
BANDUNG, DARAS.ID — Aula lantai 3 Institut Agama Islam Persatuan Islam (IAI PERSIS) Bandung dipadati mahasiswa dalam Kuliah Umum yang menghadirkan Ketua BAZNAS RI periode 2026–2031, Dr. Ir. H. Sodik Mujahid, M.Sc., Jumat (25/9/2026).
Antusiasme mahasiswa bahkan melampaui kapasitas aula. Sejumlah peserta terpaksa mengikuti kegiatan dari ruang-ruang kelas yang disiapkan sebagai ruang tambahan. Suasana kampus pun berubah menjadi lautan mahasiswa yang menyimak gagasan tentang masa depan ekonomi umat.
Mengangkat tema “Membangun Ekonomi Umat, Menyelamatkan Masa Depan Bangsa: Antara Kapitalisme, Keadilan Sosial, dan Ekonomi Islam”, Sodik Mujahid tidak sekadar berbicara tentang ekonomi. Ia mengajak mahasiswa IAI PERSIS Bandung memikirkan kembali kekuatan umat Islam dalam menghadapi perubahan dunia.
Dengan mengawali pemaparannya melalui pembacaan QS. Ar-Rahman ayat 33, Sodik mengutip seruan Allah SWT kepada jin dan manusia:
“Jika kalian mampu menembus penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kalian tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan sulthan.”
Menurut Sodik, ayat tersebut mengandung pesan besar bahwa sebuah bangsa, lembaga, bahkan umat tidak akan mampu menembus batas-batas ketertinggalan tanpa memiliki sulthan, yakni kekuatan atau daya yang memungkinkan mereka bergerak dan mencapai tujuan.
“Al-Qur’an sangat mencintai ilmu. Kalian tidak bisa menembusnya kecuali dengan sulthan,” tegas Sodik di hadapan mahasiswa.
Ia kemudian membawa makna sulthan tersebut ke dalam konteks perguruan tinggi.
“IAI PERSIS tidak bisa berjaya kecuali punya sulthan,” ujarnya.
Empat Kekuatan yang Menentukan Masa Depan
Sodik menjelaskan bahwa sulthan tidak semata-mata berarti kekuasaan. Menurutnya, ada sedikitnya empat kekuatan yang harus dimiliki generasi muda dan umat Islam agar mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain.
1. Kekuatan Mental, Moral, dan Integritas
Kekuatan pertama adalah mental, moral, akhlak, dan integritas.
Sodik mencontohkan Jepang. Menurutnya, Jepang memiliki keterbatasan sumber daya alam, tetapi mampu membangun kekuatan bangsa melalui mental, disiplin, karakter, dan etos kerja.
“Jepang sumber daya alamnya miskin. Tetapi jiwa dan mentalnya kuat. Karena itu mereka mampu menjadi salah satu kekuatan besar dunia,” katanya.
Ia menegaskan, kemajuan ekonomi tidak cukup dibangun hanya dengan kecerdasan. Bangsa yang besar membutuhkan manusia yang memiliki karakter kuat, integritas, dan keberanian untuk bekerja keras.
2. Kekuatan Politik
Kekuatan kedua adalah politik dan kekuasaan.
Menurut Sodik, politik tidak semestinya selalu dipahami secara negatif. Kekuasaan, apabila digunakan secara benar, dapat menjadi instrumen untuk menghadirkan kemaslahatan masyarakat.
“Politik punya kekuatan untuk melakukan amar makruf nahi mungkar,” ungkapnya.
Karena itu, mahasiswa tidak boleh alergi terhadap persoalan politik. Mereka justru harus memahami bagaimana kebijakan publik dibuat dan bagaimana kekuasaan dapat diarahkan untuk kepentingan masyarakat.
3. Kekuatan Ekonomi
Kekuatan ketiga adalah ekonomi.
Sodik menempatkan ekonomi sebagai salah satu pusat kekuatan sebuah bangsa. Ia mengingatkan bahwa sejarah menunjukkan bagaimana kekuatan ekonomi dapat menentukan posisi sebuah negara dalam percaturan global.
“Ekonomi itu pusat kekuatan,” tegasnya.
Ia menyebut Amerika Serikat, Jepang, dan China sebagai contoh negara yang memiliki pengaruh besar melalui kekuatan ekonominya.
Namun, di sisi lain, Sodik menilai dunia saat ini sedang menghadapi pertanyaan besar mengenai sistem ekonomi yang berlaku.
Ia menyoroti ketimpangan ekonomi, ketika kekayaan terkonsentrasi pada kelompok tertentu sementara sebagian masyarakat masih hidup dalam keterbatasan.
Dalam paparannya, ia menyampaikan klaim mengenai konsentrasi kekayaan global yang menurutnya menunjukkan bahwa sistem ekonomi liberal belum mampu menghadirkan kesejahteraan secara merata.
“Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin,” ujarnya.
Karena itu, menurut Sodik, umat Islam perlu membangun alternatif ekonomi yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga menghadirkan keadilan sosial dan keberpihakan kepada masyarakat lemah.
4. Kekuatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Kekuatan keempat adalah ilmu pengetahuan dan teknologi.
Menurut Sodik, bangsa yang tidak mampu melakukan riset, inovasi, dan adaptasi teknologi akan tertinggal.
Ia mengingatkan bahwa perusahaan maupun lembaga yang berhenti melakukan riset dan inovasi akan menghadapi risiko kehilangan relevansi.
“Banyak perusahaan tidak melakukan riset dan inovasi secara akurat, akhirnya mereka hancur,” katanya.
Karena itu, mahasiswa IAI PERSIS Bandung didorong tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi pencipta pengetahuan, inovator, dan pemecah masalah.
“Umat Islam Sedang Lemah”
Sebagai Ketua BAZNAS RI, Sodik juga menyoroti kondisi umat Islam Indonesia.
Menurutnya, umat Islam masih menghadapi kelemahan dalam berbagai bidang, terutama ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, dan penguasaan sumber daya.
Ia menyebut kondisi tersebut sebagai persoalan serius yang harus dijawab oleh generasi muda.
“Umat Islam Indonesia sekarang sedang lemah: ekonomi, politik, dan lainnya,” ungkapnya.
Sodik kemudian mengingatkan tentang pentingnya menghidupkan kembali ruh al-jihad—semangat bersungguh-sungguh memperjuangkan kebaikan.
“Dulu kita punya ruhul jihad. Sekarang mulai lemah,” katanya.
Karena itulah, BAZNAS, menurut Sodik, tidak hanya memiliki agenda penghimpunan dan pendistribusian zakat, tetapi juga ingin ikut melahirkan generasi yang memiliki semangat perjuangan.
Ia mengungkapkan bahwa BAZNAS tengah mencari kader-kader muda yang memiliki ruh al-jihad untuk mendapatkan dukungan dan pembinaan.
“Kami mencari kader yang punya ruhul jihad untuk dibiayai BAZNAS,” ujarnya.
Empat Pilar Ekonomi Syariah
Dalam kuliah umum tersebut, Sodik juga memaparkan bahwa ekonomi Islam tidak boleh berhenti pada wacana tentang perbankan syariah.
Menurutnya, ekosistem ekonomi syariah harus dibangun secara menyeluruh.
Ia setidaknya menguraikan beberapa bidang penting.
Pertama, keuangan syariah.
Mencakup perbankan syariah, asuransi syariah, pasar modal syariah, dan berbagai instrumen keuangan yang sesuai dengan prinsip syariah.
Kedua, industri syariah.
Ekonomi syariah harus masuk ke sektor riil, mulai dari makanan, kosmetik, pariwisata, hingga berbagai produk dan jasa lainnya. Prinsip kehalalan, transparansi, dan keadilan dalam transaksi menjadi bagian penting di dalamnya.
Ketiga, sosial syariah.
Zakat, infak, sedekah, wakaf, dan berbagai bentuk filantropi Islam harus dikembangkan menjadi kekuatan sosial-ekonomi umat.
Keempat, literasi syariah.
Masyarakat harus mendapatkan edukasi yang memadai mengenai ekonomi syariah agar tidak sekadar menjadi konsumen, tetapi memahami prinsip, mekanisme, serta peluang ekonomi syariah.
Sodik juga menekankan pentingnya pencegahan agar aktivitas ekonomi tidak terjebak pada praktik-praktik yang bertentangan dengan prinsip syariah, keadilan, dan kemaslahatan.
Dari Kampus untuk Kebangkitan Umat
Kuliah umum tersebut akhirnya tidak hanya menjadi forum akademik. Lebih dari itu, menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa tentang posisi mereka dalam masa depan umat dan bangsa.
Sodik mendorong mahasiswa IAI PERSIS Bandung untuk tidak merasa cukup hanya dengan memperoleh ijazah.
Perguruan tinggi, menurut gagasan yang disampaikannya, harus melahirkan manusia yang memiliki ilmu, karakter, kekuatan ekonomi, kemampuan teknologi, dan keberanian mengambil peran di tengah masyarakat.
Pesan tersebut menemukan relevansinya dengan tagline IAI PERSIS Bandung:
“Berilmu, Berakhlak, dan Berwirausaha.”
Kampus bukan hanya tempat mencetak sarjana, tetapi juga tempat menyiapkan generasi yang mampu menjadi kekuatan perubahan.
Antusiasme mahasiswa yang membludak hingga memenuhi aula dan ruang-ruang kelas menjadi gambaran kuat bahwa isu masa depan ekonomi umat mendapat perhatian serius dari generasi muda.
Di hadapan mahasiswa itulah Sodik menyampaikan pesan besarnya: umat tidak akan mampu menembus batas-batas ketertinggalan tanpa kekuatan.
Kekuatan moral, Kekuatan politik, Kekuatan ekonomi. Dan kekuatan ilmu pengetahuan serta teknologi.
Sebab, dalam semangat QS. Ar-Rahman ayat 33 yang menjadi pembuka kuliahnya, menembus batas membutuhkan “sulthan”.
Dan pertanyaannya kini bukan lagi apakah umat Islam mampu bangkit.
Tetapi siapa yang akan menjadi generasi yang menghidupkan kembali kekuatan itu?
Mahasiswa IAI PERSIS Bandung menjadi bagian dari generasi yang sedang dipanggil untuk menjawabnya.
(Noer/Noer)





