Kemurkaan netizen Indonesia terhadap wasit Ahmed Al Kaf tampaknya tidak akan surut dalam waktu dekat. Seperti api yang terus disiram bensin, kemarahan publik online semakin memuncak. Sayangnya bagi para warganet, akun Instagram sang wasit sudah dikunci rapat. Seandainya masih terbuka, mungkin kolom komentar sudah membludak, melebihi antrean sembako gratis di hari raya.
Netizen Indonesia, yang terkenal vokal dan emosional, pasti akan membanjiri postingan Al Kaf dengan ribuan komentar pedas yang bisa membuat handphone-nya “meledak” karena panasnya reaksi.
Lalu, mengapa Ahmed Al Kaf menjadi sosok paling dicari netizen? Itu semua berawal dari insiden pertandingan Timnas Indonesia melawan Bahrain pada 10 Oktober 2024. Apa yang seharusnya menjadi laga bersejarah untuk Indonesia berubah menjadi drama kontroversial yang berujung pada kekecewaan mendalam.
Laga ini lebih menyerupai sinetron sore penuh konflik daripada pertandingan sepak bola profesional. Setiap kontak kecil pemain Bahrain langsung mendapatkan perhatian penuh dari sang wasit, yang tak ragu meniup peluit. Sebaliknya, ketika pemain Indonesia dijatuhkan dengan keras, Al Kaf hanya mengangkat bahu, seolah berkata, “Itu cuma angin, tak perlu ditiup peluit.”
Yang paling memicu kemarahan suporter Indonesia adalah keputusan wasit terkait waktu tambahan. Awalnya, Al Kaf memberikan tambahan waktu enam menit, tetapi entah bagaimana caranya, pertandingan terus berlangsung hingga menit ke-99. Seperti kantong ajaib Doraemon, waktu tambahan tiba-tiba terus bertambah tanpa penjelasan logis. Dan, di menit ke-99 itulah Bahrain mencetak gol penyeimbang yang menghancurkan harapan kemenangan Indonesia.
Protes dari para suporter tidak hanya berhenti di lapangan, melainkan berlanjut di dunia maya. Warganet Indonesia bertanya-tanya, di mana VAR saat keputusan kontroversial ini terjadi? Sementara ketika Indonesia mencetak gol, pengecekan VAR seperti berlangsung selamanya, membuat para penggemar menunggu dengan cemas dan penuh frustrasi.
Dalam situasi ini, PSSI berencana mengirimkan surat protes resmi kepada FIFA, meskipun banyak yang pesimis bahwa surat tersebut akan direspon dengan serius.
Netizen Indonesia, yang sudah terbiasa dengan ketidakadilan, bahkan siap untuk turun ke “medan pertempuran” di media sosial, dengan ancaman serangan komentar yang luar biasa. Ungkapan “Jika keadilan tak ditegakkan, kami akan bergerak di jalur komentar” pun semakin banyak terdengar.
Pertandingan melawan Bahrain ini akan terus diingat, bukan karena performa di lapangan, tetapi karena insiden-insiden kontroversial yang dihasilkan oleh keputusan Al Kaf. Dalam dunia sepak bola internasional, momen ini akan masuk dalam daftar panjang “kecurangan” yang sulit dilupakan oleh para pendukung Garuda.
Sekarang, fokus Indonesia beralih ke pertandingan berikutnya melawan China. Namun, setelah kekalahan mengecewakan melawan Australia, China tentu akan berusaha melampiaskan frustrasi mereka pada Garuda. Suporter Indonesia berharap, tidak akan ada lagi insiden “keajaiban waktu tambahan” seperti yang terjadi dalam pertandingan sebelumnya. (ANQ)







