Puasa dan Komunikasi Rasa: Merajut Empati di Era Dingin

Komunikasi Rasa: Merajut Empati di Era Dingin
Ilustrasi Meta AI

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Hari kedua puluh tiga. Di era yang serba instan ini, kita merasa paling terhubung, tapi juga paling kesepian. Ribuan teman di media sosial, tapi tak satu pun yang benar-benar tahu apa yang kita rasakan. Ratusan pesan masuk setiap hari, tapi tak ada yang benar-benar menyentuh hati.

Komunikasi modern telah menjadi transaksi dingin. Kita bertukar informasi, tapi tak bertukar perasaan. Kita mengirim pesan, tapi tak mengirim kehangatan. Kita berbicara dengan banyak orang, tapi tak lagi bercakap dengan hati.

Di sinilah puasa hadir menawarkan sesuatu yang hilang: komunikasi rasa.

Bukan komunikasi yang mengandalkan kata-kata, tapi komunikasi yang lahir dari pengalaman batin yang sama.

Ketika kita merasakan lapar, kita bisa merasakan apa yang dirasakan mereka yang setiap hari kelaparan.

Ketika kita menahan haus, kita bisa membayangkan penderitaan mereka yang tinggal di daerah kering.

Rasa yang sama ini menjadi jembatan yang menghubungkan hati yang selama ini terpisah oleh jarak dan status sosial.

Prof. Dr. Abudin Nata dari UIN Jakarta menjelaskan bahwa rasa lapar dan haus yang diderita orang berpuasa secara terus menerus diharapkan dapat menimbulkan rasa simpati, empati, dan iba terhadap orang yang dalam kehidupan sehari-harinya sering kelaparan.

Inilah dimensi sosial yang diharapkan terbentuk dari puasa .

Landasan: Puasa untuk Membangun Rasa

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa takwa yang menjadi tujuan puasa bukan hanya hubungan vertikal dengan Allah, tapi juga hubungan horizontal dengan sesama. Orang yang bertakwa adalah orang yang peka terhadap penderitaan orang lain.

Imam Al-Jurjawi dalam kitabnya Hikmah al-Tasyri’ wa Falsafatuhu menjelaskan bahwa puasa memiliki hikmah sosial yang sangat dalam. Ketika orang kaya merasakan lapar, ia akan tergerak untuk berbagi dengan orang miskin. Ketika orang berada merasakan susahnya menahan dahaga, ia akan lebih mudah berempati pada mereka yang setiap hari kekurangan air bersih.

Sabda Rasulullah SAW:

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya (berbuat sesuai kebohongan), serta perbuatan bodoh (yang menyakiti), maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Hadis ini mengajarkan bahwa puasa yang benar harus berdampak pada perilaku sosial. Jika puasa tidak membuat kita lebih peka, lebih santun, lebih peduli, maka puasa kita hanya menghasilkan lapar dan haus belaka.

Telaah Filosofis: Merasakan untuk Memahami

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa hati manusia itu seperti cermin. Debu-debu dunia bisa menutupinya sehingga ia tidak lagi bisa memantulkan cahaya kebenaran dan tidak peka terhadap penderitaan orang lain. Puasa, dengan laparnya, adalah kain yang membersihkan cermin itu. Semakin bersih cermin, semakin jelas kita bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain.

Al-Ghazali membagi puasa dalam tiga tingkatan. Puasa awam hanya menahan lapar dan haus. Puasa khusus menahan seluruh anggota tubuh dari dosa. Dan puasa khususul khusus adalah puasa hati dari segala keinginan rendah, termasuk keegoisan yang membuat kita tidak peduli pada orang lain.

Dr. Maryam Rahim dari Universitas Negeri Gorontalo menjelaskan bahwa ibadah puasa mengajarkan tentang empati terhadap penderitaan orang-orang yang hidup dalam kekurangan, orang-orang yang terkadang menjalani hari-harinya dalam kondisi lapar.

Puasa melatih menahan diri dari makan dan minum, membuat seseorang merasakan sedikit dari penderitaan mereka yang hidup dalam kekurangan. Hal ini membuka mata dan hati untuk lebih memahami keadaan sesama yang kurang beruntung .

Lebih jauh, puasa melatih diri untuk tidak hidup bermewah-mewahan yang terkadang menimbulkan kecemburuan, bahkan perasaan tidak berdaya pada orang-orang yang tidak mampu.

Puasa juga melatih umat Islam senantiasa terdorong untuk lebih peka terhadap kesulitan yang dialami oleh sesama, sehingga tercipta semangat tolong-menolong dan solidaritas .

Dr. Faqihuddin Abdul Kodir dalam perspektif mubadalah menjelaskan bahwa puasa diharapkan dapat mewujudkan orang-orang yang bertakwa, yakni yang mempunyai komitmen keimanan yang kuat, mampu menahan diri, dan memiliki daya tahan tangguh, baik secara fisik, psikis maupun spiritual.

Dengan begitu, orang yang berpuasa diharapkan akan menghadirkan segala kebaikan dan menghindarkan segala keburukan, menjadi pribadi yang penuh kasih sayang bagi semua manusia dan semesta (rahmatan lil ‘alamin) .

Komunikasi Rasa dalam Praktik

Baca Juga:  Zakat Fitrah: Pajak Spiritual Melawan Kapitalisme Rakus

Meja Makan sebagai Ruang Sakral

Di era digital ini, fenomena phubbing (phone snubbing) telah merusak komunikasi keluarga. Seringkali, saat azan berkumandang, tangan kanan memegang kurma, tangan kiri memegang smartphone. Mata tidak menatap wajah ibu, ayah, atau pasangan, melainkan menatap layar .

Padahal, momen berbuka puasa adalah saat paling tepat untuk membangun komunikasi rasa.

UIN Alauddin Makassar dalam publikasinya menekankan pentingnya menjadikan meja makan sebagai “Ka’bah” di dalam rumah tangga—tempat semua anggota keluarga berkiblat pada kasih sayang yang sama.

Jika meja makan dingin karena layar digital, maka fondasi spiritual keluarga akan rapuh.

Beberapa praktik yang bisa dilakukan:

  1. Teknik “Phone Stack” – Tumpuk semua HP di tengah meja secara terbalik. Siapa yang mengambil HP duluan sebelum selesai makan dan berdoa, dia yang bertugas mencuci piring besok .
  2. Satu Cerita, Satu Syukur – Setiap orang di meja makan wajib menceritakan satu hal baik yang terjadi hari ini tanpa gangguan gadget .
  3. Saling Melayani – Alih-alih mengambil sendiri, coba ayah mengambilkan nasi untuk ibu, atau anak menuangkan air untuk orang tua. Interaksi fisik sederhana ini memecah kekakuan digital.

Komunikasi Nonverbal yang Bermakna

Di balik amalan Ramadan yang terlihat jelas, terdapat bahasa tubuh yang sering kali lebih kuat dalam menyampaikan pesan.

Komunikasi nonverbal, yang meliputi ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan bahasa tubuh lainnya, memiliki peran penting dalam memperdalam makna Ramadan .

Ketika kita berpuasa dan beribadah, ekspresi wajah kita dapat mencerminkan rasa ketenangan, kesabaran, dan keikhlasan. Ekspresi wajah yang tenang dan penuh kasih sayang dapat mengkomunikasikan rasa damai dan kebahagiaan dalam menjalani ibadah Ramadan, yang pada gilirannya dapat memengaruhi suasana hati dan semangat orang lain di sekitar kita .

Kontak mata yang tulus dan penuh perhatian dapat menunjukkan rasa kehadiran dan kesungguhan kita dalam mendengarkan dan berkomunikasi dengan sesama.

Begitu juga, sentuhan tulus dan hangat dapat menyampaikan rasa dukungan dan kasih sayang kepada orang lain, yang sangat penting dalam memperkuat hubungan sesama manusia di bulan suci ini .

Mengelola “Hanger” Menjadi Empati

Secara biologis, saat lapar (menjelang berbuka), emosi manusia cenderung tidak stabil. Fenomena hangry (hungry + angry) adalah nyata. Johns Hopkins Aramco Healthcare menjelaskan bahwa saat puasa, kadar glukosa darah menurun seiring berjalannya hari. Otak sangat bergantung pada glukosa untuk energi, dan kadar yang lebih rendah dapat mengganggu kemampuan mengatur emosi .

Dr. Nursyirwan dari RRI menjelaskan bahwa perasaan lapar saat berpuasa adalah salah satu ujian, sehingga orang-orang yang berhasil mengendalikan emosinya adalah mereka yang memahami hakikat puasa itu sendiri .

Puasa mengajarkan manusia untuk tetap sabar dan tidak mudah terpancing emosi meskipun dalam keadaan lapar. Dengan berpuasa, seseorang dilatih untuk mengendalikan hawa nafsu, memperbanyak kesabaran, dan meningkatkan kesadaran diri terhadap sikap dan perkataannya .

Jika terjadi gesekan di meja makan—misalnya air tumpah atau makanan belum siap—jadikan itu latihan kesabaran. Gunakan rumus “Tahan 5 Detik”. Sebelum memarahi anak atau pasangan, tarik napas dan ingat bahwa ini adalah menit-menit paling berkah. Sabar saat lapar adalah level tertinggi dari pengendalian diri .

Perspektif Psikologi bahwa Puasa Membangun Regulasi Emosi

Dr. Diana Rahmasari, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya, menjelaskan bahwa puasa dapat dipahami sebagai latihan self-regulation atau regulasi diri yang komprehensif. Melalui ibadah ini, seseorang belajar secara sadar untuk menunda dorongan, mengelola impuls, serta mengarahkan perilaku sesuai dengan nilai dan tujuan luhur yang diyakini .

Dalam perspektif psikologi, kemampuan mengendalikan lapar dan emosi ini berkaitan erat dengan fungsi eksekutif otak yang melatih otot kontrol diri seseorang agar semakin kuat dan stabil.

Kematangan kontrol diri tersebut beririsan langsung dengan kemampuan emotional regulation, yakni kecakapan dalam mengelola perasaan agar tetap adaptif meski berada di bawah tekanan .

Puasa menjadi ruang latihan yang sangat baik untuk meningkatkan distress tolerance, yaitu kemampuan bertahan dalam situasi tidak nyaman tanpa bereaksi secara berlebihan.

Di tengah rutinitas harian yang sering kali penuh distraksi, Ramadan mendorong munculnya mindfulness atau kesadaran penuh yang memungkinkan individu merespons stres secara lebih proporsional melalui proses refleksi diri.

Baca Juga:  Elit Sibuk Takbir, Rakyat Sibuk Tangis: Renungan di Penghujung Ramadhan

Secara lebih luas, Ramadan juga meningkatkan kesejahteraan psikologis melalui penguatan relasi sosial. Kegiatan berbagi dan ibadah bersama yang intens selama bulan suci ini memperkokoh sense of belonging atau rasa keterhubungan sosial, yang dalam teori psikologi berperan vital sebagai penekan tingkat stres .

Menariknya, manfaat ini juga didukung oleh bukti ilmiah dari kacamata neuroscience. Puasa memicu neuroplastisitas, kemampuan otak membentuk koneksi baru, serta neurogenesis.

Proses ini memperkuat sinapsis atau koneksi antarsel saraf yang berdampak pada peningkatan konsentrasi dan ketangguhan otak dalam beradaptasi terhadap tekanan .

Komunikasi Rasa: Dari Lapar ke Cinta

Pada akhirnya, komunikasi rasa adalah seni menyampaikan pesan dengan hati. Ia tidak selalu membutuhkan kata-kata indah atau retorika memukau. Ia cukup hadir dalam keheningan yang penuh makna, dalam tatapan mata yang tulus, dalam senyuman yang ikhlas, dalam uluran tangan yang hangat.

Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi -nya berkata:

“Bukan hanya dengan kata cinta bisa terucap,

Tapi juga dengan rasa yang sama, hati tersambung.

Saat kau lapar dan Aku lapar, Maka di situ pertemuan sejati terjadi.”

Puasa mengajarkan kita untuk memiliki rasa yang sama: rasa lapar, rasa haus, rasa lelah. Dan dari kesamaan rasa ini, lahir empati. Dari empati, lahir kepedulian. Dari kepedulian, lahir cinta. Dan dari cinta, lahir komunikasi yang sesungguhnya.

Prof. Abudin Nata mengingatkan bahwa kesuksesan dan kebahagiaan hidup seseorang 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosional. Sementara kecerdasan intelektual hanya menyumbang 20 persen saja. Memiliki kecerdasan emosi menjadi sangat penting bagi seorang Muslim .

Ciri keberhasilan orang yang berpuasa adalah meningkatnya ketakwaan pada dirinya. Orang yang bertakwa akan mampu mengendalikan amarah. Emosinya akan tetap stabil, tidak akan mudah meledak. Tetapi ketika emosi tidak bisa dikendalikan, maka hubungan dengan orang lain menjadi renggang. Akibatnya rezeki menjadi seret. Padahal, rezeki itu ada lewat sesama, yaitu dengan silaturahim .

Kritik untuk Komunikasi Dingin

Seperti biasa, Abu Nawas, dengan caranya yang khas, pernah mengkritik orang-orang yang sibuk dengan gadget hingga lupa pada keluarga.

Suatu malam di bulan Ramadhan, ia melihat sebuah keluarga sedang berbuka puasa. Ayah sibuk dengan ponsel, ibu sibuk dengan tablet, anak-anak sibuk dengan game online. Mereka duduk di meja yang sama, tapi tak satu pun berbicara.

Abu Nawas mendekat dan bertanya, “Wahai Tuan, ini keluarga atau warnet?”

Ayah itu tersentak. “Maksudmu, Abu Nawas?”

“Maksudku,” kata Abu Nawas, “di warnet, orang-orang duduk bersama tapi masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri. Sama persis dengan keadaan keluarga Tuan sekarang.”

Ayah itu terdiam. Abu Nawas melanjutkan,

“Tahukah Tuan, di akhirat nanti, setiap gigitan makanan yang Tuan makan bersama keluarga akan menjadi saksi. Mereka akan bertanya: ‘Di saat kami dihidangkan, apakah Tuan menikmati kami bersama keluarga, atau sibuk dengan dunia maya?'”

Ibu itu menunduk. Abu Nawas tersenyum,

“Ramadhan ini adalah latihan. Latihan untuk hadir sepenuhnya. Hadir untuk Allah, dan hadir untuk keluarga. Jangan sia-siakan dengan kehadiran semu.”

Refleksi

Hari kedua puluh tiga. Hanya tinggal beberapa hari lagi Ramadhan akan pergi. Coba tanyakan pada diri sendiri: sudahkah kita membangun komunikasi rasa dengan orang-orang terdekat? Sudahkah kita hadir sepenuhnya saat berbuka bersama keluarga? Sudahkah kita merasakan apa yang dirasakan saudara-saudara kita yang kekurangan?

Puasa mengajarkan kita untuk tidak hanya berbicara, tapi juga merasakan. Tidak hanya menyampaikan pesan, tapi juga menyentuh hati. Tidak hanya eksis di dunia maya, tapi juga hadir di dunia nyata.

Mari jadikan sisa Ramadhan ini sebagai momentum untuk membangun komunikasi rasa. Matikan gadget saat berbuka. Tatap mata anggota keluarga. Tanyakan kabar mereka dengan tulus. Dengarkan cerita mereka dengan penuh perhatian. Rasakan apa yang mereka rasakan.

Karena pada akhirnya, yang akan kita ingat dari Ramadhan bukanlah berapa banyak like yang kita dapat, tapi berapa banyak cinta yang kita beri dan terima dari orang-orang terdekat.

Pesan: Komunikasi yang paling indah bukanlah yang paling fasih, tapi yang paling tulus. Puasa mengajarkan kita ketulusan itu. Maka:

“Sebelum berbicara, rasakan dulu. Sebelum mengetik, hayati dulu. Karena hanya dengan rasa yang sama, hati bisa tersambung. Selamat merajut empati di era dingin.”

Wallahu a’lam bish-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *