Website Berita dan Opini
Indeks

Kampus yang Tidak Membiarkan Mahasiswanya Pulang karena Biaya

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni IAI PERSIS Bandung
Peserta wisuda IAI PERSIS

 

DARAS.ID_ Setiap kali melihat wisudawan berdiri mengenakan toga, saya selalu teringat pada satu hal:

tidak semua perjalanan menuju panggung wisuda ditempuh dengan kendaraan yang sama.

Ada yang datang dengan mobil. Ada yang dengan sepeda motor.

Tetapi tidak sedikit mahasiswa IAI PERSIS Bandung yang datang ke kampus dengan angkutan kota.

Mereka datang membawa tas, buku, mimpi—dan kadang-kadang membawa kecemasan yang tidak pernah mereka ceritakan: Bagaimana saya membayar kuliah semester ini?”

Ada mahasiswa yang SPP-nya tertunggak satu semester. Dua semester. Bahkan beberapa semester.

Tetapi ada satu prinsip yang terus kami pegang: “Jangan sampai ada mahasiswa berhenti kuliah hanya karena biaya.”

Kalau belum mampu membayar, kuliah dulu. Biaya? Bisa kita bicarakan.

Karena bagi kami, pendidikan tidak boleh hanya menjadi hak mereka yang mampu membayar.

Di situlah kami ingin IAI PERSIS Bandung menjadi kampus yang ramah, rahmah, dan rahim.

Kampus yang tidak hanya mengajarkan teori tentang kepedulian, tetapi berusaha mempraktikkan kepedulian itu dalam kehidupan kampus.

Mahasiswa Bukan Hanya Nomor Induk

Di kampus, seorang mahasiswa memiliki NIM. Ada kartu mahasiswa. Ada presensi. Ada nilai. Ada transkrip.

Tetapi bagi kami, mahasiswa bukan sekadar angka dalam sistem akademik.

Di balik satu nama ada seorang manusia. Ada keluarga. Ada ayah. Ada ibu. Ada persoalan hidup. Ada perjuangan. Ada harapan.

Karena itu, ketika seorang mahasiswa sakit, kami berusaha hadir. Ketika mahasiswa atau keluarganya berduka, kami datang bertakziyah. Menengok. Menyampaikan doa. Memberikan sekadar bantuan. Mungkin nilainya tidak seberapa.

Tetapi kami ingin menyampaikan satu pesan sederhana: “Kamu tidak sendirian.”

Begitulah seharusnya kampus bekerja. Bukan hanya ketika mahasiswa berada di ruang kelas, tetapi juga ketika mereka sedang berada di ruang-ruang paling sunyi dalam kehidupannya.

Toga dan Perjuangan yang Tidak Terlihat

Baca Juga:  Persib Juara Lagi!

Saat hari wisuda tiba, saya tidak pernah melihat toga hanya sebagai simbol kelulusan. Saya melihatnya sebagai kesaksian.

Kesaksian tentang mahasiswa yang bertahan meski ekonominya terbatas.

Kesaksian tentang orang tua yang mungkin tidak mampu memberikan banyak hal, tetapi tidak pernah berhenti mendoakan.

Kesaksian tentang mahasiswa yang mungkin berangkat dengan angkot, tetapi membawa cita-cita yang jauh lebih besar daripada kendaraan yang ditumpanginya.

Sehingga ketika akhirnya namanya dipanggil sebagai wisudawan, mungkin yang paling bahagia bukan hanya dirinya. Tetapi seorang ibu di rumah yang selama bertahun-tahun bertanya:

“Kapan kamu wisuda, Nak?”

Hari itu akhirnya tiba. Dan mungkin sang ibu tidak peduli apakah anaknya datang ke kampus dengan mobil atau angkot. Ia hanya tahu satu hal: anaknya berhasil sampai.

Wisuda Bukan Sekadar Gelar

Kepada para wisudawan dan wisudawati,hari ini kalian boleh berbahagia.

Rayakanlah. Peluk orang tua kalian. Temui guru dan dosen kalian. Karena di balik toga itu ada doa yang panjang.

Tetapi setelah hari ini, ingatlah: gelar bukan mahkota. Gelar adalah amanah. Dunia tidak hanya membutuhkan orang pintar. Dunia membutuhkan orang pintar yang peduli. Tidak hanya membutuhkan orang yang sukses. Tetapi orang sukses yang mau mengangkat orang lain.

Maka ke mana pun kalian pergi nanti, jangan lupa dari mana kalian berangkat.

Jangan malu pernah naik angkot. Jangan malu pernah menunggak SPP. Jangan malu pernah kesulitan. Karena mungkin justru dari keterbatasan itulah kalian belajar satu hal yang tidak diajarkan oleh buku: bagaimana menghargai perjuangan.

Dan jika kelak kalian berhasil, ingatlah mereka yang hari ini masih berjuang. Karena orang yang pernah merasakan sulit,

seharusnya menjadi orang yang paling peka ketika melihat orang lain kesulitan.

Kampus yang Ingin Menjadi Rumah

Mungkin IAI PERSIS Bandung belum sempurna. Kami masih memiliki banyak kekurangan. Tetapi kami ingin mempertahankan satu hal:

jangan sampai mahasiswa merasa sendirian di kampusnya sendiri.

Kami ingin kampus ini menjadi tempat untuk belajar.

Baca Juga:  SBY Ingatkan Ancaman Perang Dunia Ketiga, Serukan Sidang Darurat PBB

Tetapi juga tempat untuk bertumbuh. Tempat untuk bertanya. Tempat untuk jatuh dan bangkit. Tempat untuk menemukan ilmu.

Dan ketika kehidupan sedang terlalu berat, tempat untuk merasa: “Saya masih punya rumah.”

Karena bagi kami, kampus bukan hanya tempat mahasiswa datang untuk kuliah.

Kampus adalah tempat manusia dipertemukan dengan ilmu, dengan sesama, dan dengan harapan.

Maka ketika seorang mahasiswa yang dulu datang dengan angkot akhirnya berdiri mengenakan toga, kami tidak hanya melihat seorang sarjana.

Kami melihat sebuah perjuangan yang berhasil melewati banyak pintu.

Hari ini mereka lulus. Besok mereka akan diuji kehidupan. Semoga mereka tidak hanya membawa ijazah.

Tetapi membawa ilmu, akhlak, keberanian, dan kepedulian. Dan semoga kelak, ketika mereka memiliki kemampuan untuk membantu orang lain, mereka teringat pada satu hal:

pernah ada sebuah kampus yang tidak membiarkan mereka berhenti hanya karena tidak mampu membayar.

Karena pendidikan yang rahmah bukan pendidikan yang hanya bertanya, “Berapa yang bisa kamu bayar?” Tetapi pendidikan yang juga bertanya,

“Apa yang bisa kami lakukan agar kamu tetap bisa melanjutkan?”

Itulah kampus yang ingin kami bangun. Kampus yang ramah. Kampus yang rahmah. Kampus yang rahim.

Kampus yang tidak hanya meluluskan sarjana, tetapi berusaha menjaga harapan agar tidak padam.

Dan mungkin, pada akhirnya, itulah makna paling dalam dari sebuah pendidikan:Bukan hanya membuat seseorang mampu berdiri lebih tinggi, tetapi memastikan tidak ada anak bangsa yang harus berhenti bermimpi hanya karena keterbatasan.

Wallahu’alam

_Nurdin Qusyaeri

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni IAI PERSIS Bandung

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *