
Internasional, daras.id – Setelah diguncang oleh serangan besar Israel ke wilayahnya sehari sebelumnya, Iran resmi meluncurkan serangan balasan besar-besaran ke wilayah Israel pada Sabtu dini hari waktu setempat. Serangan ini merupakan gelombang lanjutan dari eskalasi militer paling serius antara kedua negara dalam sejarah konflik mereka.
Menurut laporan The Guardian, Iran menamakan operasi ini “True Promise III”, dan melibatkan ratusan rudal balistik dan drone bersenjata yang diarahkan ke berbagai kota besar Israel, termasuk Tel Aviv, Haifa, dan bahkan markas besar militer di pusat kota.
Korban dan Kerusakan di Israel
Laporan dari New York Post menyebutkan bahwa salah satu markas besar Pasukan Pertahanan Israel (IDF) terkena langsung oleh rudal Iran. Akibatnya, terjadi kerusakan signifikan di fasilitas strategis tersebut.
Sedikitnya tiga orang tewas, dan lebih dari dua puluh orang luka-luka, menurut laporan Wall Street Journal. Sistem pertahanan “Iron Dome” mampu mencegat sebagian besar serangan, tetapi intensitasnya kali ini membuat sebagian rudal berhasil lolos.
Iran Nyatakan Pembicaraan Nuklir “Tidak Lagi Bermakna”
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat kini “tidak lagi relevan”. Dalam pernyataan resminya, Iran juga menyalahkan AS, Inggris, dan Prancis karena dianggap membiarkan Israel menyerang terlebih dahulu.
“Setiap pangkalan militer AS atau Eropa yang digunakan untuk membantu Israel akan menjadi target sah kami,” ujar juru bicara Kemenlu Iran sebagaimana dikutip dari Times of India.
Dunia Menahan Napas
Serangan ini membuat ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis. Ruang udara ditutup di beberapa negara, termasuk Yordania, Irak, dan Lebanon. Sementara itu, Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar sidang darurat.
Paus Leo XIV dan Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan “de-eskalasi segera,” sementara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menyatakan siaga penuh atas kemungkinan konflik menyebar ke wilayah mereka.
“Jika Iran dan Israel terus bertukar serangan dalam skala ini, kawasan akan menghadapi skenario perang regional terbuka,” kata Daniel Byman, pakar keamanan dari Brookings Institution, dikutip oleh The Guardian.






