Peresmian Student Center IAIPI Bandung: Dorong Dakwah Ekoteologi dan Gerakan Nyata Hadapi Krisis Iklim

Student Center IAIPI Bandung
Peresmian Student Center IAIPI Bandung (Foto: Acil)

Bandung, daras.id — Institut Agama Islam Persis resmi meresmikan Student Center yang berlokasi di kawasan kampus IAI Persis Bandung, Jalan Ciganitri No. 2, Cipagalo, Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Sabtu (16/5). Peresmian ini dirangkaikan dengan diskusi publik bertajuk “Dari Mimbar ke Gerakan: Dakwah Ekoteologi dan Krisis Iklim” serta saresehan mahasiswa dan alumni.

Kegiatan yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 15.00 WIB ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya MS Ka’ban, Muhammad Hoerudin Amin, dan M. Sulwan Kosasih, dengan partisipasi aktif mahasiswa serta pegiat akademik lainnya.

Komitmen Ekoteologi dan Tantangan Zaman

Dalam pemaparannya, M. Sulwan Kosasih menekankan pentingnya komitmen moral dalam menghadapi tantangan zaman. Ia mengajak seluruh peserta untuk menempatkan agama sebagai landasan utama dalam kehidupan, sementara teknologi diposisikan sebagai alat yang mempermudah, bukan menggantikan nilai-nilai dasar.

“Agama harus menjadi sisi pertama dalam orientasi hidup kita. Teknologi hanyalah fasilitas, bukan arah,” tegasnya.

Selain itu, ia menilai bahwa penguatan nilai keagamaan menjadi penting di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang semakin cepat.

Krisis Iklim dan Tiga Pilar Kehidupan

Dalam kesempatan yang sama, Dr. MS Ka’ban mengangkat isu krisis iklim sebagai persoalan global yang kini menjadi perhatian serius dunia. Menurutnya, ekologi tidak bisa dilepaskan dari tiga unsur utama, yakni Tuhan, manusia, dan alam.

“Ekologi adalah interaksi antara Tuhan, manusia, dan alam. Jika satu rusak, maka keseluruhan sistem akan terdampak,” ujarnya.

Ia juga memberikan ilustrasi konkret tentang dampak kerusakan lingkungan. Menurutnya, setiap 1 mm curah hujan per hektare setara dengan 20 ton air yang jika tidak dikelola dengan baik dapat memicu bencana lingkungan.

Lebih lanjut, Ka’ban menyoroti pentingnya gerakan nyata seperti wakaf hutan dan upaya mengembalikan minimal 40 persen daratan menjadi kawasan hijau. Karena itu, ia mengkritik keras wacana perdagangan karbon tanpa aksi riil pelestarian lingkungan.

“Omong kosong perdagangan karbon tanpa gerakan penanaman pohon,” tandasnya.

Selain itu, ia juga mengaitkan konsep ekoteologi dengan ajaran Islam. Menurutnya, Al-Qur’an tidak dapat dipisahkan dari prinsip-prinsip keseimbangan alam. Bahkan, ia menyinggung tokoh dunia seperti King Charles III yang dalam pidatonya tentang ekologi pernah mengutip ayat-ayat Al-Qur’an.

Baca Juga:  HIMA PERSIS Jabar Dorong Percepatan Regulasi Larangan Plastik Sekali Pakai

Peran Kampus dan Mahasiswa dalam Kesadaran Ekologis

Sementara itu, Muhammad Hoerudin Amin menyoroti pentingnya kesadaran ekologis dalam dunia pendidikan. Ia menilai kemuliaan kehidupan sangat bergantung pada kesadaran manusia terhadap lingkungan.

“IAIPI harus mulai memasukkan studi ekologi sebagai bagian dari kurikulum. Kesadaran ruang adalah ciri jati diri manusia,” ungkapnya.

Di sisi lain, Ka’ban juga mengkritik kecenderungan mahasiswa yang semakin individualistis sehingga kehilangan sensitivitas terhadap persoalan sosial dan lingkungan.

Karena itu, ia mendorong kampus agar tidak hanya menjadi ruang akademik, tetapi juga pusat gerakan sosial dan lingkungan berbasis nilai keagamaan.

Solusi dan Gagasan Gerakan Ekoteologi

Dalam sesi diskusi, Roni Nygraha mengusulkan model inkubasi sebagai solusi untuk menumbuhkan kesadaran ekologis mahasiswa. Menurutnya, pendekatan tersebut dapat membangun sense of nature secara lebih sistematis.

Adapun Muhammad Rizal dari KPI menyoroti aspek ketimpangan sebagai dampak dari krisis lingkungan yang tidak hanya berdampak ekologis, tetapi juga sosial dan ekonomi.

Selain itu, diskusi juga menyinggung pentingnya integrasi ekoteologi dalam kebijakan kampus dan pemerintahan, khususnya dalam menghadapi realitas bahwa banyak pengambil kebijakan belum berorientasi pada keberlanjutan ekosistem.

Dari Wacana ke Aksi Nyata

Peresmian Student Center IAIPI Bandung ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya gerakan mahasiswa yang tidak hanya aktif dalam diskursus intelektual, tetapi juga dalam aksi nyata menjaga lingkungan.

Tema besar yang diangkat menegaskan bahwa dakwah tidak cukup berhenti di mimbar, melainkan harus diwujudkan dalam gerakan konkret untuk merawat bumi sebagai amanah bersama. (Acil)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *