
Oleh Ihsan Nugraha
Ketika mendengar kata “perang”, kebanyakan orang langsung membayangkan reruntuhan kota, tangisan pengungsi, atau nisan-nisan tak bernama. Namun ada wajah lain dari perang yang jarang dibicarakan di ruang publik: perang sebagai mesin ekonomi global yang berdenyut di balik industri senjata, kontrak-kontrak raksasa, dan keuntungan bagi segelintir pemain besar.
Sejarah modern penuh contoh bagaimana konflik bersenjata bukan hanya dimaknai sebagai tragedi, tetapi juga peluang bisnis yang terstruktur, terencana, dan dilegitimasi oleh negara.
Military Industrial Complex
Istilah military industrial complex populer sejak Presiden AS Dwight D. Eisenhower pada 1961 memperingatkan rakyat Amerika tentang bahaya kolusi antara militer, pemerintah, dan industri persenjataan. Ia melihat bahwa logika keuntungan bisa mendorong negara-negara besar untuk memelihara ketegangan demi pasar senjata yang terus tumbuh.
Data mendukung kecemasan Eisenhower. Menurut laporan SIPRI (Stockholm International Peace Research Institute), pengeluaran militer global pada 2024 menembus 2,7 triliun dolar AS, Angka ini melonjak sebesar 9,4 persen dibandingkan dengan 2023. Amerika Serikat menyumbang sekitar 37% dari total itu, mengukuhkan dirinya sebagai pasar sekaligus produsen senjata terbesar (SIPRI, 2024).
Industri pertahanan AS dikuasai perusahaan raksasa seperti Lockheed Martin, Raytheon, Northrop Grumman, dan Boeing—semuanya mencetak laba miliaran dolar per tahun dari kontrak pemerintah.

Perang Ukraina: Lonjakan Permintaan Senjata
Contoh mutakhir yang menegaskan perang sebagai mesin ekonomi global adalah perang di Ukraina. Sejak 2022, permintaan sistem artileri, amunisi, drone, dan pertahanan udara melonjak tajam. Negara-negara NATO berlomba mengirim senjata ke Ukraina, sambil memesan lebih banyak untuk mengganti stok mereka sendiri.
Lockheed Martin melaporkan penjualan tahunan 2024 sebesar $71 miliar, naik 5% dari tahun sebelumnya $67,6 miliar (Lockheed Martin, 2024)
Rheinmetall melaporkan peningkatan penjualan grup sebesar 36% pada tahun fiskal 2024, dengan penjualan pertahanan tumbuh sebesar 33% (Rheinmetall, 2024).
Mekanisme Akumulasi Modal Melalui Perang
Perang menciptakan kebutuhan yang “tak ada habisnya”: senjata yang dipakai harus diganti, amunisi diisi ulang, sistem canggih diperbarui. Kontrak jangka panjang bernilai miliaran dolar diteken bahkan sebelum konflik berhenti.
Negara menjadi konsumen utama—membayar lewat anggaran publik. Pajak rakyat dialihkan ke perusahaan senjata. Proyek kesejahteraan sosial sering kali dikorbankan dengan alasan keterbatasan fiskal.
Contohnya:
- Setelah invasi Rusia ke Ukraina, banyak negara Eropa Timur menaikkan target belanja pertahanan ke 2–3% PDB, sesuai permintaan NATO.
- Jerman mengumumkan dana khusus €100 miliar untuk modernisasi militernya pada 2022—dan belanja itu berlanjut hingga sekarang.
Konflik sebagai Alat Politik dan Pasar
Selain menciptakan pasar bagi industri senjata, perang juga membuka jalur politik baru:
- Menekan negara lain untuk membeli sistem persenjataan tertentu agar kompatibel dengan aliansi (contoh: pembelian F-35 oleh negara-negara NATO baru).
- Menggunakan bantuan militer sebagai diplomasi keras untuk membentuk blok politik.
- Menegaskan dominasi teknologi Barat atas negara-negara berkembang.
Pasar senjata bukan hanya soal jual-beli, tetapi juga cara mengatur hubungan kekuasaan global.
Ketimpangan dan Kritik Sosial
Pengeluaran militer yang terus melonjak juga menghadirkan kritik keras:
- Oxfam mencatat bahwa pada 2023, belanja militer dunia lebih dari 12 kali lipat total pendanaan bantuan kemanusiaan global. Mereka menyebut ini sebagai prioritas yang “tidak bermoral” di tengah krisis iklim dan kelaparan (Oxfam, 2023).
- Kampanye ICAN (International Campaign to Abolish Nuclear Weapons) menyoroti peningkatan belanja nuklir oleh negara-negara pemilik senjata nuklir, sambil mengabaikan perjanjian pelucutan senjata.
- Kelompok anti-perang menuding pemerintah “menciptakan rasa takut” untuk menjustifikasi kontrak senjata bernilai triliunan dolar.
Kesimpulan
Perang memang tragedi kemanusiaan. Tetapi di balik retorika keamanan dan patriotisme, ia juga merupakan mesin ekonomi yang memutar keuntungan bagi industri senjata. Negara-negara besar membiayai perlombaan senjata dengan uang publik, menciptakan ketegangan geopolitik yang memastikan pasar mereka terus hidup.
Pertanyaan besarnya: akankah dunia terus menempuh jalan ini demi keuntungan segelintir pihak, sementara biaya kemanusiaannya ditanggung oleh semua?





