
Oleh Nurdin Qusyaeri
Akhir-akhir ini, media sosial seperti membuka kembali album kenangan lama bangsa ini. Video-video lama Presiden mendadak viral lagi. Netizen membagikannya dengan nada haru, kagum, sekaligus satire yang pahit.
Dalam video itu, Habibie bicara tenang. Tidak meledak-ledak. Tidak sedang membuat konten motivasi. Tapi publik tahu, di masa kepemimpinannya, nilai tukar dollar yang sempat menggila di angka Rp 16.800 ribuan perlahan turun hingga sekitar Rp 6.500. Sebuah penurunan yang hari ini terdengar seperti dongeng ekonomi sebelum tidur.
Netizen pun ramai-ramai membuat perbandingan. Sebelah kiri: Habibie, insinyur pesawat yang mengubur proyek kebanggaannya demi menyelamatkan ekonomi. Sebelah kanan: dengan pernyataan legendaris: “Rakyat di desa nggak butuh dollar.”
Media sosial langsung gaduh.
Karena rakyat memang tidak belanja dollar di warung. Tapi rakyat belanja minyak goreng. Belanja beras. Belanja pupuk. Belanja tahu-tempe. Dan sialnya, semua itu diam-diam berkiblat pada dollar.
Dollar memang tidak nongkrong di pos ronda. Tapi efeknya nongkrong di harga sembako.
Lucunya lagi, pernyataan “rakyat tidak butuh dollar” terdengar seperti kalimat yang lahir dari ruang ber-AC sangat dingin, lalu dilempar ke rakyat yang sedang kepanasan antre gas LPG.
Padahal ekonomi itu sederhana: kalau dollar naik, harga ikut salto.
Minyak goreng naik. Kedelai naik. BBM naik. Pupuk naik. Bahkan kadang harga cabe naik tanpa tahu malu.
Rakyat desa mungkin tidak paham istilah depresiasi mata uang. Tapi mereka sangat paham ketika uang Rp100 ribu sekarang rasanya cuma cukup buat lewat doang di pasar.
Di sinilah ironi besar itu muncul.
Habibie dulu menghentikan ambisinya demi rupiah. Hari ini, negara justru seperti meminta rupiah mengalah demi ambisi program.
Habibie sadar: rakyat lapar lebih berbahaya daripada proyek gagal.
Sementara hari ini, kritik terhadap program pemerintah sering dianggap seperti gangguan sinyal patriotisme. Padahal kritik ekonomi bukan kebencian. Ia justru alarm agar negara tidak menabrak tembok sambil tetap merasa sedang melaju menuju kemajuan.
Pengamat ekonomi bahkan sampai berkata:
“Bapak salah… Bapak dibohongi orang-orang sekitar Bapak.”
Kalimat yang terdengar keras, tapi mungkin lahir dari kepanikan melihat negeri ini terlalu sibuk membangun optimisme sementara dapur rakyat mulai kehilangan isi.
Dan media sosial memang kejam.
Ia tidak pernah lupa.
Video Habibie kembali diputar. Disandingkan dengan pidato hari ini. Dibandingkan. Dipotong-potong. Dijadikan meme. Dijadikan satire nasional.
Netizen menulis:
“Dulu presiden ngerti dollar, sekarang dollar disuruh ngerti rakyat.”
Yang lain menulis:
“Habibie bikin pesawat terbang, sekarang rakyat yang dibuat melayang harga-harganya.”
Kejam? Iya.
Tapi satire lahir ketika rakyat mulai lelah bicara serius.
Karena di negeri ini, kadang humor adalah cara terakhir rakyat bertahan dari kenyataan.
Habibie pernah memberi pelajaran penting: pemimpin besar bukan yang paling keras mempertahankan programnya.
Tetapi yang paling berani berkata: “Sudah, hentikan. Rakyat lebih penting.”
Sebab sejarah tidak terlalu peduli berapa banyak program diluncurkan. Sejarah lebih menghormati pemimpin yang tahu kapan harus mengalah demi rakyatnya.
Karena ketika ego politik mulai lebih mahal daripada harga sembako, maka yang paling dulu bangkrut biasanya bukan negara.
Melainkan kesabaran rakyat kecil.
Wallahu ‘alam






