
Oleh Ihsan Nugraha
Dalam beberapa hari terakhir, dunia kembali menyaksikan babak tragis dari konflik Israel–Palestina. Serangan Israel di Gaza, baik melalui serangan udara maupun darat, telah menewaskan ratusan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, serta menghancurkan infrastruktur vital seperti rumah sakit dan pusat distribusi bantuan. Namun, yang paling mencolok bukan hanya skala kehancuran, melainkan ketidakmampuan komunitas internasional untuk menghentikan penderitaan ini.
Serangan Israel di Gaza dan Dampaknya terhadap Warga Sipil
Laporan dari The Guardian (25/5/25) menggambarkan suasana mencekam di Gaza:
“Setiap sudut jalan dipenuhi manusia. Mereka tinggal di tempat pembuangan sampah, lubang pembuangan. Tidak ada air, tidak ada makanan, tidak ada tenda, tidak ada selimut, tidak ada apapun. Orang-orang sangat lapar, tetapi tidak ada yang bisa diberikan kepada mereka.”
Serangan yang oleh Israel dinamai operasi “Gideon’s Chariots,” disebut sebagai upaya “membasmi Hamas hingga ke akar.” Namun, data di lapangan berbicara lain. Laporan WHO per 22 Mei menyebutkan 94% fasilitas kesehatan di Gaza kini rusak atau tidak berfungsi. Rumah Sakit Eropa Gaza diserang bertubi-tubi, menyebabkan “sistem kesehatan Gaza berada di titik kehancuran total,” tegas WHO.
Solidaritas yang Retak dan Standar Ganda
Sayangnya, dunia internasional, yang seharusnya menjadi penengah, lebih sibuk menakar untung-rugi geopolitik daripada merespons tragedi kemanusiaan ini. Uni Eropa mulai menunjukkan retakan dukungan pada Israel, dengan Inggris, Prancis, dan Spanyol mempertimbangkan sanksi dan penghentian perjanjian dagang. Namun, Amerika Serikat tetap menjadi tameng politik Tel Aviv, menolak resolusi PBB dan menyalahkan “ketidakjelasan posisi Hamas.”
Kita harus bertanya: apakah nilai-nilai universal tentang hak asasi manusia hanya berlaku untuk sebagian umat manusia? Apakah tragedi di Gaza tidak cukup untuk menggerakkan simpati dunia sebagaimana yang terjadi di Ukraina? Atau ini semata karena penderitaan Palestina tak menguntungkan secara politik dan ekonomi bagi kekuatan global?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk membuka wacana kritis di tengah banjir informasi yang terkadang hanya menampilkan “dua sisi” konflik seolah setara. Padahal, yang terjadi di Gaza bukan perang antara dua kekuatan militer setara, melainkan dominasi militer satu negara terhadap populasi sipil yang terjajah. Ini bukan sekadar konflik; ini kolonialisme dalam wajah baru.
Sejarah mengajarkan bahwa ketidakadilan yang dibiarkan akan menumbuhkan ekstremisme baru. Setiap anak Palestina yang tumbuh di bawah bayang-bayang bom berpotensi kehilangan harapan, dan dunia harus bertanggung jawab atas itu. Membela Palestina hari ini bukan soal ideologi, tetapi soal keberpihakan pada kemanusiaan yang dirampas.





