Website Berita dan Opini
Indeks

Menghilangnya Kekuatan Relawan Pro Prabowo

Prabowo
Presiden Prabowo Subianto (Sumber gambar: screenshot Instagram @presidenrepublikindonesia)

Oleh Soeryawan Masandang, SE., MM.
Sekretaris Jenderal Gerakan Nasional Masyarakat Pro Prabowo (GASPRO)

Disadari ataupun tidak, kemenangan Presiden Prabowo Subianto pada Pemilihan Presiden dua tahun lalu tidak dapat dilepaskan dari kontribusi besar para pimpinan relawan nasional yang membentuk jaringan dan menyebar hingga ke pelosok kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Mereka tidak hanya berjuang dengan tenaga dan pasukan di lapangan, tetapi juga secara gotong royong mengorbankan waktu, pikiran, bahkan harta benda dengan mengumpulkan dana secara sukarela untuk satu tujuan perjuangan, yakni melihat Prabowo Subianto dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia ke-8.

Perjuangan tersebut bukanlah perjuangan yang singkat. Setelah mengalami beberapa kali kekalahan dalam kontestasi pemilihan presiden, banyak rakyat yang merasakan kesedihan dan empati terhadap perjuangan panjang yang dijalani Prabowo Subianto. Faktor kekalahan yang berulang kali dialami ketika berhadapan dengan kekuatan penguasa saat itu membuat sebagian masyarakat merasa bahwa apabila beliau kembali mengalami kekalahan, maka “Indonesia akan menangis”. Perasaan inilah yang kemudian mendorong masyarakat dari berbagai daerah untuk berbondong-bondong membantu dan menggalang kekuatan suara melalui wadah-wadah relawan yang telah terbentuk.

Dalam catatan kami, terdapat sekitar 320 organisasi relawan nasional yang berdiri dan berjuang untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Seluruhnya terdaftar secara nasional dan menjadi bagian dari Badan Pemenangan Presiden 2024.

Ketika Prabowo Subianto akhirnya diumumkan sebagai Presiden Republik Indonesia terpilih, berbagai kelompok masyarakat dan relawan di seluruh pelosok tanah air menyatakan kegembiraan dan rasa syukur yang mendalam. Namun kegembiraan tersebut tidak hanya dirasakan oleh relawan dan masyarakat pendukung, melainkan juga oleh para pelaku politik, pemikir politik, dan pimpinan partai-partai yang menjadi aktor utama pengusung pasangan calon terpilih.

Pada fase pasca-kemenangan inilah mulai muncul dinamika pembagian kekuasaan. Berbagai kelompok politik berusaha mendapatkan posisi strategis sebagai bentuk kompensasi atas kerja-kerja politik yang dilakukan selama masa kampanye. Dalam proses tersebut terjadi tarik-menarik kepentingan, lobi-lobi politik, adu pengaruh, bahkan adu kekuatan sumber daya untuk memperebutkan berbagai posisi penting, baik demi kepentingan pribadi maupun kelompok dalam skala besar.

Fenomena ini sesungguhnya bukan hal baru dalam dunia politik Indonesia. Inilah yang sering disebut sebagai pesta besar partai politik. Lobi-lobi tertutup berlangsung di berbagai tingkatan. Hal-hal yang sebelumnya dianggap tidak lazim menjadi lazim, dan yang sebelumnya dianggap tidak pantas menjadi tampak pantas. Dari proses itulah kemudian terbentuk kabinet seperti yang kita lihat saat ini. Dalam situasi seperti itu, berbagai teori dan prinsip manajemen yang dipelajari di sekolah maupun perguruan tinggi seolah kehilangan relevansinya di hadapan realitas politik.

Baca Juga:  Kebijakan Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto Bagian 1

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: di manakah para tokoh relawan Pro Prabowo yang dahulu berjuang begitu keras? Mereka memiliki jasa yang besar dalam kemenangan ini, tetapi kini seolah menghilang ditelan bumi. Inilah yang menjadi fokus analisis dalam tulisan ini.

Dalam dunia politik, praktik saling mendahului, menyerobot peluang, dan memanfaatkan momentum merupakan sesuatu yang lazim terjadi. Mereka yang memiliki akses, jaringan, dan sumber daya keuangan yang kuat biasanya menjadi pihak yang memenangkan persaingan. Sebaliknya, dalam dunia relawan, yang lebih menonjol adalah kerja, loyalitas, dan pengabdian. Kalaupun ada relawan yang akhirnya memperoleh peran dalam proses pembagian kekuasaan, jumlahnya sangat terbatas dan biasanya merupakan orang-orang pilihan dengan kapasitas serta kriteria tertentu.

Jika kita melihat kembali pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, partai politik memang menjadi kendaraan utama untuk memperoleh tiket pencalonan. Namun setelah itu, peran relawan justru diperbesar sebagai instrumen penting dalam kampanye dan penggalangan dukungan publik. Karena itu tidak mengherankan apabila setelah Jokowi menjadi Presiden, banyak tokoh relawan diberi ruang untuk menduduki berbagai posisi strategis di luar kabinet.

Langkah tersebut dilakukan agar relawan dapat menjadi bagian dari sistem pendukung yang efektif dalam menjaga, mengawal, dan membela Presiden. Baik dari dalam maupun dari luar pemerintahan. Hingga hari ini, kita masih dapat melihat bagaimana kelompok relawan Jokowi tetap aktif membela mantan Presiden tersebut, terlepas dari benar atau salahnya suatu persoalan. Mereka tetap berada di garis depan untuk menjaga figur yang pernah mereka perjuangkan.

Lalu bagaimana dengan era Presiden Prabowo Subianto? Di manakah para tokoh relawan yang dahulu menjadi garda terdepan kemenangan? Mengapa mereka tidak memainkan peran yang signifikan ketika Presiden Prabowo menghadapi berbagai sorotan dan kritik yang datang dari berbagai arah selama hampir dua tahun terakhir?

Di sisi lain, fungsi kelembagaan yang berada di lingkaran terdekat Presiden, termasuk lembaga yang diharapkan menjadi think tank strategis seperti Kantor Staf Presiden (KSP), dinilai belum berjalan secara optimal. Akibatnya, komunikasi politik Istana menjadi kurang efektif dan sering menimbulkan berbagai persepsi negatif di masyarakat.

Sebagai saksi hidup yang mengetahui secara langsung bagaimana proses lahirnya relawan-relawan Pro Prabowo, saya melihat bahwa kelompok-kelompok relawan tersebut sesungguhnya telah berdiri jauh sebelum masa kampanye resmi dimulai. Mereka tumbuh secara mandiri di berbagai daerah dan bekerja selama berbulan-bulan dengan dukungan masyarakat yang luas.

Melihat besarnya potensi gerakan tersebut, Tim Kampanye Nasional kemudian merasa perlu menghimpun dan mengoordinasikan seluruh relawan agar tidak bergerak sendiri-sendiri. Karena itu dibentuklah wadah koordinasi relawan nasional yang berada di bawah naungan Tim Kampanye Nasional. Seluruh organisasi relawan yang telah aktif di berbagai daerah diwajibkan mendaftarkan diri secara nasional.

Baca Juga:  Mengurai Secara Spesifik Kebijakan Sang Presiden Prabowo Subianto

Dari proses tersebut terhimpun sekitar 320 organisasi relawan nasional yang kemudian bergerak dalam satu komando dari pusat hingga daerah. Kekuatan relawan ini diperkirakan mampu menyumbangkan jutaan suara bagi pasangan Prabowo-Gibran. Jumlah tersebut tentu bukan angka yang kecil. Bahkan dapat dikatakan menjadi salah satu faktor penting yang membantu kemenangan pasangan tersebut dalam satu putaran.

Meredupnya Kekuatan Relawan Pro Prabowo

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: ke manakah kekuatan relawan Pro Prabowo saat ini? Mengapa mereka menghilang?

Pertanyaan seperti ini sering muncul di kalangan pekerja politik maupun para pengamat politik. Mengapa kekuatan relawan tersebut tidak ditata, dirawat, dan dikelola dengan baik? Mengapa relawan Jokowi tetap eksis hingga hari ini, sementara relawan Prabowo justru seolah tidak terlihat?

Fenomena menghilangnya relawan ini bermula setelah pesta kemenangan usai. Pada saat yang sama muncul berbagai tokoh yang dianggap sebagai “pahlawan kesiangan”, serta dibentuknya wadah baru bernama Gerakan Solidaritas Nasional (GSN) yang dipimpin oleh Rosan Perkasa Roeslani. Organisasi ini dimaksudkan untuk menghimpun kembali 320 relawan nasional ke dalam satu wadah baru.

Namun dalam proses pembentukannya, banyak pimpinan pusat dari 320 organisasi relawan nasional yang merasa tidak dilibatkan. Inilah yang menjadi awal munculnya kekecewaan. Kekecewaan tersebut semakin besar karena tidak terlihat adanya aktivitas nyata yang dapat membuka akses dan ruang komunikasi bagi para pimpinan relawan yang selama ini bekerja di lapangan.

Akibatnya, banyak relawan merasa menjadi “pahlawan tanpa jasa”. Di satu sisi mereka harus menanggung berbagai janji politik yang pernah disampaikan kepada masyarakat, tetapi di sisi lain mereka tidak memiliki akses untuk menjelaskan maupun memperjuangkan berbagai aspirasi tersebut. Pada akhirnya mereka memilih diam dan hanya menjadi penonton terhadap berbagai perkembangan yang terjadi.

Dalam situasi seperti ini, berbicara dianggap salah, tetapi diam pun dianggap salah. Karena itu sudah saatnya relawan Pro Prabowo kembali diberikan ruang. Setidaknya untuk diajak berdialog dan berbagi peran dalam mengomunikasikan ide, gagasan, serta arah kebijakan yang menjadi pemikiran Presiden.

Belum terlambat untuk melakukan hal tersebut. Namun peran relawan harus ditempatkan secara proporsional dan pada posisi yang tepat. Relawan tidak harus menjadi penguasa, tetapi mereka perlu diberi ruang untuk tetap berkontribusi dalam menjaga komunikasi publik, memperkuat dukungan masyarakat. Serta mengawal agenda besar pemerintahan yang dahulu mereka perjuangkan bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *