
DARAS.ID – Ribuan warga Israel mengikuti Pawai Bendera Israel di Yerusalem yang digelar setiap tahun untuk memperingati pendudukan Yerusalem Timur dalam Perang Enam Hari 1967. Namun, aksi ini kembali diwarnai kekerasan dan seruan rasis. Slogan “Matilah orang Arab” terdengar dari sejumlah peserta muda saat melintasi kawasan Kota Tua, memicu kecaman luas.
Pawai tahun ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan akibat perang di Gaza dan aksi kekerasan yang terus meningkat di Tepi Barat. Menteri Keamanan Nasional sayap kanan, Itamar Ben Gvir, turut memanaskan suasana dengan mengunjungi kompleks Masjid Al-Aqsa beberapa jam sebelum pawai berlangsung.
Slogan Rasis Pada Saat Pawai Bendera Israel di Yerusalem
Kekerasan pecah tidak lama setelah tengah hari ketika pemuda-pemuda Israel yang sebagian besar berasal dari permukiman ilegal di Tepi Barat mulai melecehkan pemilik toko Palestina yang belum sempat menutup lapak mereka. Sejumlah jurnalis dan aktivis Israel yang hadir juga menjadi sasaran intimidasi dan serangan fisik.
Seorang saksi mata dari Reuters melaporkan bahwa seorang perempuan Palestina dan beberapa jurnalis diludahi oleh sekelompok pemuda Yahudi. Polisi Israel yang berjaga di lokasi tidak melakukan tindakan apa pun. Ketika ditanya mengapa para pemuda tidak ditangkap, seorang polisi menjawab bahwa mereka masih di bawah usia 18 tahun.
Yair Golan, tokoh oposisi dari sayap kiri dan mantan wakil panglima militer Israel, menyebut aksi tersebut “memalukan dan bertentangan dengan nilai-nilai mencintai Yerusalem.”
Kecaman dan Respons Internasional
Nabil Abu Rudeineh, juru bicara Presiden Palestina Mahmoud Abbas, mengecam pawai tersebut dan kunjungan Ben Gvir ke kompleks Al-Aqsa, yang menurutnya merupakan tindakan provokatif yang “mengancam stabilitas kawasan.”
Pawai Bendera ini setiap tahun melewati Kawasan Muslim di Kota Tua Yerusalem menuju Tembok Barat, situs suci dalam tradisi Yahudi yang berdampingan dengan Masjid Al-Aqsa. Pawai tahun 2021 memicu perang singkat antara Israel dan Hamas, dan pada 2025 ini kembali berlangsung di tengah perang berkepanjangan di Gaza.
Banyak negara di dunia tidak mengakui klaim Israel atas seluruh Yerusalem dan tetap menganggap Yerusalem Timur sebagai wilayah yang diduduki. Namun, pada tahun 2017, Presiden AS Donald Trump mengakui seluruh Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan memindahkan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke kota itu.






