Raja Emas vs Raja Getah

Raja Emas vs Raja Getah
Foto dibuat nenk meta

 

Nurdin Qusyaeri, DARAS.ID

Pemimpin sejati itu bukan yang pidato di podium ber-AC plus es batu, kayak lagi promo kulkas baru. Bukan pula yang senyum-senyum foto di karpet merah sambil dikerubungi buzzer bayaran yang tepuk tangannya kenceng kayak baru dapet giveaway iPhone.

Pemimpin beneran itu muncul pas genting. Pas musuh nyerobot kayak tetangga rebutan lahan parkir, pas rakyat gemetaran kayak kucing kehujanan, di situlah dia nongol – tanpa bodyguard berlebihan, tanpa jargon-jargon keren ala iklan kopi. Cuma modal nyali segede gajah dan cinta tanah air sehangat Indomie rebus tengah malam.

Sementara si Raja Palsu…

Dia mah jago hide and seek profesional. Bersembunyi di balik gorden kekuasaan yang bordirnya emas 24 karat, pake topeng “bijaksana” hasil filter Instagram. Dalam hati? Deg-degan kayak anak kos kejar deadline.

Mereka membangun istana dari janji-janji keren kayak “Listrik Murah!” atau “Internet Ngebut!”, yang ujung-ujungnya ngendon di awan bersama unicorn. Mereka bukan pemimpin, mereka cuma hologram yang pengen dianggep manusia beneran.

Alam tuh influencer paling jujur, bro!

Harimau jaga teritori kayak jagoan gangster. Burung pipit sekalipun bakal “tarik muka” demi sarangnya. Tapi manusia, sang “CEO Planet Bumi”, sok sibuk ghosting titah langit.

Padahal, hujan yang keliatan lembut kayak adegan drama Korea bisa jadi tsunami pas bersatu. Lidi-lidi rapuh? Kalau kompak, bisa jadi sapu raksasa yang “ngepel” sampah kekuasaan korup kayak lapak rongsokan!

Takut, ragu, minder kayak belum belajar materi ujian – itulah virus yang bikin raksasa sekalipun ambruk kayak domino. Tapi keberanian kolektif? Itu kekuatan yang bisa jungkirbalikkan tiran segede gaban.

Sejarah udah kasih tahu: bukan si singa jambul lebat yang selalu menang, tapi semut-semut yang rapat RT-nya solid!

Baca Juga:  MEP School, Melahirkan Generasi Rabbani: Sebuah Tonggak Sejarah Pendidikan Islam Modern

Si Raja Getah lagi meeting sama Raja Emas.

Satu duduk di tahta emas, tapi sepi dari comment positif rakyat. Satunya mungkin cuma duduk di balai warga, tapi langkahnya di-“like” sama alam semesta.

Raja Palsu ngatur pake teror kayak debt collector, dibenci diam-diam kayak mantan yang baper. Raja Asli? Memimpin pake nilai-nilai, dicintai sama generasi yang belum lahir – kayak influencer yang kontennya timeless, bukan cuma ngejar views musiman.

Tahta Raja Palsu itu kayak promo diskon palsu – gak bisa diwarisin! Soalnya dia cuma nanem benih ketakutan, bukan pohon kebajikan.

Sekelilingnya? Cuma penjilat yang loyalitasnya sekuat karet gelang bekas bungkus gorengan. Setia mereka cuma sebesar nominal di slip gaji, selemah kontrak kerja magang.

Tapi Raja Sejati…

Dia hidup dalam dongeng sebelum tidur yang dibisikin emak ke anaknya. Dia masih berdiri walau udah jadi legend di Wikipedia, karena nilainya mengalir kayak WiFi gratis di nadi bangsa.

Dia mewarisin nyali, bukan jabatan kayak warisan kartu kredit. Dia nanem moral, bukan kekuasaan kayak tanaman palsu. Dia paham, dunia ini cuma panggung open mic singkat sebelum konser abadi.

Dan kehidupan dunia ini cuma kayak konten TikTok yang viral bentar terus hilang… – QS. Al-An’am: 32, (terjemahan versi anak muda yang buru-buru)

Soalnya di ujung scroll kehidupan ini, semua raja bakal direct message Sang Maha Raja.

Di situ, gada pake ngejar verified badge.  Gada mahkota, cuma screenshoot amal kita. Gada podium, cuma livestream pertanggungjawaban.

Jadi Pilih Jadi Raja Macam Apa Mang?

Yang dikenang kayak meme abadi di hati rakyat…

Atau cuma penguasa yang dilupain pas kulkasnya rusak?

Baca Juga:  Kisah Abu Muslim Al-Khaulani menasihati Mu’awiyah bin Abi Sufyan tentang amanah kepemimpinan. Teladan keberanian, keadilan, dan keikhlasan.

Wallahu ‘alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *