
Oleh Ihsan Nugraha
Ketika perang AS-Israel vs Iran memasuki fase paling panas pada Maret 2026, dunia tidak hanya menyaksikan eskalasi militer. Di balik dentuman senjata, ada krisis energi global yang mulai mengguncang fondasi ekonomi internasional—dan pertanyaan besar yang menggantung: siapa yang sesungguhnya diuntungkan?
Selat Hormuz Lumpuh, Dunia Ikut Terguncang
Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan sekitar 20 persen minyak dunia atau setara 20 juta barel per hari, praktis terhenti. Jalur alternatif hanya mampu menutup kurang dari separuh kesenjangan itu. Harga minyak mentah Brent yang masih berada di kisaran 73 dolar per barel pada akhir Februari, melejit menembus 100 dolar pada 8 Maret—dan sempat menyentuh 126 dolar di puncaknya.
Rantai pasok terguncang. Inflasi merangkak naik di berbagai negara. Industri manufaktur Inggris mencatat akselerasi kenaikan biaya input tercepat sejak Oktober 1992, pasca-Black Wednesday.
Ini bukan lagi sekadar konflik regional. Ini adalah guncangan sistemik yang merambat ke seluruh penjuru dunia.
Perang AS–Israel vs Iran yang Mengalirkan Keuntungan
Dalam setiap perang, selalu ada pihak yang membayar mahal—tetapi selalu ada pula pihak yang justru mengakumulasi keuntungan.
Ketika minyak menyentuh 126 dolar per barel, pasar energi global berubah menjadi ladang emas baru. Perusahaan energi raksasa, negara-negara eksportir, dan spekulan pasar tidak perlu ikut berperang untuk menikmati hasilnya. Ketegangan itu sendiri sudah cukup.
Dalam perang AS–Israel vs Iran ini, lonjakan harga energi menjadi indikator paling nyata bagaimana konflik dapat langsung diterjemahkan menjadi keuntungan ekonomi bagi pihak tertentu.
Di sisi lain, industri militer kembali menemukan relevansinya. Setiap eskalasi membuka ruang bagi kontrak senjata baru, kenaikan anggaran pertahanan, dan legitimasi bagi ekspansi militer. Dalam logika ini, perang bukan sekadar alat politik—ia adalah ekosistem ekonomi tersendiri.
Artinya: konflik tidak selalu harus dimenangkan. Cukup dipertahankan.
Infrastruktur Energi Jadi Target, Dunia Jadi Sandera
Pada 18 Maret 2026, Israel menyerang ladang gas South Pars dan kilang minyak Asaluyeh—dua fasilitas dengan kapasitas gabungan 100 juta meter kubik gas per hari. Produksi langsung terhenti. Pasokan regional tersendat, dan harga global kembali bereaksi keras.
Iran tidak tinggal diam. Sebagai balasan, rudal Iran menghantam Kota Industri Ras Laffan milik Qatar—salah satu fasilitas energi terpenting di kawasan Teluk—dan menyebabkan kerusakan besar yang dikonfirmasi langsung oleh QatarEnergy.
Perang ini telah bergeser dari sekadar perebutan wilayah menjadi perang atas infrastruktur yang menopang kehidupan ekonomi global. Energi, pangan, dan logistik semuanya saling terhubung—ketika satu titik terguncang, dunia ikut bergetar.
Respons Global: Negara Mulai Bertahan, Bukan Berkembang
Respons negara-negara di seluruh dunia memperlihatkan satu realita yang tidak nyaman: kita tidak sedang menghadapi gejolak biasa, melainkan krisis struktural.
Negara-negara besar membuka cadangan energi strategis mereka. Eropa mempertimbangkan peningkatan kapasitas kilang. Asia menerapkan penghematan energi secara ketat. UNCTAD memperingatkan bahwa dampak krisis ini jauh melampaui kawasan konflik—menyentuh pasar energi, transportasi maritim, dan rantai pasok global secara bersamaan.
Dalam situasi seperti ini, prioritas utama negara berubah drastis: dari ekspansi menjadi sekadar bertahan.
Imperialisme Tanpa Koloni: Wajah Baru Kekuasaan Global
Yang kita saksikan hari ini bukan imperialisme dalam bentuk lama. Tidak ada penjajahan langsung, tidak ada bendera asing yang ditancapkan di tanah orang lain.
Namun kontrol tetap ada—melalui jalur energi, sistem keuangan global, dan dominasi militer. Negara yang tidak sejalan tidak harus ditaklukkan secara fisik. Cukup diputus aksesnya, ditekan ekonominya, dan dijadikan titik tekanan dalam sistem global.
Iran berada dalam posisi itu. Tetapi dampaknya tidak berhenti di sana—ia merambat ke Eropa, Asia, hingga negara-negara berkembang yang tidak punya daya tawar cukup dalam sistem energi dunia.
Inilah wajah baru kekuasaan global: tanpa koloni, tetapi dengan kendali penuh.
Apakah Konflik Ini Disengaja?
Pertanyaan ini akan terus muncul dan mungkin tidak pernah terjawab secara sederhana. Namun satu hal semakin jelas: dalam dunia seperti sekarang, konflik tidak perlu dirancang secara sempurna untuk menjadi menguntungkan.
Cukup tidak dicegah, tidak diselesaikan, dan dibiarkan berada dalam suhu yang tepat—tidak terlalu dingin hingga kehilangan relevansi, tidak terlalu panas hingga menghancurkan segalanya.
Dalam kondisi itulah energi tetap mahal, militer tetap dibutuhkan, dan struktur kekuasaan global tetap bertahan.
Indonesia: Menanggung Akibat dari Jarak Jauh
Bagi Indonesia, perang ini mungkin jauh secara geografis, tetapi sangat dekat secara ekonomi. Kenaikan harga energi global berarti tekanan nyata pada APBN, kenaikan biaya logistik, dan ancaman inflasi yang lebih luas bagi masyarakat.
Kita tidak berada di medan perang, tetapi tetap berada dalam sistem global yang membuat kita ikut menanggung akibatnya.
Ketika Perdamaian Tidak Lagi Menjadi Kepentingan Bersama
Perang AS–Israel vs Iran hari ini memperlihatkan satu hal yang tidak nyaman untuk diakui: dalam struktur global saat ini, perdamaian tidak selalu menjadi kepentingan semua pihak.
Selama energi menjadi alat kekuasaan, selama militer menjadi instrumen ekonomi, dan selama ketegangan bisa menghasilkan keuntungan—konflik akan selalu menemukan cara untuk bertahan. Bukan karena dunia tidak menginginkan damai, tetapi karena sebagian pihak tidak pernah benar-benar dirugikan oleh perang.





