
Daras.id – Pasukan Israel tembaki diplomat dari 31 negara saat mereka mengunjungi kota Jenin, wilayah Tepi Barat yang diduduki. Insiden pada Rabu (21/5) ini memicu kecaman internasional dan tuntutan penyelidikan dari berbagai negara.
Menurut laporan The Guardian, 25 diplomat sedang menjalani misi resmi yang diselenggarakan oleh Otoritas Palestina untuk memantau situasi kemanusiaan di Jenin. Negara-negara yang terlibat antara lain Italia, Kanada, Inggris, Tiongkok, Rusia, Mesir, dan Yordania.
Tembakan terdengar saat para diplomat sedang memberikan pernyataan kepada media. Mereka pun berlarian untuk mencari perlindungan. Militer Israel mengklaim bahwa kunjungan itu memang diizinkan, namun rombongan “menyimpang dari rute yang disetujui”. Oleh karena itu, tentara melepaskan “tembakan peringatan”.
Pernyataan itu tidak meredam kemarahan dunia internasional. Sejumlah negara seperti Kanada, Inggris, Prancis, dan Jerman langsung memanggil duta besar Israel di ibu kota masing-masing. Mereka menilai insiden ini sebagai tindakan yang “tidak dapat diterima”.
The Guardian mencatat, Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyatakan bahwa pihaknya menuntut penjelasan segera. Empat diplomat Kanada termasuk dalam rombongan yang ditembaki. “Ini sama sekali tidak bisa diterima,” ujarnya.
PBB juga bereaksi. Juru bicara Sekjen PBB António Guterres menyatakan bahwa para diplomat memiliki kekebalan dan harus dihormati. “Keselamatan mereka harus dijamin kapan pun dan di mana pun,” katanya.
Kementerian Luar Negeri Palestina bahkan menuduh Israel sengaja menargetkan rombongan diplomatik dengan peluru tajam. Mesir menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap seluruh norma diplomatik.
Menanggapi tekanan internasional, militer Israel menyampaikan permintaan maaf atas “ketidaknyamanan” yang terjadi. Mereka juga menyatakan akan menyampaikan hasil penyelidikan internal kepada para diplomat terkait.

Eskalasi Serangan dan Krisis Kemanusiaan di Gaza
Insiden Israel tembaki diplomat di Tepi Barat ini terjadi di tengah operasi militer yang terus meluas di wilayah pendudukan. Jenin sebelumnya menjadi target serangan besar pada Januari, yang menyebabkan pengungsian besar-besaran warga Palestina.
Di Gaza, eskalasi serangan juga terus berlangsung. Menurut laporan The Guardian, pada hari yang sama sedikitnya 82 warga sipil tewas, termasuk bayi berusia satu minggu dan 14 anggota dari satu keluarga di Khan Younis.
Kementerian Kesehatan Gaza menyebut total korban jiwa telah melampaui 53.000 orang. Mayoritas adalah perempuan dan anak-anak. Meskipun Israel telah membuka sebagian jalur bantuan, distribusinya sangat terhambat oleh berbagai faktor seperti kerusakan jalan, kelangkaan bahan bakar, dan prosedur militer Israel yang rumit.

Kritik Keras dari Parlemen Israel
Dari dalam Israel sendiri, suara-suara kritik mulai terdengar. Tokoh oposisi Yair Golan menyebut bahwa “negara waras tidak membunuh bayi sebagai hobi”. Ia memperingatkan bahwa Israel berisiko menjadi negara pariah. Kritik serupa juga dilontarkan mantan Perdana Menteri Ehud Olmert.
Namun Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menolak kritik itu. Ia menyebutnya sebagai “propaganda palsu” yang merugikan Israel. “Saat tentara kami melawan Hamas, ada pihak yang justru menyebarkan fitnah terhadap negara sendiri,” ujarnya.
Upaya negosiasi gencatan senjata di Doha, Qatar, kembali menemui jalan buntu setelah Israel menarik sebagian besar tim perundingnya.






