Makna Qurban, Jejak Pengabdian: Muhammad Hoerudin Amin Tebar Kepedulian di Pesantren Darul Huda

Muhammad Hoerudin Amin
Anggota DPR RI Dapil Jawa Barat XI Menyerahkan Hewan Qurban (Foto: daras.id)

 

Tasikmalaya, DARAS.ID — Di tengah gema takbir dan haru suasana Idul Adha, sebuah potret pengabdian menyentuh hati terukir di Desa Sindang Jaya, Kecamatan Cikalong, Kabupaten Tasikmalaya. Anggota DPR RI Dapil Jawa Barat XI dari Partai Amanat Nasional (PAN), Muhammad Hoerudin Amin, hadir bukan hanya membawa hewan qurban, tapi juga membawa pesan cinta, ketulusan, dan kepedulian yang melampaui sekadar seremoni politik lima tahunan.

Hadir Bukan Sekadar Seremoni Politik

Dengan langkah mantap dan senyum bersahaja, Hoerudin menyerahkan hewan qurban di Pondok Pesantren Darul Huda—sebuah lembaga pendidikan yang telah menjadi benteng moral dan spiritual masyarakat Cikalong. Sebagai Ketua Ikatan Alumni (IKA) IAI PERSIS Bandung, kehadirannya tak sekadar simbolis, melainkan refleksi nyata dari sosok wakil rakyat yang hadir membersamai denyut kehidupan umat di akar rumput.

“Qurban bukan hanya tentang menyembelih hewan. Ia adalah penyembelihan ego, keserakahan, dan ketidakpedulian. Dalam setiap tetes darah qurban, ada harapan, ada doa, dan ada cinta untuk sesama,” ujar Hoerudin dengan mata yang berkaca.

Muhammad Hoerudin Amin
Pemotongan Hewan Qurban (dokpri)

Warga dan santri pun menyambut hangat kehadirannya. Di tengah panasnya matahari dan bau khas rumput yang menempel pada tubuh hewan qurban, suasana berubah menjadi sakral dan mengharukan. Anak-anak pesantren membantu membagikan daging dengan semangat gotong royong. Kaum ibu menyiapkan hidangan sederhana. Warga tersenyum—bukan karena mendapat daging, tapi karena merasa diperhatikan.

Qurban sebagai Simbol Ketulusan dan Kasih Sayang

Hoerudin menegaskan bahwa ibadah qurban adalah bentuk politik kasih sayang, bukan transaksional. Bahwa seorang legislator haruslah menjadi pelayan, bukan penguasa. “Pelayanan publik sejati bermula dari ketulusan hati dan keberpihakan pada masyarakat bawah,” ungkapnya penuh semangat.

Baca Juga:  Muhammad Hoerudin Amin: Pemerintah Harus Perioritaskan Guru yang Telah Lama Mengabdi

Momen ini bukan hanya menandai sebuah ibadah, melainkan membangun kembali jembatan kepercayaan antara rakyat dan wakilnya. Di tengah keringnya empati dalam politik, langkah Hoerudin menjadi embun segar yang menggugah: bahwa di balik kursi kekuasaan, masih ada hati yang berdetak untuk umat.

Pesantren Darul Huda mencatat hari itu dalam sejarahnya—bukan karena jumlah hewan qurban, tapi karena jejak keikhlasan yang ditinggalkan oleh seorang putra daerah yang kembali pulang membawa kepedulian.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh ambisi, Muhammad Hoerudin Amin memilih sunyi yang bermakna: hadir, memberi, dan mencintai dalam diam yang menggetarkan. Sebab dalam makna qurban, ia tidak hanya berperan sebagai politisi, tapi sebagai pelayan sejati masyarakat.

Nurdin Qusyaeri, DARAS.ID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *