Website Berita dan Opini
Indeks

Jokowi ke Vatikan: Ziarah Zaman Baru atau Ziarah Balas Dendam?

Oleh Nurdin Qusyaeri

Politik Indonesia memang seperti rendang basi: aromanya kuat, rasanya tajam, tapi bikin nagih. Kali ini kita disuguhkan drama internasional: Presiden Prabowo Subianto mengutus delegasi untuk menghadiri pemakaman Paus Fransiskus di Vatikan, dan siapa yang dikirim? Bukan Wapres Gibran. Bukan Menlu. Tapi…

Joko Widodo. Yes. Sang mantan presiden.

Dan jangan salah, beliau tak sendiri. Dalam rombongan ada:

Thomas Djiwandono, Wakil Menteri Keuangan yang namanya lebih sering dibaca daripada dikenali mukanya.

Natalius Pigai, mantan Komisioner HAM yang sekarang menjabat Menteri HAM (plot twist!).

Ignasius Jonan, mantan Menteri Perhubungan dan ESDM, sekarang jadi ketua panitia penyambutan Paus (posisi ini lebih misterius daripada jabatan di DPR).

Ini delegasi negara atau daftar karakter film “Avengers: Multiverse Nusantara”?

1. Jokowi ke Roma: Balas Dendam Estetik?

Kita harus akui, mengutus Jokowi ke Vatikan ini semacam plot twist yang cuma bisa lahir dari republik penuh kejutan seperti Indonesia. Bayangkan, pria yang sepuluh tahun duduk di singgasana istana, kini berangkat ke negeri Paus membawa bendera yang bukan lagi di bawah komandonya.

Apakah ini cara Prabowo bilang, “Bro, elo masih gue hormati kok. Tapi jangan banyak gaya ya.”

Atau justru, “Gue kasih elo panggung, biar lo sibuk, dan Gibran bisa dapet spotlight lokal dulu.”

Apapun itu, Jokowi terlihat seperti protagonis dalam film Pixar: “From Istana to Vatikan: Perjalanan Mantan yang Tak Pernah Usai.”

2. Thomas, Pigai, dan Jonan: Delegasi Anti-Mainstream

Ini bukan kabinet, ini bukan perwakilan protokoler, ini… dream team penuh misteri.

Thomas Djiwandono, keponakan Pak Prabowo. Ya, ini semacam family business, bro.

Natalius Pigai, yang dulunya suka bersuara keras soal keadilan, kini pegang jabatan Menteri HAM. Ini plot-nya kayak aktivis yang masuk ke film James Bond.

Baca Juga:  Mengurai Secara Spesifik Kebijakan Sang Presiden Prabowo Subianto

Ignasius Jonan, entah sejak kapan beliau jadi “panitia penyambutan Paus”, tapi satu hal pasti: ini jabatan yang bahkan netizen aja baru dengar kemarin sore.

3. PDIP: Antara Nyinyir dan Nyeri

PDIP, yang seperti mantan pacar yang belum bisa move on, langsung nyeletuk:

“Kenapa bukan Wapres yang diutus? Emangnya Gibran nggak cukup cakep buat ke Roma?”

PDIP ibarat emak-emak arisan yang merasa tersinggung karena nggak diajak ke nikahan tetangga padahal udah beli daster baru. Tapi dalam dunia politik, ini bukan cuma soal baper, ini soal sinyal. PDIP membaca gestur itu sebagai: “Prabowo sedang membangun narasi sendiri.”

Dan ya, wak… gesture politik itu lebih rumit daripada kode-kode gebetan.

 

4. Pamungkas: Diplomasi, Duka, dan Drama Dewa 19

Apakah ini bentuk penghormatan terhadap gereja Katolik dan Paus Fransiskus? Ya.

Apakah ini juga panggung politik bertabur simbol? Oh, jelas.

Apakah kita tahu pasti motifnya? Tentu tidak, karena politik Indonesia adalah drama tebak-tebakan nasional.

Yang jelas, yang berangkat ke Vatikan bukan orang sembarangan, tapi juga bukan orang yang biasanya kita bayangkan jadi “duta duka cita negara”. Ini seperti kirim duta budaya tapi yang datang rapper, dalang, dan selebgram. Tapi ya sudahlah, ini Indonesia—negara dengan seribu tafsir dan sejuta alasan.

Kalau Paus bisa lihat dari atas sana, mungkin beliau juga geleng-geleng dan bilang:

“Ini delegasi dari Indonesia kok kayak barisan karakter dalam novel absurd… tapi saya suka.”

Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *