Website Berita dan Opini
Indeks

Tujuh Politikus Muslim Perempuan Warnai Kemenangan Bersejarah di Pemilu AS 2026, El-Sayed Jadi Senator Muslim Pertama

Tujuh Politikus Muslim Perempuan Warnai Kemenangan Bersejarah di Pemilu AS 2026, El-Sayed Jadi Senator Muslim Pertama
Foto dokumen Abdul El-Sayed dalam Twitter pribadinya

 

DARAS.ID — Peta politik Amerika Serikat mencatat sejarah baru. Pemilu Sela (Midterm Elections) yang berlangsung pada 3 November 2026 menghadirkan peningkatan signifikan keterwakilan politik Muslim Amerika. Sedikitnya tujuh politikus Muslim berhasil memenangkan kursi Kongres Amerika Serikat, terdiri atas satu senator dan enam anggota House of Representatives (DPR).

Salah satu kemenangan paling bersejarah diraih Abdul El-Sayed dari Partai Demokrat. Politikus berusia 42 tahun tersebut berhasil mengalahkan kandidat Partai Republik Mike Rogers dalam perebutan kursi Senat dari Michigan. Kemenangan ini menjadikannya Muslim pertama yang terpilih sebagai anggota Senat Amerika Serikat.

Namun, bukan hanya kemenangan El-Sayed yang menarik perhatian. Dari sepuluh figur politik Muslim yang menjadi sorotan dalam pemilu kali ini, tujuh di antaranya adalah perempuan. Fenomena tersebut memperlihatkan semakin kuatnya kehadiran perempuan Muslim dalam ruang politik dan demokrasi Amerika.

Abdul El-Sayed: Muslim Pertama di Senat Amerika

Abdul El-Sayed merupakan dokter sekaligus mantan pejabat kesehatan publik yang memiliki rekam jejak dalam isu kesehatan dan kebijakan sosial. Ia dikenal membawa agenda progresif, antara lain perluasan layanan kesehatan universal melalui Medicare for All, pengurangan pengaruh korporasi dalam politik, serta kritik terhadap bantuan militer Amerika Serikat kepada Israel yang tidak disertai persyaratan.

Kemenangannya memiliki arti simbolis yang kuat. Selama ini, Muslim Amerika kerap menghadapi stereotip, diskriminasi, dan kecurigaan politik, terutama setelah tragedi 11 September 2001.

Dalam kampanye pemilu, identitas keislaman El-Sayed bahkan menjadi sasaran serangan politik. Namun, serangan tersebut tidak menghalangi kemenangan elektoralnya.

Reuters melaporkan bahwa kemenangan El-Sayed merupakan terobosan penting bagi kelompok progresif Partai Demokrat. Ia juga membawa isu kesehatan, biaya hidup, dan pembatasan pengaruh korporasi sebagai bagian penting agenda politiknya.

Dokter Relawan Gaza Masuk Kongres

Kemenangan bersejarah lainnya diraih Adam Hamawy dari New Jersey. Dokter bedah plastik berusia 56 tahun ini merupakan veteran dokter tempur Angkatan Darat Amerika Serikat dalam Perang Irak.

Hamawy pernah menjadi relawan medis di Rumah Sakit Eropa di Gaza pada 2024. Pengalaman tersebut turut membentuk perhatian politiknya terhadap persoalan kemanusiaan dan konflik Palestina.

Ia berhasil mengalahkan kandidat Republik Gregg Mele di Distrik Kongres ke-12 New Jersey. Kemenangan itu menjadikannya Muslim pertama yang mewakili New Jersey di Kongres Amerika Serikat.

Agenda politik Hamawy mencakup perluasan layanan kesehatan universal, penghapusan utang medis dan pinjaman pendidikan, serta penghentian bantuan militer Amerika Serikat kepada Israel.

Tujuh Perempuan Muslim dalam Panggung Politik Amerika

Kehadiran perempuan menjadi salah satu warna paling menonjol dalam perkembangan politik Muslim Amerika.

Di New York, Darializa Avila Chevalier berhasil memenangkan kursi DPR dari Distrik ke-13. Aktivis hak-hak sipil dan mahasiswa doktoral yang merupakan mualaf tersebut sebelumnya mengalahkan petahana Adriano Espaillat dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat.

Baca Juga:  Seminar Internasional Bahas Masa Depan Pendidikan Islam: UM Bandung dan IAI PERSIS Bandung Jadi Tuan Rumah

Chevalier dikenal aktif dalam advokasi hak-hak masyarakat Palestina dan pengorganisasian komunitas. Ia memperoleh lebih dari 85 persen suara dalam pemilihan tersebut.

Sementara itu, Rashida Tlaib kembali memenangkan kursi DPR dari Michigan untuk periode kelima. Politikus keturunan Palestina-Amerika ini dikenal konsisten menyuarakan perlindungan warga sipil Palestina, hak asasi manusia, dan pengawasan terhadap bantuan militer Amerika Serikat kepada Israel.

Ilhan Omar juga kembali memperoleh kepercayaan masyarakat Minnesota untuk periode kelima. Perempuan keturunan Somalia tersebut menjadi salah satu figur Muslim paling dikenal di Kongres Amerika. Sejak pertama kali menjabat pada 2019, ia aktif memperjuangkan isu imigrasi, kesetaraan sosial, bantuan kemanusiaan, dan pengawasan transfer senjata.

Di California, Lateefah Simon berhasil mempertahankan kursinya di DPR dari Distrik ke-12. Mantan aktivis hak-hak sipil ini dikenal memperjuangkan keadilan sosial, perumahan, layanan kesehatan, serta perlindungan hak masyarakat rentan.

Nama lain yang menjadi perhatian adalah Aisha Wahab. Politikus Muslimah asal California ini telah menjadi anggota Kongres setelah memenangkan pemilihan khusus pada Agustus 2026. Dalam pemilu 3 November, ia menyatakan kemenangan untuk memperoleh masa jabatan penuh di Distrik ke-14. Meski demikian, pada laporan awal 5 November, proses penghitungan dan sertifikasi hasil pemilu masih berlangsung.

Di tingkat negara bagian, Nabeela Syed mencatat kemenangan penting setelah berhasil merebut kursi Senat Negara Bagian Illinois Distrik ke-26. Ia mengalahkan petahana dari Partai Republik, Darby Hills.

Sementara itu, Aber Kawas memenangkan kursi Senat Negara Bagian New York Distrik ke-12. Aktivis komunitas keturunan Palestina tersebut mencatat sejarah sebagai perempuan Muslim pertama sekaligus warga keturunan Palestina pertama yang terpilih menjadi anggota legislatif negara bagian New York.

Ketujuh perempuan tersebut memperlihatkan bahwa keterlibatan perempuan Muslim dalam politik Amerika tidak lagi terbatas pada aktivitas komunitas, advokasi sosial, atau gerakan masyarakat sipil. Mereka telah memasuki institusi formal yang memiliki kewenangan membuat undang-undang dan menentukan arah kebijakan publik.

Bukan Sekadar Tujuh Orang: Ada 97 Kemenangan Politik Muslim

Peningkatan keterwakilan Muslim Amerika ternyata tidak berhenti di Kongres.

Council on American-Islamic Relations (CAIR), organisasi advokasi hak-hak sipil Muslim terbesar di Amerika Serikat, merilis laporan sementara pada 5 November 2026. Laporan tersebut mencatat sedikitnya 97 kemenangan politik Muslim Amerika dalam pemilu kali ini, yang tersebar di 21 negara bagian.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 38 kemenangan berasal dari pemilihan legislatif tingkat negara bagian. Selebihnya berasal dari jabatan federal, pemerintahan lokal, lembaga peradilan, serta institusi pendidikan.

Baca Juga:  Verbal Jurnalising dalam Islam: Terapi Jiwa dan Kesehatan Mental

CAIR juga mencatat 168 kandidat Muslim yang mengikuti kontestasi pemilu 2026. Sebanyak 97 dinyatakan menang, 50 kalah, sementara 15 kandidat masih unggul dalam penghitungan suara dan enam lainnya berada dalam persaingan ketat.

Capaian tersebut melampaui rekor pemilu sela 2022 yang mencatat 82 kemenangan kandidat Muslim. Artinya, terdapat peningkatan sekitar 18 persen.

Angka ini menunjukkan bahwa komunitas Muslim Amerika semakin aktif membangun partisipasi politik dan memperluas keterwakilan di berbagai tingkat pemerintahan.

Populasi Muslim Amerika Terus Bertumbuh

Peningkatan partisipasi politik tersebut juga berlangsung di tengah pertumbuhan komunitas Muslim Amerika.

Pew Research Center dalam laporan September 2026 memperkirakan terdapat sekitar 5,5 juta Muslim di Amerika Serikat. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan estimasi 2,4 juta jiwa pada 2007.

Pertumbuhan juga terlihat dari jumlah masjid. Berdasarkan data yang dikutip Pew Research Center, jumlah masjid di Amerika meningkat dari sekitar 1.200 pada 2000 menjadi sekitar 2.800 pada 2020.

Meski demikian, peningkatan jumlah penduduk Muslim tidak serta-merta menghapus tantangan sosial. Pew Research Center mencatat bahwa dalam survei Mei 2026, sebanyak 42 persen orang dewasa Amerika menilai Muslim memberikan dampak negatif bagi negara mereka. Sebanyak 43 persen bahkan menganggap Muslim kurang patriotik dibandingkan warga Amerika lainnya.

Di tengah persepsi tersebut, kemenangan para kandidat Muslim memberikan gambaran menarik tentang dinamika demokrasi Amerika: identitas keagamaan tidak selalu menjadi penghalang untuk memperoleh kepercayaan politik masyarakat.

Demokrasi Tidak Boleh Dimonopoli Identitas

Kemenangan para politikus Muslim dalam Pemilu Sela Amerika Serikat 2026 memiliki makna lebih luas daripada sekadar bertambahnya jumlah anggota parlemen beragama Islam.

Peristiwa ini memperlihatkan bahwa demokrasi memberikan ruang bagi kelompok minoritas untuk berpartisipasi, berkompetisi, dan memperoleh posisi strategis dalam pemerintahan.

Tentu saja, kemenangan seorang politikus Muslim tidak otomatis berarti seluruh kebijakan yang diperjuangkannya mencerminkan kepentingan umat Islam. Mereka tetap harus mempertanggungjawabkan mandat kepada seluruh konstituen, tanpa membedakan agama, etnis, maupun latar belakang sosial.

Namun, satu hal menjadi jelas: identitas Muslim tidak menghalangi seseorang untuk menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan politik di negara yang memiliki sejarah panjang perdebatan tentang agama, kebebasan, dan pluralisme.

Dari ruang operasi rumah sakit hingga ruang sidang Capitol Hill, dari aktivisme hak-hak sipil hingga parlemen negara bagian, Muslim Amerika menunjukkan bahwa partisipasi politik bukan sekadar hak yang dimiliki, melainkan ruang pengabdian yang harus diperjuangkan.

Demokrasi pada akhirnya bukan tentang siapa yang paling dominan identitasnya, melainkan siapa yang memperoleh kepercayaan rakyat dan mampu mempertanggungjawabkan amanahnya.

_Nurdin Qusyaeri

DARAS.ID — Membaca Perubahan, Memahami Peradaban.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *