. Tidak Mengkhawatirkan Masa Depan

Masa depan sering kali menjadi sumber kekhawatiran. Ketidakpastian mengenai apa yang akan terjadi dapat membuat banyak orang terjebak dalam kecemasan.

Namun, orang yang bahagia memilih untuk tidak membebani pikirannya dengan skenario yang belum tentu terjadi.

Mereka percaya bahwa masa depan adalah hasil dari tindakan hari ini, sehingga energi mereka diarahkan pada apa yang bisa dikendalikan untuk berperilaku baik.

Dengan keyakinan dan optimisme, mereka menjalani kehidupan tanpa dibayangi oleh ketakutan akan kemungkinan buruk.

3. Mampu Menikmati Hari Ini

Kebahagiaan sejati hadir ketika seseorang mampu hidup di masa kini. Orang yang bahagia sepenuhnya sadar akan kehadiran momen sekarang, menghargai apa yang dimiliki, dan menikmati hal-hal sederhana dalam kehidupan.

Baca Juga:  Ratusan Demonstran Padati Parlemen Inggris, Tuntut Hentikan Operasi Militer AS-Israel terhadap Iran

Mereka tidak terjebak dalam angan-angan masa depan atau terbelenggu oleh bayangan masa lalu.

Dalam keseharian, menikmati secangkir kopi hangat (apalagi kopi-nya jenis Arabika Manglayang), meresapi keindahan langit senja, atau berbincang dengan orang tercinta yang selalu setia membersamai perjalanan hidup adalah bentuk nyata dari kebahagiaan.

Dia memahami bahwa momen saat ini adalah satu-satunya realitas yang sepenuhnya dapat mereka nikmati.

Perspektif Filosofis dan Spiritual

Pandangan ini memiliki akar yang mendalam dalam tradisi filsafat dan spiritualitas. Stoikisme, misalnya, mengajarkan untuk fokus pada hal-hal yang berada dalam kendali kita dan melepaskan yang di luar kendali.

Dia mempunyai konsep “Dikotomi Kendali”. Ada kendali eksternal dan kendali internal. Jika sesuatu yang membuat kita terluka datangnya dari pihak luar (eksternal), maka kita kendalikan diri kita (internal) yang ada dalam jangkauan kita.

Dalam Islam, konsep qana’ah mengajarkan rasa cukup dan syukur atas apa yang dimiliki saat ini.

Dalam psikologi modern, konsep mindfulness atau kesadaran penuh juga menekankan pentingnya hidup di masa kini sebagai kunci kebahagiaan.

Implementasi dalam Kehidupan

Menghidupkan tiga ciri kebahagiaan ini dalam kehidupan sehari-hari membutuhkan latihan dan kesadaran.

Pertama, belajar menerima masa lalu dengan penuh keikhlasan, termasuk kesalahan dan kekurangan diri sendiri.

Kedua, menghadapi masa depan dengan perencanaan yang realistis tanpa berlebihan, serta mengingat bahwa banyak hal berada di luar kendali kita.

Pamungkas, melatih diri untuk hadir sepenuhnya dalam momen saat ini, seperti dengan menghargai kebersamaan, memperhatikan secara detail hal kecil dan sederhana, serta bersyukur atas anugerah yang ada.

Mukhatimah

Kebahagiaan bukanlah tujuan yang jauh, melainkan perjalanan yang terjadi dalam keseharian. Dengan tidak menyesali masa lalu, tidak mengkhawatirkan masa depan, dan mampu menikmati hari ini, kita membuka pintu menuju kehidupan yang lebih damai dan bermakna.

Baca Juga:  "Semua Pulang Pada Ibu, Tapi Ibu Pulang Pada Siapa?"

Pesan dari Fahruddin Faiz adalah sebagai pengingat berharga bahwa kebahagiaan sejati sesungguhnya ada dalam kendali kita, sepanjang kita mampu menjalani hidup dengan kesadaran penuh dan hati yang lapang. Wallahu’alam.

Cag!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *