
Oleh Ihsan Nugraha
Ketika rudal Iran menghantam Israel dan pesawat tempur Zionis membalas di atas Teheran, dunia kembali menyaksikan ritual kekerasan yang akrab. Palestina, Ukraina, dan Iran hari ini menjadi medan perang baru kekuasaan global—tempat di mana kepentingan ekonomi, dominasi wilayah, dan proyek ekspansi dijalankan lewat konflik terbuka.
Namun di balik narasi pertarungan ideologi, agama, atau kedaulatan, ada benang merah yang jarang disentuh, perang adalah bagian dari dinamika kepemilikan dan penguasaan. Yang bertempur adalah negara, yang mendesain adalah elite kekuasaan, dan yang menanggung akibatnya adalah rakyat biasa.
Perang sebagai Proyeksi Kepentingan Modal
Di semua medan konflik, terdapat kepentingan besar yang bertumpu pada akumulasi sumber daya dan kontrol terhadap pasar. Israel dan Gaza, misalnya, bukan hanya pertarungan tentang tanah dan identitas, tapi juga titik kunci dalam lintasan industri militer dunia.
Menurut data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) pada Maret 2023, Israel menempati peringkat ke-10 eksportir senjata terbesar dunia selama periode 2018-2022. Konflik yang berkepanjangan justru menjaga daya tawar dan relevansi sistem senjata buatan mereka.
Di Ukraina, invasi Rusia sejak 2022 tidak bisa dilepaskan dari konflik jalur energi dan dominasi politik kawasan. Ukraina adalah penghubung penting jalur pipa gas Rusia ke Eropa, dan juga wilayah yang kaya hasil bumi serta industri logam berat. Di sisi lain, perang ini mendorong Amerika Serikat dan sekutunya untuk menggelontorkan dana besar ke sektor militer—baik untuk Ukraina maupun untuk memperkuat NATO.
Iran dan Israel, meski sering dibingkai sebagai musuh ideologis, juga memainkan logika pertarungan dominasi kawasan. Iran sebagai penghasil minyak terbesar di dunia memiliki posisi strategis, sementara Israel menjaga kedekatannya dengan blok kapital global. Konflik di antara keduanya bukan hanya tentang ancaman eksistensial, melainkan juga tentang siapa yang boleh mengendalikan selat, jalur udara, dan persepsi global.
Kolonialisme yang Tak Pernah Usai
Di Palestina, kita melihat bentuk kolonialisme yang paling telanjang di abad modern. Perampasan tanah, pembangunan permukiman ilegal, dan blokade ekonomi atas Gaza merupakan instrumen kekuasaan yang menjaga dominasi—bukan hanya dalam arti ideologis atau keamanan, tetapi dalam logika penguasaan atas ruang hidup dan sumber daya.
Sejak berdirinya negara Israel pada 1948 dan perluasan pendudukan pada 1967, proses kolonisasi atas tanah Palestina berlangsung sistematis—dari pengusiran massal, pembangunan permukiman ilegal, hingga blokade atas Gaza. Tepi Barat dan Yerusalem Timur menjadi target ekspansi permukiman, sementara Gaza dijadikan penjara terbuka terbesar di dunia.
Organisasi seperti Amnesty International dan Human Rights Watch telah menyebut sistem yang diberlakukan Israel sebagai bentuk apartheid modern. Ini bukan hanya soal konflik, tapi tentang penindasan struktural yang menjadikan rakyat Palestina sebagai komunitas yang terpinggirkan secara permanen.

Medan Perang Baru Kekuasaan Global: Siapa yang Untung?
Harga perang selalu ditanggung oleh mereka yang tidak punya akses membuat keputusan. Perang memiskinkan yang sudah miskin, meminggirkan yang sudah tersingkir.
Sementara itu, industri senjata dan kelompok investor global meraup keuntungan besar dari kekacauan. Perusahaan seperti Lockheed Martin, mencatat laba USD 8,7 miliar pada 2023—naik 12% dibanding 2022 (Laporan Tahunan Lockheed, 2024). Konflik menjadi semacam mesin ekonomi tersendiri bagi negara dan korporasi.
Ketimpangan dan Kekuasaan Global
Konflik hari ini memperlihatkan wajah dunia yang semakin timpang. Di satu sisi, ada segelintir elite yang menentukan arah perang dan perdamaian. Di sisi lain, ada miliaran manusia yang hidup dalam ketidakpastian.
Dalam logika ini, tidak mengherankan bila perdamaian bukanlah tujuan utama. Perdamaian tidak menjanjikan kontrak pertahanan, tidak menstimulasi ekonomi perang, dan tidak memperkuat legitimasi kekuasaan dalam negeri. Maka wajar jika perdamaian menjadi mahal, bahkan mustahil.
Dunia yang Harus Diubah
Selama sistem global masih membiarkan kehidupan manusia tunduk pada logika untung rugi dan ekspansi tanpa batas, maka perang akan tetap menjadi alat produksi dominasi. Ia akan terus dipoles sebagai pertarungan moral atau pertahanan diri, tapi hakikatnya adalah pertarungan kekuasaan dan kepemilikan.
Dan selama itu pula, rakyat biasa akan terus menjadi barisan yang dikorbankan—bukan karena mereka lemah, tapi karena sistem menempatkan mereka di luar ruang kendali. Perang bukan bencana alam yang tak terelakkan. Ia adalah produk keputusan politik yang diambil oleh segelintir orang.






