Elit Sibuk Takbir, Rakyat Sibuk Tangis: Renungan di Penghujung Ramadhan

Elit Sibuk Takbir, Rakyat Sibuk Tangis: Renungan di Penghujung Ramadhan
Ilustrasi gambar dibuat Meta AI

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Hari kedua puluh lima. Lima malam lagi kita akan bertakbir. Di kota-kota, mal-mal mulai dipenuhi orang berbelanja baju baru. Di meja makan, hidangan berbuka semakin meriah.

Tapi di sudut lain negeri ini, ada saudara-saudara kita yang harus menjalani puasa dengan perut yang memang sudah terbiasa lapar—bukan karena puasa, tapi karena kemiskinan dan bencana.

Ramadhan tahun ini menjadi saksi bisu ironi yang tajam. Di satu sisi, kita sibuk dengan euforia ibadah dan konsumsi.

Di sisi lain, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban meninggal akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Sumatera akhir tahun 2025 mencapai 1.204 jiwa dan 140 orang masih hilang di 53 kabupaten/kota di provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat .

Wilayah seperti Kabupaten Agam, Aceh Utara, dan Tapanuli Tengah menjadi area dengan korban terbanyak. Bencana ini juga merendam dan merusak 264.105 unit rumah .

Di Aceh, kondisi pengungsian memprihatinkan dengan ribuan kasus penyakit pasca-banjir: 19.557 kasus ISPA, 14.978 kasus penyakit kulit, dan 3.080 kasus diare .

Bayangkan mereka menjalani puasa di tenda pengungsian dengan kondisi kesehatan yang rentan.

Tapi bencana tidak berhenti di Sumatera. Pada 24 Januari 2026, tepat tiga bulan sebelum Ramadhan, tanah longsor dahsyat melanda Kampung Babakan, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

Hujan deras sejak siang hingga malam memicu longsor pada pukul 03.00 WIB, menimbun puluhan rumah dengan material lumpur dan tanah. Hingga awal Februari 2026, tercatat puluhan orang meninggal dunia, puluhan lainnya masih dalam pencarian, dan sekitar 48 unit rumah mengalami kerusakan berat.

Sebanyak 34 kepala keluarga atau 137 jiwa terpaksa mengungsi di aula dan teras Kantor Desa Pasirlangu.

Kementerian Sosial mencatat sepanjang Januari 2026 saja, terdapat 37 titik kejadian bencana di 16 provinsi yang berdampak pada 145.538 jiwa, dengan korban meninggal mencapai 50 jiwa dan 26.207 rumah rusak .

Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Mereka adalah saudara-saudara kita yang menjalani puasa dengan linangan air mata.

Tragedi di Bulan Suci: Dua Buah Labu Siam yang Merenggut Nyawa

Di tengah keprihatinan bencana, sebuah tragedi kemanusiaan terjadi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Pada Sabtu, 28 Februari 2026, sore hari menjelang berbuka puasa, seorang wanita paruh baya berinisial M (56 tahun) tepergok mengambil dua buah labu siam di lahan garapan milik seorang pria berinisial UA (40 tahun) .

Ketakutan karena aksinya diketahui, korban sempat melarikan diri ke rumahnya. Namun, UA mengejar korban hingga ke depan rumah dan melakukan penganiayaan secara brutal. Korban dipukul dan ditendang berulang kali menggunakan tangan kosong.

Berdasarkan pengakuan, korban mengambil labu siam tersebut untuk diolah menjadi bahan makanan berbuka puasa.

Meski sempat dilerai oleh saksi, serangan tersebut sudah terlanjur mengakibatkan luka parah di sekujur tubuh korban. Pasca-penganiayaan, kondisi kesehatan korban terus memburuk dan sering mengalami muntah-muntah.

Namun, karena keterbatasan biaya, keluarga tidak mampu membawa korban ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis profesional .

Nahas, pada Senin, 2 Maret 2026 sekitar pukul 11.30 WIB, korban mengembuskan napas terakhir di rumahnya. Hasil visum menunjukkan luka serius di sekujur tubuh.

Subhanallah. Dua buah labu siam—yang mungkin bernilai tak lebih dari Rp10.000—telah merenggut nyawa manusia. Di bulan puasa, di saat kita berlomba berbagi takjil, ada saudara kita yang harus mati hanya karena ingin berbuka. Keluarganya bahkan tak mampu membawanya ke rumah sakit.

Bupati Cianjur, dr. Wahyu Ferdian, menginstruksikan jajarannya untuk lebih peka terhadap kondisi warga, terutama yang memiliki kerentanan ekonomi, agar bantuan sosial dapat tepat sasaran dan kejadian serupa tidak terulang kembali .

Ironi Rp10.000: Ketika Seorang Anak Kehilangan Harapan

Jika tragedi Cianjur menyayat hati, tragedi di Nusa Tenggara Timur (NTT) ini menghancurkan jiwa. Pada Kamis, 29 Januari 2026, seorang anak kelas IV SD berinisial YBS (10 tahun) di Kabupaten Ngada, NTT, ditemukan tewas gantung diri di kebun cengkih milik neneknya .

Motifnya? Keluarganya tak mampu membelikan buku dan pena seharga kurang dari Rp10.000 .

Korban diketahui tinggal bersama neneknya, sementara ibunya yang berstatus orang tua tunggal bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menghidupi lima orang anak . Keterbatasan ekonomi membuat keluarga tersebut kesulitan memenuhi kebutuhan dasar pendidikan.

Sebelum meninggal, YBS sempat menulis sepucuk surat perpisahan berbahasa Ngada kepada ibunya. Dalam surat itu, ia meminta sang ibu untuk merelakan kepergiannya, jangan menangis, mencari, atau merindukannya .

Amnesty International Indonesia menyebut tragedi ini sebagai “produk kemiskinan struktural” dan “tamparan keras bagi negara yang gagal dalam melindungi hak asasi manusia” . Direktur Eksekutif Amnesty Indonesia, Usman Hamid, menegaskan:

“Kematian YBS menunjukkan negara gagal dalam memastikan akses pendidikan bagi anak-anak miskin. Hak pendidikan itu tidak hanya biaya sekolah, melainkan juga peralatan belajar mengajar. Kegagalan untuk memenuhi hak itu akan berpengaruh pada psikologis anak, terlebih ketika berada dalam kemiskinan ekstrem.”

Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menambahkan bahwa kasus ini terjadi karena pengabaian atas amanah konstitusi soal pembiayaan pendidikan.

Baca Juga:  Rahasia Doa Lailatul Qadar: Membedah Makna Ampunan Tanpa Bekas di Malam Seribu Bulan

Pasal 31 UUD 1945, Pasal 34 ayat 2 UU Sisdiknas, dan Putusan Mahkamah Konstitusi secara eksplisit memerintahkan negara untuk membiayai pendidikan dasar tanpa pungutan .

Gubernur NTT, Melki Laka Lena, dengan jujur mengakui, “Ini adalah kegagalan sistem yang ada di pemerintah provinsi, Kabupaten Ngada sampai ke tingkat bawah, tentu dengan perangkat sistem yang lain. Pemda gagal mendeteksi untuk membantu kesulitan yang dialami oleh bocah kelas IV SD tersebut” .

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat sepanjang 2025 terdapat 26 kasus anak mengakhiri hidup, dan selama Januari 2026 saja sudah ada 3 kasus .

Faktor utamanya antara lain perundungan, pengasuhan, ekonomi, dan asmara . Indonesia tercatat sebagai negara dengan kasus anak bunuh diri tertinggi di Asia Tenggara .

Ironi Anggaran di Tengah Derita Rakyat

Tragedi NTT juga membuka ironi kebijakan anggaran negara. Saat seorang anak kehilangan nyawa karena keluarganya tak mampu membeli buku dan pena Rp10.000, pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk program lain:

Rp17 triliun untuk biaya keanggotaan Board of Peace (Dewan Perdamaian), Rp350 triliun untuk Makan Bergizi Gratis (MBG) , dan Rp400 triliun untuk Koperasi Merah Putih .

JPPI mengkritik adanya “kanibalisasi anggaran pendidikan” di mana dana yang seharusnya untuk kebutuhan dasar pendidikan justru dialihkan. Bahkan disebutkan bahwa 69% anggaran MBG bersumber dari dana pendidikan, mencapai Rp223 triliun atau sekitar 29% dari total anggaran pendidikan Rp769,1 triliun .

Menko Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar, menyebut kasus ini sebagai “cambuk keras” bagi semua pihak, dan menekankan pentingnya kepekaan sosial serta kehadiran negara dalam menjangkau masyarakat rentan .

Potensi zakat, infak, dan sedekah (ZIS) yang mencapai Rp238 triliun per tahun seharusnya bisa menjadi solusi. Namun, baru sekitar Rp8 triliun yang berhasil terhimpun. Pengelolaan ZIS yang lebih produktif diharapkan dapat membantu 23 juta penduduk miskin, termasuk 0,85% penduduk dalam kemiskinan ekstrem .

Landasan Dalil: Puasa dan Kepedulian Sosial

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)

Ayat ini mencakup perintah untuk berinfak, bersedekah, dan membantu sesama, terutama mereka yang tertimpa musibah. Membiarkan saudara kita kelaparan sementara kita berkecukupan adalah bentuk menjatuhkan diri dalam kebinasaan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad)

Dalam hadis lain yang sangat relevan dengan bulan Ramadhan, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا، كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٍ

“Barangsiapa yang memberi buka orang puasa, maka baginya pahala semisalnya tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun.” (HR. Tirmidzi)

Jika memberi makan satu orang puasa saja pahalanya begitu besar, bagaimana dengan memberi makan ribuan korban bencana yang berpuasa di pengungsian? Terlebih jika mereka adalah anak yatim, fakir miskin, atau mereka yang kehilangan segalanya akibat bencana.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengingatkan bahwa orang yang berpuasa namun tidak peduli pada orang lain, puasanya hanya menghasilkan lapar dan dahaga.

Sebab, esensi puasa adalah menumbuhkan empati dan kepedulian. Ketika kita merasakan lapar, kita seharusnya teringat pada mereka yang setiap hari merasakan lapar—bukan karena puasa, tapi karena kemiskinan.

Puasa Elit: Antara Kemewahan dan Kepedulian

Istilah “puasa elit” mungkin terdengar asing. Tapi inilah realitasnya: mereka yang hidup dalam kemewahan menjalani puasa dengan fasilitas serba ada. Kulkas penuh makanan. Dapur lengkap dengan segala perlengkapan. Menu sahur dan berbuka dipersiapkan dengan cermat. Sementara di luar pagar rumah mereka:

  • Ada ibu di Cianjur yang harus meregang nyawa hanya karena dua buah labu siam untuk berbuka
  • Ada anak SD di NTT yang kehilangan harapan dan mengakhiri hidupnya hanya karena uang Rp10.000 untuk membeli buku dan pena
  • Ada 106.000 pengungsi di Sumatera yang masih bertahan di tenda dengan segala keterbatasan
  • Ada puluhan keluarga di Cisarua yang kehilangan rumah dan harus berbuka di pengungsian.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah beriman kepadaku orang yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan di sampingnya, padahal ia mengetahuinya.” (HR. Thabrani)

Hadis ini adalah tamparan keras bagi kita yang hidup dalam kelimpahan namun abai pada saudara yang kekurangan. Apalagi jika saudara yang kekurangan itu adalah korban bencana yang kehilangan segalanya.

Baca Juga:  Pola Pikir Pemimpin Unggul: Antara Prestasi, Amanah, dan Ketundukan kepada Allah

Dari Rasa Lapar ke Aksi Nyata

Puasa mengajarkan kita merasakan lapar. Tapi rasa lapar itu tidak boleh berhenti di diri sendiri. Ia harus diubah menjadi aksi nyata.

Dr. Muhammad Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menegaskan bahwa tujuan puasa adalah membentuk pribadi bertakwa. Dan takwa itu bukan hanya hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama, terutama mereka yang lemah dan membutuhkan.

Apa yang bisa kita lakukan?

Pertama, perbanyak sedekah. Lembaga seperti Dompet Dhuafa, BAZNAS, BMH, Rumah Zakat, dan LAZISMU adalah mitra terpercaya.

Data BPS menunjukkan masih ada 24,06 juta penduduk miskin di Indonesia (8,57% dari total penduduk) .

Angka kemiskinan ekstrem masih 0,85%. Di NTT, angka kemiskinan mencapai 18,6% . Bantuan kita sangat berarti.

Kedua, jadilah relawan. Tidak semua orang bisa memberi uang, tapi hampir semua orang bisa memberi waktu dan tenaga. Bergabung dengan program-program kebencanaan adalah bentuk kepedulian mulia.

Ketiga, doakan mereka. Di setiap sujud, di setiap doa berbuka, jangan lupa untuk mendoakan saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Doa adalah senjata orang beriman.

Keempat, suarakan kepedulian. Gunakan media sosial untuk mengkampanyekan bantuan. Bantu sebarkan informasi program-program donasi terpercaya.

Kritik untuk Elit yang Lupa

Abu Nawas, dengan caranya yang khas, pernah mengomentari para pejabat yang sibuk dengan kemewahan di bulan puasa, sementara rakyat kecil kelaparan.

Suatu hari ia melihat seorang pejabat yang baru saja membeli mobil mewah. “Wahai Tuan,” kata Abu Nawas, “saya dengar Tuan baru saja membeli mobil baru. Berapa harganya?”

“Empat miliar, Abu Nawas,” jawab pejabat itu bangga.

“Subhanallah. Tuan tahu, dengan empat miliar itu, Tuan bisa memberi makan seratus ribu orang selama sebulan penuh. Atau membantu membangun kembali puluhan rumah yang hancur di Cisarua. Tapi Tuan memilih membeli mobil yang mungkin hanya Tuan gunakan beberapa jam sehari.”

Pejabat itu tersipu. Abu Nawas melanjutkan, “Di akhirat nanti, mobil itu tidak akan menolong Tuan. Tapi seratus ribu orang yang Tuan beri makan, mereka akan mendoakan Tuan. Puluhan keluarga yang Tuan bantu bangun rumahnya, mereka akan menjadi saksi kebaikan Tuan. Pilih mana?”

Ia menambahkan, “Tragedi Cianjur baru saja terjadi. Seorang ibu meninggal hanya karena dua labu siam. Sementara Tuan menghabiskan miliaran untuk mobil. Di NTT, seorang anak SD kehilangan nyawa hanya karena uang Rp10.000 untuk membeli buku dan pena. Di mana letak puasa Tuan? Di mana letak empati Tuan?”

Refleksi di Penghujung Ramadhan

Hari kedua puluh lima. Lima malam lagi kita akan bertakbir. Sebentar lagi kita akan merayakan kemenangan. Tapi pertanyaan yang harus kita jawab jujur: apakah kemenangan ini juga dirasakan oleh saudara-saudara kita yang menjadi korban bencana dan kemiskinan?

Mereka juga berpuasa. Mereka juga shalat malam. Mereka juga berdoa memohon ampunan. Tapi mereka melakukannya di tenda pengungsian, di tengah lumpur, dengan perut yang memang sudah terbiasa lapar. Mereka melakukannya dengan hati yang hancur karena kehilangan orang tercinta.

  • Keluarga korban di Cianjur masih berduka, kehilangan ibu hanya karena dua labu siam
  • Keluarga YBS di NTT masih menangisi kepergian anak yang putus asa karena uang Rp10.000
  • 106.000 pengungsi Sumatera masih berjuang memulihkan kehidupan di tengah keterbatasan
  • Warga Cisarua masih menanti kepastian nasib rumah mereka yang hancur

Tragedi-tragedi ini harus menjadi momentum bagi kita semua untuk lebih peka. Jangan sampai kemewahan kita membuat kita lupa pada mereka yang kekurangan. Jangan sampai kita hanya sibuk dengan ibadah ritual hingga lupa pada ibadah sosial.

Gubernur NTT Melki Laka Lena mengatakan, “Ini tamparan keras bagi kemanusiaan kita, tamparan keras bagi semua yang sudah kita kerjakan. Apa pun kisahnya, kita belum berhasil menjaga agar tidak ada nyawa yang meninggal sia-sia karena kondisi yang dialami”.

Maka, di sisa Ramadhan ini, mari kita jadikan puasa sebagai momentum untuk berbagi. Bukan hanya dengan mereka yang dekat secara geografis, tapi juga dengan mereka yang jauh namun sama-sama saudara seiman dan sebangsa.

Rasulullah SAW bersabda:

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *