
Internasional, daras.id – Pada pertengahan Juni 2025, dunia menyaksikan babak baru konflik di Timur Tengah. Israel, dengan dukungan intelijen dan logistik Amerika Serikat, melancarkan serangan udara berskala besar terhadap fasilitas nuklir dan militer Iran. Operasi yang dijuluki “Rising Lion” ini disebut untuk “mencegah ancaman nuklir” iran.
Namun di balik narasi “pertahanan diri” dan “pencegahan proliferasi nuklir”, terselip pertanyaan fundamental: Apakah benar Iran memiliki senjata nuklir? Ataukah ini sekadar dalih untuk membenarkan agresi politik dan militer terhadap musuh regional utama AS dan Israel?
IAEA: Iran Belum Miliki Senjata Nuklir
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) telah berulang kali menegaskan bahwa tidak ada bukti Iran memiliki senjata nuklir. Direktur Jenderal Rafael Grossi pada Juni 2025 menegaskan:
“We are not saying they (Iran) have nuclear weapons. We are not saying they have a military program.” — IAEA Board of Governors
Meskipun Iran telah memperkaya uranium hingga tingkat 60%, belum ada bukti bahwa pengayaan tersebut diarahkan untuk kepentingan militer. Iran sendiri masih menjadi anggota Traktat Nonproliferasi Nuklir (NPT) dan mengklaim programnya murni untuk energi sipil dan riset medis.
Standar Ganda: Israel dan Senjata Nuklir
Sementara Iran ditekan dengan sanksi dan ancaman militer karena kemungkinan membuat bom nuklir, dunia cenderung diam terhadap fakta bahwa Israel adalah kekuatan nuklir de facto di kawasan tersebut. Israel tidak pernah menandatangani NPT dan secara sistematis menolak inspeksi internasional terhadap fasilitas nuklirnya di Dimona.
Mengapa dunia membiarkan Israel menyimpan senjata nuklir tanpa pengawasan, sementara Iran ditekan bahkan saat belum memilikinya?
Kepentingan Strategis AS di Balik Retorika
Sejak AS keluar dari kesepakatan nuklir JCPOA (Joint Comprehensive Plan of Action) pada 2018, Iran merespons dengan melonggarkan komitmennya. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa langkah AS justru memperburuk situasi diplomatik dan mengarah pada ketegangan militer yang kini pecah menjadi konfrontasi terbuka.
AS secara historis berkepentingan menjaga:
- Hegemoni militer di Timur Tengah
- Akses terhadap jalur minyak global
- Perlindungan terhadap negara-negara Teluk yang pro-Amerika
- Keseimbangan kekuatan yang selalu menguntungkan Israel

Irak 2003: Sejarah yang Berulang?
Dunia belum lupa bagaimana pada 2003, AS menggulingkan Saddam Hussein dengan tuduhan bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal (WMD). Belakangan, tuduhan itu terbukti tidak berdasar. Tetapi perang telah telanjur membunuh ratusan ribu warga sipil dan merusak stabilitas kawasan.
Kini, banyak pihak melihat pola yang serupa: tuduhan tanpa bukti konkret digunakan untuk membenarkan serangan militer dan proyek penggulingan rezim.
Iran sebagai Musuh Regional
Selain soal nuklir, Iran juga dilihat sebagai ancaman karena:
- Dukungannya terhadap Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan milisi Syiah di Irak serta Suriah
- Peran ideologisnya dalam menantang dominasi Barat dan sistem dunia unipolar
- Penolakan terbuka terhadap keberadaan negara Israel
AS dan Israel memiliki insentif tinggi untuk melemahkan Iran secara strategis, baik dengan sanksi ekonomi, isolasi diplomatik, maupun operasi militer terbatas.
Dunia Butuh Keadilan, Bukan Ketakutan
Setiap negara memiliki hak untuk melindungi diri dan menentukan arah pembangunan nasionalnya—termasuk pengembangan energi nuklir untuk tujuan damai. Namun, penggunaan dalih keamanan demi kepentingan hegemonik tidak bisa dibenarkan.
Ketakutan atas nuklir tidak boleh dijadikan pembenaran untuk perang yang tak proporsional, terlebih jika pelakunya sendiri menyimpan ribuan senjata nuklir tanpa diawasi dunia internasional.
(Daras.id Newsroom)





