
Guru-guru madrasah mengeluhkan penghargaan pemerintah ke anggota DPR.
Oleh Nurdin Qusyaeri
Februari 2026.
Ruang sidang DPRD mendadak berubah jadi ruang konseling massal.
Sebanyak 3.587 guru PPPK paruh waktu menangis. Tangis yang bukan dibuat-buat. Bukan demi konten. Bukan demi drama. Tapi karena gaji tak kunjung cair.
Ironinya, di negeri yang katanya kaya raya.
Lucu? Tidak.
Tragis? Sangat.
Satire? Sudah pasti.
Di media sosial beredar video dengan caption yang terasa seperti puisi kemarahan rakyat:
“Nyumbang hutan Brazil 16T bisa… Bayar iuran buat Trump 17T bisa… Bagi-bagi motor buat surveyor bisa… Gentengisasi 1T bisa… BUAT BAYAR GAJI GURU BILANGNYA GA ADA…!!”
Kalau ini bukan ironi tingkat dewa, saya tidak tahu lagi apa namanya.
Guru Itu Fondasi, Bukan Beban Anggaran
Sejak zaman , pendidikan dianggap sebagai cahaya. Guru adalah orang yang menuntun manusia keluar dari gua kebodohan.
Tapi di Indonesia 2026, guru malah seperti Sisyphus—kerja terus, gaji tersendat, harapan terselip di antara regulasi.
Kita punya konstitusi yang mengamanatkan 20% APBN untuk pendidikan. Angkanya gagah. Presentasinya keren. Slide power point-nya pasti berwarna biru elegan.
Tapi di lapangan?
Guru masih bertanya: “Gaji saya kapan cair, Pak?”
Teori Keadilan vs Praktik Keuangan
pernah berbicara tentang veil of ignorance. Bayangkan kita merancang sistem tanpa tahu kita akan lahir sebagai pejabat atau guru honorer.
Kalau kita tidak tahu posisi kita, apakah kita akan membuat sistem seperti ini?
Saya ragu.
Kecuali kalau kita memang hobi berjudi dengan nasib orang lain.
Dalam kacamata , ini jelas alienasi. Guru bekerja membangun masa depan bangsa, tapi hasil kerjanya—yakni penghargaan dan kesejahteraan—tidak kembali padanya.
Yang kembali hanya motivasi: “Tetap semangat ya, Bu.”
Semangat itu bagus. Tapi kalau perut kosong, semangat juga bisa masuk angin.
Negara sebagai Leviathan, Tapi Kadang Seperti Siput
menyebut negara sebagai Leviathan—makhluk besar yang melindungi warganya.
Masalahnya, Leviathan kita kadang terlihat seperti siput. Lambat ketika rakyat menunggu. Cepat ketika proyek besar dipoles kamera.
Alasan yang sering terdengar:
“Bukan disengaja, hanya masalah administratif.”
Ah, administratif. Kata yang ampuh untuk meredam tangis tanpa benar-benar menghapus sebabnya.
Kalimat itu terdengar rapi di meja birokrasi. Tapi terdengar kejam di ruang sidang yang dipenuhi guru yang belum menerima haknya.
Dedikasi Guru: Terlalu Mulia untuk Sistem yang Kaku
Yang membuat hati tercekat bukan hanya soal gaji. Tapi kalimat yang keluar dari para guru itu:
“Kasihan anak-anak.”
Mereka tetap mengajar. Tetap masuk kelas. Tetap menulis di papan tulis. Seolah-olah sistem tidak sedang menguji kesabaran mereka.
menyebut kondisi manusia dalam tekanan moral sebagai “ketakutan dan gemetar.” Guru-guru kita hidup dalam kondisi itu setiap hari.
Sementara kita, mungkin sibuk berdebat di timeline.
Absurditas yang Terlalu Nyata
Situasi ini mengingatkan pada absurditas ala . Dunia terasa tidak masuk akal, tapi kita tetap harus menjalaninya.
Guru siang mengajar.
Malam menjadi ojek daring.
Besoknya kembali mengajar lagi.
Kalau ini bukan definisi multitasking tingkat dewa, saya tidak tahu lagi apa.
Kita ingin generasi emas 2045. Tapi lupa membayar arsitek peradabannya.
Bangsa yang Melupakan Gurunya
pernah berkata bahwa bangsa yang mengabaikan pengetahuan akan hilang dari sejarah.
Saya ingin menambahkan satu kalimat:
Bangsa yang mengabaikan gurunya akan kehilangan masa depan sebelum sempat mencapainya.
Masalah ini bukan sekadar soal pencairan dana. Ini soal prioritas. Soal keberpihakan. Soal apakah pendidikan benar-benar dianggap investasi, atau hanya jargon pidato.
Pamungkas
Negeri ini rajin membuat slogan.
Rajin membuat program.
Rajin membuat seremoni.
Tapi kadang lupa hal paling sederhana: membayar orang yang membangun manusia.
Jika anggaran bisa mengalir ke banyak tempat, mestinya ia juga bisa mengalir ke ruang kelas.
Karena kalau guru terus menangis, jangan heran jika suatu hari bangsa ini bangun dalam keadaan kehilangan arah.
Dan saat itu terjadi, kita mungkin akan berkata:
“Ternyata yang mahal bukan proyeknya.
Yang mahal adalah harga dari kelalaian.”
Wallahu’alam
Kampung Cipeundeuy, tungtung Dunya, 11 Pebruari 2026





