SBY: Jenewa, Ego Politik, dan Pilihan Perang atau Damai

SBY: Jenewa, Ego Politik, dan Pilihan Perang atau Damai
Foto @zoelfick Twitter: Akhirnya perang itu terjadi. Israel menyerang Iran lebih dulu setelah berkoordinasi dengan Amerika Serikat.

 

Oleh Nurdin Qusyaeri 

Dalam sebuah cuitan di akun Twitter-nya, Susilo Bambang Yudhoyono tidak sekadar berkomentar soal konflik global. Ia memberi wake-up call geopolitik yang keras kepada dunia: kita sedang berada pada saat-saat yang bisa menentukan nasib sejarah — perang atau perdamaian.

Ia menulis tentang Jenewa — kota yang identik dengan diplomasi dunia, netralitas, dan perjanjian damai — yang kini menjadi medan negosiasi penting antara Amerika Serikat dan Iran. Dan ia tidak memilih kata-kata yang ringan.

Pesan SBY bukan sekadar deskripsi tentang perundingan. Itu adalah kritik tajam terhadap cara pemimpin global bermain ego, reputasi, dan kalkulasi politik di panggung dunia.

1. Perang bukan sekadar pilihan – itu soal ego dan kepentingan

Dalam cuitannya, SBY menegaskan bahwa negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran bukanlah urusan biasa.

Proyek nuklir Iran menjadi pusat ketegangan, dan negosiasi itu berlangsung tidak langsung — bukan karena kedua pihak lemah, tetapi karena masing-masing memiliki kepentingan yang sangat berbeda, bahkan bertentangan.

Inilah yang membuat pernyataannya tajam secara strategi:

Perang bukan sekadar persoalan tentara bertempur. Ia adalah pertarungan ego politik.

Donald Trump — menurut SBY — menghadapi masalah reputasi dan legacy. Bagi Trump, kegagalan negosiasi bukan hanya soal diplomasi yang gagal. Itu berarti noda besar pada citra kepemimpinannya di mata sejarah.

Ali Khamenei — menurut SBY — menghadapi risiko yang lebih eksistensial. Bagi pemimpin tertinggi Iran ini, perang bukan hanya soal konfrontasi eksternal. Ini soal survival rezim.

Jika konflik berkepanjangan bisa mengguncang struktur kekuasaannya, maka semua taruhan menjadi lebih besar daripada sekadar program nuklir.

SBY tidak sedang menjelaskan geopolitik dalam istilah teknis. Ia sedang membuka logika kekuasaan yang menggerakkan keputusan perang atau damai.

Baca Juga:  Perang Dunia III di Ujung Tanduk: Panggung Drama Lima Jagoan Dunia

2. Negosiasi itu melelahkan — dan itu tidak boleh diremehkan

Cuitan SBY bukan romantisasi diplomasi. Ia menekankan bahwa negosiasi adalah sesuatu yang melelahkan, membutuhkan:

  • Kesabaran,
  • Kepintaran membaca lawan,
  • Keberanian membuat kompromi,
  • Dan kemampuan menerima take and give.

Ini bukan pernyataan retoris. Ini adalah peringatan keras bahwa negosiasi berbeda dengan ultimatum — tapi sering kali, ketika ultimatum dipilih karena ego lebih dominan daripada kepentingan bersama, perang siap meletus.

Itu sebabnya SBY menyebut bahwa kemampuan juru runding membaca kedua pemimpin mereka — Trump dan Khamenei — menjadi sangat krusial. Karena perang atau damai akhirnya bukan ditentukan oleh teks perjanjian, tetapi oleh psikologi para pemimpinnya.

3. Dunia sudah matang untuk konflik – tinggal satu keputusan

Kalimat paling menggugah dari tweet SBY adalah bahwa kondisi sudah matang. Dunia, kata dia, bukan lagi berada di fase persiapan konflik — tetapi siap meledak, tinggal menunggu komando.

Ini bukan sekadar hiperbola. Ini analisis geopolitik akut:

Jika kedua pemimpin memutuskan perang, wilayah Timur Tengah akan menjadi teater kehancuran besar — dan efeknya tidak akan berhenti hanya di sana.

Itu bukan tuduhan. Itu peringatan. Dan dunia seharusnya mendengarnya sebagai alarm moral.

4. Pesan SBY adalah alarm — bukan retorika kosong

Postingan di Twitter itu bisa dibaca sebagai catatan teknis. Tapi jika kita menaruhnya dalam konteks sejarah dan psikologi politik global, maka apa yang SBY sampaikan adalah:

  • Alarm moral bahwa perang bukan hanya soal strategi militer, tetapi kegagalan diplomasi akibat ego politik.
  • Bahwa stabilitas dunia bergantung pada kemampuan pemimpin untuk mengendalikan ambisi pribadi — bukan hanya kepentingan nasional.
  •  Bahwa perang itu bukan hitungan matematis. Ia adalah tragedi kemanusiaan.
Baca Juga:  Yahya Sinwar Simbol Perlawanan Abadi

Dan itulah pesan yang membuat pernyataan SBY bukan sekadar cuitan di media sosial.

Ia adalah refleksi tajam seorang negarawan tentang risiko terbesar peradaban manusia di abad ini.

Wallahu’alam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *