Para Penjilat, Akan Mati Cepat Saat Lidahnya Kering

Para Penjilat
Ilustrasi

Oleh Hendi Rustandi*

Voltaire, filsuf besar Prancis, pernah berucap sinis: “Siapa yang hidup dari menjilat akan mati saat lidahnya kering.” Ucapan ini sederhana tetapi menohok, terutama bila kita melihat realitas kehidupan sosial dan politik hari ini.

Makna Menjilat dalam Kehidupan

Menjilat dalam arti sebenarnya adalah perilaku mencari keuntungan dengan merendahkan diri, memuji berlebihan, atau berpura-pura setia hanya demi kepentingan pribadi.

Orang yang menjilat sering tampak “aman” dan “disukai” karena selalu menyesuaikan diri dengan kekuasaan. Namun, sebagaimana diingatkan Voltaire, hidup dengan modal menjilat hanya bertahan selama lidah itu masih basah. Begitu sumber kekuasaan kering, habislah pamornya.

Baca Juga:  Allah masih Sayang, Meski Diambang Maut

Fenomena Menjilat dalam Politik

Fenomena ini mudah kita temukan di Indonesia. Dalam dunia politik, banyak orang mendadak menjadi pendukung garis keras ketika kursi kekuasaan masih hangat. Mereka tampil seolah paling loyal, paling berteriak, dan paling berjuang.

Namun, ketika masa jabatan berakhir atau kekuasaan berpindah, mereka juga yang paling cepat berbalik arah. Dari “setia” berubah menjadi “pengkhianat”, hanya karena lidahnya sudah kehilangan sumber kelembapan.

Menjilat di Dunia Birokrasi

Dalam birokrasi, pola yang sama juga terlihat. Ada pegawai yang rajin mendekat, memuji, bahkan selalu setuju dengan atasan. Hal itu bukan karena gagasan, melainkan demi posisi aman atau promosi jabatan.

Begitu atasan pensiun, hilanglah tempat bergantung. Orang yang hidup hanya dari basa-basi semacam ini biasanya cepat tersingkir karena tidak punya kompetensi nyata untuk berdiri di atas kaki sendiri.

Menjilat di Dunia Akademik dan Organisasi

Bahkan di dunia kampus dan organisasi mahasiswa, perilaku menjilat juga tidak asing. Ada mahasiswa yang rajin menyebut nama dosen dalam setiap forum, bukan untuk menghargai, tetapi demi nilai atau rekomendasi.

Ada pula aktivis yang sibuk mendekati senior, bukan karena gagasan perjuangan, melainkan agar mendapat panggung. Begitu kesempatan hilang, mereka tenggelam dalam anonim, sebab sejak awal memang tidak pernah berdiri dengan integritas.

Baca Juga:  Ketika Guru Disebut Beban Negara

Integritas adalah Kekuatan Sejati

Tulisan ini bukan sekadar sindiran, melainkan juga pengingat. Dunia boleh saja pragmatis, tetapi integritas tetaplah fondasi yang tahan lama.

Mereka yang berdiri di atas karya, kejujuran, dan prinsip akan tetap dikenang meski zaman berganti. Sebaliknya, mereka yang hidup dari menjilat—benar kata Voltaire—akan mati saat lidahnya kering, dan keringnya lebih cepat dari yang disangka.

*Penulis: Dosen dan Mahasiswa Doktoral

Editor: San

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *