
Oleh Popi Sri Mulyani
Rancaekek. Rabu, 11 Februari 2026.
Bukan sekadar titik di peta, bukan pula hanya penanda waktu. Hari dan tempat itu menjadi saksi bahwa ilmu sejati tidak pernah tamat, dan silaturahmi yang dibangun karena Allah tidak mengenal kata selesai.
Meskipun perkuliahan telah usai, ruang kelas telah kosong, dan absensi tak lagi dipanggil satu per satu, namun ada satu hal yang tak pernah berakhir: ikatan hati kami—emak-emak KPI Tamhied 25.
Kami masih sholid.
Kami masih saling terhubung.
Kami masih saling menguatkan.
Ada rindu yang tak mampu dititipkan pada kata.
Ada ruang di hati yang terasa kosong sejak kelas tak lagi kami duduki.
Ada keinginan diam-diam untuk kembali mendengar suara dosen memanggil nama kami, kembali menatap papan tulis, kembali merasa kecil di hadapan ilmu.
Namun takdir membawa kami pada bentuk pertemuan yang lebih dalam.
Kini, perjumpaan itu tak lagi terjadi di ruang kelas, tetapi di ruang hati.
Kami ingin menelusuri setiap inci langkah perjuangan sahabat kami—dari rumah masing-masing menuju kampus tercinta. Kami ingin menapaki kembali jalan menuju oase ilmu. Kami ingin merasakan kembali peluh, lelah, dan doa yang dulu kami langitkan di setiap gerbang peradaban bernama KPI.
Maka kami sepakati:
jika kelas telah selesai, rumah-rumah kami akan menjadi kelas baru.
Jika kampus tak lagi kami datangi setiap pekan, maka halaqah akan tumbuh di ruang tamu, di sudut rumah, di atas sajadah, di antara air mata dan doa.
Karena kami adalah pembelajar.
Dan pembelajar sejati akan selalu haus ilmu.
Betapa haru ketika para dosen—di tengah segudang kesibukan, tanggung jawab akademik, dan amanah kehidupan—masih berkenan melangkahkan kaki, menyempatkan waktu, dan menghadiahkan ilmu untuk kami. Bukan karena kewajiban, tapi karena cinta pada ilmu dan murid-muridnya.
Halaqah perdana ini diisi oleh Ustadz Hendi Rustandi, M.Sos, yang menetapkan bekal ruhani untuk menyambut Ramadhan. Beliau tidak sekadar mengajar, tetapi mengetuk hati kami— mengajak kami menata niat, membersihkan jiwa, dan menyiapkan Ramadhan bukan dengan rutinitas, melainkan dengan keimanan yang tulus, berharap hanya kepada Allah semata.
Dulu, kami datang ke kampus dengan identitas daerah masing-masing.
Hari ini, kami datang dengan satu identitas: keluarga besar KPI.
KPI telah menjadi rumah kedua kami.
Rumah yang menumbuhkan, bukan sekadar mengajar.
Rumah yang menguatkan, bukan sekedar meluluskan.

Walau baru beberapa bulan kami lulus, rindu ini tak mau menunggu lama. Ada Bu Neni dan Ambu yang menjadi tuan rumah, meskipun Bu Neni sedang kurang fit tetapi beliau tetap menghadirkan jamuan terbaik untuk kami, Ada Umi Lismayanti yang sudah bersiap sejak pukul tujuh pagi.
Ada Bu Hj. Ros yang telah berada di lokasi sejak pagi buta, padahal acara baru dimulai pukul sebelas. Ada Anin yang pulang dari Jakarta jam dua dini hari, namun tetap menyempatkan memasak kepala kambing untuk kebersamaan.
Ada Teh Siti yang jatuh dari motor, namun tetap berangkat—menyambung perjalanan dengan kereta. Ada Teh Ina dengan tragedi sepatu dan kerudungnya yang cukup membuat ngakak seisi mobil. Ada Bu Haji Dewi yang lebih dulu bergulat dengan laporan TK.
Ada Bu Minah sang Rosi —warna khas kelas kami. Dan tentunya ada Sohibul yang lain yang tak bisa disebut satu persatu, namun membawa cerita masing-masing.

Inilah kami.
Dengan segala keunikan, keterbatasan, dan luka masing-masing.
Namun disatukan oleh satu rasa: cinta pada ilmu dan persaudaraan.
Kalau kata Ambu, memang sudah sangat pas emak-emak pembelajar dan aktifis organisasi seperti kami berlabuh di KPI. Karena KPI bukan sekedar program studi—ia adalah ruang tumbuh, ruang pulang, dan ruang perjuangan.
Semoga silaturahmi ini tidak cukup hanya di kelas dan kampus.
Semoga halaqah ini menjadi amal jariyah.
Semoga langkah kecil ini dicatat Allah sebagai bukti bahwa kami pernah jatuh cinta pada ilmu—dan tak pernah berhenti mencarinya.
Karena sesungguhnya, halaqah yang dibangun dengan cinta dan niat karena Allah… tidak akan pernah berakhir.
“Kami telah lulus dari kelas, namun belum lulus dari rindu kepada ilmu. Dan selama rindu itu masih hidup, halaqah ini akan terus berdenyut dalam doa.”






