
Daras.id – Sedikitnya 76 warga Gaza tewas dalam serangan udara Israel sejak Jumat pagi (23/5), menurut laporan medis yang dikutip Al Jazeera, Sabtu (24/5). Serangan terjadi di berbagai lokasi di Jalur Gaza, termasuk kamp pengungsi Jabalia yang menjadi lokasi paling mematikan dalam gelombang serangan terbaru ini.
“Membunuh Warga Sipil untuk Bersenang-senang”
Sejumlah saksi mata di Jabalia menyebut bahwa serangan terhadap rumah penduduk telah menyebabkan sekitar 50 orang tewas atau hilang. Salah seorang di antaranya menyampaikan kepada Al Jazeera bahwa “militer Israel membunuh warga sipil untuk bersenang-senang,” menggarisbawahi kebrutalan tanpa batas dari operasi militer tersebut.
Komentar tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa tidak ada lagi perlindungan bagi warga sipil di wilayah padat penduduk tersebut.
Gaza Utara Dibiarkan Lapar
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menggambarkan konflik di Gaza telah memasuki “fase paling kejam dari konflik yang kejam ini.”
Ia mengecam keras minimnya bantuan yang diizinkan masuk oleh Israel, yang menurutnya hanya “satu sendok teh bantuan”, padahal warga Gaza membutuhkan banjir bantuan kemanusiaan. Sampai hari ini, tidak satu pun bantuan berhasil menjangkau Gaza utara, tempat ribuan keluarga hidup dalam kondisi kelaparan ekstrem.

Korban dan Kerusakan Terus Meningkat
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa serangan Israel sejak awal perang telah menewaskan lebih dari 53.800 orang, sementara jumlah korban luka melebihi 122.000 jiwa. Sementara itu, Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut jumlah korban kemungkinan telah mencapai lebih dari 61.700 orang, karena ribuan lainnya masih tertimbun puing-puing.
PBB menyatakan siap mengirimkan hingga 9.000 truk bantuan ke Gaza, namun dibatasi oleh pembatasan militer dan kondisi keamanan yang memburuk. Sementara itu, kelaparan yang semakin meluas terus memicu ketegangan di lapangan dan mempersulit distribusi logistik.






