Menjaga Peradaban Indonesia: Refleksi 4 Pilar Kebangsaan dari Muhammad Hoerudin Amin

Membangun peradaban Indonesia: Refleksi 4 Pilar dalam Mukernas II Himpunan Mahasiswi PERSIS
Muhammad Hoerudin Amin tengah orasi kebangsaan dalam acara pembukaan Mukernas II Pimpinan Pusat Himi PERSIS

 

Jakarta, DARAS.ID – Gedung Nusantara DPR/MPR RI pagi jelang siang tadi, 6 Pebruari 2025, menjadi saksi perhelatan Musyawarah Kerja Nasional II PP Himpunan Mahasiswi PERSIS yang dihadiri oleh ratusan kader dari berbagai wilayah di Indonesia.

Acara ini menjadi momentum strategis dalam membangun wawasan kebangsaan generasi muda Muslimah, dengan menghadirkan tokoh-tokoh penting, termasuk Muhammad Hoerudin Amin, S.Ag., M.H., Sekretaris Fraksi PAN MPR RI dan anggota DPR RI Komisi X, yang juga mengisi sesi 4 Pilar MPR RI.

Acara ini dihadiri oleh 350 peserta dari berbagai daerah, dengan kehadiran tokoh-tokoh penting seperti:

  • Prof. Atip Latipul Hayat, S.H., LL.M., Ph.D. (Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah)
  • Muhammad Hoerudin Amin, S.Ag., M.H. (Sekretaris Fraksi PAN MPR RI & Anggota DPR RI Komisi X)
  • Ketua Pimpinan Pusat Persis, Ketua Badan Otonom Persis, dan Ketua Lembaga Persis
  • Ketua PW Persis Jakarta beserta Ketua Otonom Persis
  • Perwakilan kader Himi PERSIS dari berbagai Pimpinan Wilayah se-Indonesia.

Sebagai narasumber utama dalam Mukernas ini, selain Muhammad Hoerudin Amin, hadir pula Prof. Dr. Hj. Amany Lubis, Lc., M.A., yang pernah menjabat sebagai Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta periode 2019-2023.

Jejak Sejarah: Dari Volksraad ke DPR/MPR RI

Dalam pemaparannya, Muhammad Hoerudin Amin mengulas sejarah lembaga legislatif di Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa DPR/MPR RI merupakan perkembangan dari Volksraad, lembaga yang dahulu berfungsi sebagai penasihat Gubernur Hindia Belanda.

“Dari lembaga yang hanya memberi saran, kini kita memiliki DPR/MPR yang berperan menentukan arah kebijakan bangsa,” ungkapnya.

Indonesia Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Hoerudin menyoroti posisi ideologi negara yang khas. “Indonesia bukan negara agama, tetapi juga bukan negara sekuler. Para pendiri bangsa telah menetapkan Pancasila sebagai Philosophische Grondslag sekaligus Staatsfundamentalnorm,” tegasnya.

Baca Juga:  Pelantikan dan Raker CMB 2025–2030 Tegaskan Evaluasi Dakwah dan Peran Peradaban

Pancasila, menurutnya, menjadi jalan tengah yang mengharmoniskan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan.

Sinergi Agama, Ilmu, dan Kekuasaan dalam Membangun Peradaban

Dalam pemaparan terakhir, Hoerudin menekankan bahwa membangun peradaban bangsa bukan hanya tugas politisi, aristokrasi, atau penguasa semata.

“Agama, ilmu pengetahuan, dan kekuasaan harus bersinergi. Peradaban besar lahir dari kolaborasi, bukan sekadar dominasi satu elemen saja,” jelasnya.

Ia mendorong para mahasiswi yang hadir untuk aktif dalam berbagai bidang dan tidak membatasi peran mereka hanya di satu sektor.

“Kita perlu ilmuwan, ulama, dan pemimpin yang memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat. Indonesia butuh pemuda-pemudi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki visi peradaban,” tegasnya.

Acara ini menjadi pengingat bahwa generasi muda, khususnya para mahasiswi PERSIS, memiliki tanggung jawab besar dalam meneruskan estafet kepemimpinan bangsa.

Dengan memahami sejarah, memperkuat ideologi Pancasila, dan membangun sinergi lintas sektor, peradaban Indonesia dapat terus berkembang tanpa kehilangan jati dirinya.

Mukernas II PP Himpunan Mahasiswi PERSIS ini bukan sekadar forum internal, tetapi juga arena pembentukan wawasan kebangsaan yang lebih luas.

Di tengah tantangan zaman, pemahaman tentang 4 Pilar MPR RI menjadi kunci dalam menjaga dan mengembangkan Indonesia ke depan.

(dinur)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *