Website Berita dan Opini
Indeks

Wisuda XXXII IAI PERSIS Bandung: Di Antara Kebanggaan, Kemandirian, dan Tantangan Masa Depan Sarjana

 

 

SOREANG, DARAS.ID — Gedung Budaya Sabilulungan, Kabupaten Bandung, Sabtu (10/10/2026), menjadi saksi kebahagiaan 530 wisudawan dan wisudawati Institut Agama Islam (IAI) PERSIS Bandung. Di balik toga dan senyum keluarga, tersimpan perjalanan panjang perjuangan, pengorbanan, serta harapan akan masa depan yang lebih baik.

Wisuda XXXII ini bukan sekadar seremoni akademik. Ia juga menjadi momentum refleksi tentang arah pengembangan perguruan tinggi Islam, cita-cita kemandirian institusi, dan tantangan yang menanti para sarjana setelah meninggalkan bangku kuliah.

Hadir dalam acara tersebut jajaran Pimpinan Pusat PERSIS, Ketua Badan Pengawas Jam’iyah (BPJ) KH. Uus Ruhiyat, KH. Wawan Sofwan, Ketua PW PERSIS Jawa Barat KH. Iman Setiawan Latief, Ketua Kopertais Wilayah II Jawa Barat sekaligus Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Prof. Dr. Rosihon Anwar, M.Ag., Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, serta Bupati Bandung Dadang Supriatna.

Kehadiran para tokoh tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tinggi bukan hanya urusan kampus, melainkan bagian dari tanggung jawab bersama dalam membangun kualitas manusia dan masa depan bangsa.

Kampus Bertumbuh, Cita-Cita Terus Menjulang

Dalam sambutannya, Rektor IAI PERSIS Bandung, Prof. Dr. Jajang A. Rohmana, M.Ag., menyampaikan bahwa wisuda kali ini meluluskan 530 orang dari lima program sarjana, yakni Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), dan Ekonomi Syariah, serta program magister Pendidikan Agama Islam (S2 PAI).

Rektor juga memaparkan upaya pengembangan sumber daya manusia dosen, pembenahan dan pengadaan sarana-prasarana, serta perbaikan fasilitas kelas dan lingkungan kampus. Salah satu capaian yang disampaikan ialah bertambahnya tujuh dosen bergelar doktor dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

Ia menegaskan semangat agar IAI PERSIS Bandung terus tumbuh dan berkembang hingga mencapai puncak kemajuannya.

Capaian tersebut patut diapresiasi. Namun, pertumbuhan perguruan tinggi tidak cukup diukur dari jumlah lulusan, kualifikasi akademik dosen, atau fasilitas yang semakin baik. Semuanya harus bermuara pada peningkatan mutu pembelajaran, produktivitas penelitian, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Gelar doktor, misalnya, bukan sekadar pencapaian pribadi dosen. Ia membawa tanggung jawab untuk menghasilkan pengetahuan, memperkuat tradisi riset, dan memperluas kontribusi akademik. Demikian pula pembenahan kampus harus berdampak pada kualitas pengalaman belajar mahasiswa.

Pertumbuhan adalah proses, sedangkan mencapai puncak membutuhkan konsistensi, tata kelola yang sehat, dan kerja bersama seluruh sivitas akademika.

Baca Juga:  Mengungkap Rahasia Perbedaan Pria dan Wanita: Hasil Penelitian Menarik Majalah Der Spiegel"

Dukungan Menuju Universitas Islam PERSIS

Dorongan untuk membawa IAI PERSIS Bandung berkembang menjadi universitas Islam PERSIS mengemuka dalam sambutan Ketua Kopertais Wilayah II Jawa Barat, Prof. Dr. Rosihon Anwar, M.Ag., yang juga Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

 

Rosihon mengapresiasi penyelenggaraan wisuda yang dinilainya tertata dan membanggakan. Ia juga mengucapkan selamat kepada wisudawan dan orang tua, serta berharap para lulusan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Menurutnya, bekal akademik dan literasi yang diperoleh di kampus perlu menjadi modal untuk menghadapi tantangan masa depan.

Lebih jauh, ia mendorong IAI PERSIS Bandung menuju universitas Islam PERSIS dan menyatakan dukungan Kopertais untuk membantu mewujudkan cita-cita tersebut.

Dukungan ini menjadi dorongan penting, tetapi juga menghadirkan pekerjaan rumah. Menjadi universitas bukan sekadar mengubah nama atau meningkatkan status kelembagaan. Diperlukan kesiapan sumber daya manusia, penguatan program studi, budaya penelitian, infrastruktur, dan tata kelola yang memenuhi ketentuan.

Dukungan serupa disampaikan Ketua Umum Ikatan Alumni, Muhammad Hoerudin Amin. Ia mengingatkan bahwa perguruan tinggi PERSIS sejak awal diharapkan menjadi benteng akidah sekaligus ruang pengembangan keilmuan umat. Cita-cita menjadi universitas Islam PERSIS, menurut semangat yang disampaikannya, merupakan kelanjutan visi para pendahulu yang harus diperjuangkan generasi sekarang.

Hoerudin juga menekankan pentingnya transformasi ilmu, kekuatan bahasa, dan tanggung jawab intelektual. Harapannya agar IAI PERSIS Bandung mampu melahirkan lebih banyak doktor memperlihatkan bahwa perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan sarjana, tetapi juga perlu melahirkan peneliti dan pemikir yang memperkaya khazanah keilmuan Islam.

Di sinilah makna kemandirian menemukan relevansinya. Kampus yang mandiri bukan hanya mampu bertahan, melainkan juga mampu mengembangkan ilmu, membangun tradisi akademik, dan memberikan solusi bagi persoalan masyarakat.

Dedi Mulyadi dan Tantangan Masa Depan Sarjana

Perspektif lain hadir melalui orasi kebangsaan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Ia memberikan penghormatan kepada para wisudawan sekaligus mengingatkan pengorbanan orang tua dalam mengantarkan anak-anak mereka menyelesaikan pendidikan tinggi.

Di balik kebahagiaan wisuda, ada perjuangan yang tidak selalu terlihat: penghasilan yang disisihkan, kebutuhan yang ditunda, dan doa yang terus dipanjatkan. Karena itu, keberhasilan seorang anak sering kali merupakan keberhasilan seluruh keluarga.

Namun, Dedi juga menyoroti hubungan antara pendidikan tinggi dan kebutuhan dunia kerja. Pertanyaan gawe naon?—akan bekerja apa setelah lulus?—menjadi pengingat bahwa pendidikan harus memperhitungkan kebutuhan masyarakat dan perubahan dunia kerja.

Baca Juga:  Wawancara Ekslusif dengan Nuur Rahma Juara Terbaik II di IYEN Kuala Lumpur Malaysia dalam Proyek Inovasi Pendidikan Berkualitas

Perguruan tinggi perlu terus mengevaluasi relevansi kurikulum, memperkuat keterampilan praktis, dan membekali mahasiswa dengan kemampuan beradaptasi, berkomunikasi, memecahkan masalah, serta berwirausaha.

Meski demikian, keberhasilan pendidikan tidak boleh semata-mata diukur dari cepat atau lambatnya lulusan memperoleh pekerjaan. Pendidikan tinggi Islam juga memiliki tanggung jawab membentuk manusia berakhlak, berpikir kritis, dan memiliki kepekaan sosial.

Tantangannya adalah mempertemukan keduanya: menghasilkan lulusan yang kompeten dalam kehidupan profesional sekaligus bertanggung jawab dalam kehidupan sosial.

Gelar sarjana seharusnya bukan sekadar tanda bahwa seseorang telah menyelesaikan pendidikan, melainkan bekal untuk mengubah pengetahuan menjadi manfaat.

Toga Bukan Akhir Perjalanan

Wisuda XXXII IAI PERSIS Bandung mempertemukan kebanggaan atas capaian hari ini dengan harapan terhadap masa depan. Rektor berbicara tentang pertumbuhan kampus, Ketua Kopertais mendorong cita-cita universitas Islam PERSIS, Ikatan Alumni menegaskan pentingnya meneruskan visi para pendahulu, dan Gubernur Jawa Barat mengingatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat.

Seluruh pesan tersebut bermuara pada satu tanggung jawab: memastikan pendidikan benar-benar menghadirkan kemajuan.

Bagi kampus, kebanggaan atas 530 lulusan dan bertambahnya tujuh doktor harus menjadi energi untuk meningkatkan mutu akademik. Bagi organisasi yang menaunginya, cita-cita universitas perlu diteruskan melalui kerja nyata. Bagi para wisudawan, ijazah harus menjadi awal pengabdian, bukan alasan untuk berhenti belajar.

Sebagian lulusan mungkin segera memperoleh pekerjaan, sebagian memilih berwirausaha, dan sebagian lainnya melanjutkan pendidikan atau mengabdi di masyarakat. Apa pun jalan yang ditempuh, mereka akan menghadapi dunia yang terus berubah dan tidak selalu menawarkan kemudahan.

Karena itu, toga bukanlah mahkota untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Ia adalah simbol tanggung jawab untuk terus belajar, menjaga integritas, dan memberikan manfaat.

Jika IAI PERSIS Bandung mampu menyelaraskan pertumbuhan institusi dengan peningkatan mutu, memperkuat kemandirian dengan tradisi keilmuan, serta membekali lulusannya dengan kompetensi dan akhlak, cita-cita menjadi universitas Islam PERSIS dapat diperjuangkan melalui fondasi yang lebih kokoh.

Sebab, keberhasilan pendidikan bukan hanya ketika seseorang berhasil naik ke panggung wisuda, melainkan ketika ia mampu melangkah kembali ke tengah masyarakat dengan ilmu, integritas, dan kesediaan untuk mengabdi.

Penulis: Tim Daras.ID

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *