Pemeriksaan Kesehatan Gratis Menjadi Gerbang Literasi Hidup Sehat

Dieta Nurrika menilai pemeriksaan kesehatan gratis penting untuk memperkuat budaya hidup sehat dan literasi kesehatan masyarakat.

Pemeriksaan Kesehatan Gratis
Dieta Nurrika, SKM., MKM., Ph.D., akademisi dan pakar kesehatan masyarakat. (Foto: Dokpri)

Daras.id — Dalam peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) yang jatuh setiap tanggal 12 November, tema “Generasi Sehat, Masa Depan Hebat” kembali menegaskan pentingnya upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan. Salah satu program unggulan pemerintah yang menjadi sorotan publik adalah pemeriksaan kesehatan gratis, yang diharapkan mampu menjaring risiko penyakit kronis lebih awal di masyarakat.

Namun di lapangan, efektivitas dan pemerataan akses terhadap layanan ini masih menjadi pekerjaan rumah. Untuk memahami persoalan tersebut, daras.id mewawancarai Dieta Nurrika, SKM., MKM., Ph.D., akademisi dan peneliti di bidang kesehatan masyarakat. Berikut petikan wawancaranya.

daras.id:
Bu Dieta, peringatan Hari Kesehatan Nasional tahun ini banyak menyoroti pentingnya deteksi dini dan gaya hidup sehat. Bagaimana Ibu melihat program pemeriksaan kesehatan gratis pemerintah dalam konteks penguatan upaya promotif dan preventif di masyarakat?

Dieta Nurrika:
Program pemeriksaan kesehatan gratis sebagai salah satu untuk memperkuat upaya promotif dan preventif di masyarakat, terutama dalam rangka tema HKN 2025 “Generasi Sehat, Masa Depan Hebat.”

Dengan deteksi dini penyakit kronis seperti diabetes atau hipertensi melalui skrining gratis, program ini di satu sisi bagus untuk membangun kewaspadaan masyarakat terhadap penyakit—khususnya penyakit kronis—bagi mereka yang memiliki kemudahan terhadap akses layanan menjadi efektif.

Tantangan ada bagi mereka yang tidak memiliki akses pelayanan kesehatan. Ketika terdeteksi ada risiko sakit atau terdiagnosa sakit, lalu apa tindakan selanjutnya? Apakah mungkin ini dapat menjadi salah satu upaya menjaring mereka yang selama ini belum memiliki akses pelayanan kesehatan.

Pasca Covid-19, menurut saya dorongan kesadaran gaya hidup sehat seperti olahraga dan pola makan semakin meningkat, entah itu karena fear of missing out (FOMO) atau hal lain, namun ini mendorong ke arah healthy behaviour.

daras.id:
Masih banyak wilayah yang menghadapi keterbatasan fasilitas dan tenaga kesehatan. Dari perspektif sistem kesehatan masyarakat, bagaimana strategi yang realistis untuk memastikan program ini menjangkau kelompok rentan dan daerah terpencil?

Dieta Nurrika:
Dari perspektif sistem kesehatan masyarakat, tantangan keterbatasan fasilitas dan tenaga kesehatan di daerah terpencil memang ada. Strategi yang mungkin dapat dilakukan adalah:

  1. Pemberdayaan masyarakat, penguatan kader untuk pemeriksaan kesehatan sederhana seperti pemeriksaan tekanan darah, pengukuran berat badan dan tinggi badan.
  2. Pemeriksaan kesehatan keliling (mobile health check) untuk wilayah terpencil, dengan penjadwalan khusus. Pemeriksaan harus menjemput bola, bukan menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia.

Upaya ini perlu kolaborasi antara pusat, daerah, dan masyarakat.

daras.id:
HKN 2025 mengusung semangat kolaborasi lintas sektor. Dalam pandangan Ibu, sejauh mana pendekatan lintas sektor (pemerintah, akademisi, komunitas, swasta) sudah berjalan dalam mendukung kesehatan masyarakat?

Dieta Nurrika:
Komunikasi dan kolaborasi lintas sektor masih harus ditingkatkan dan diperbaiki, terutama masalah ego sektoral. Selain itu, komunikasi lintas sektor di bidang kesehatan memang juga sering menjadi bottleneck—banyak kasus duplikasi program, ketidakjelasan peran, dan koordinasi pusat-daerah yang lambat atau birokrasi terlalu panjang.

daras.id:
Terakhir, Bu Dieta, apa pesan untuk masyarakat agar pemeriksaan kesehatan tidak sekadar dimaknai sebagai layanan gratis, tetapi sebagai bagian dari kesadaran menjaga kesehatan diri dan lingkungan secara berkelanjutan

Dieta Nurrika:
Saya harap jangan melihat pemeriksaan kesehatan gratis sebagai “hadiah ulang tahun” atau pelaksanaan sekali pakai, tapi jadikan itu pintu masuk bagi kita untuk semakin meningkatkan literasi kesehatan. Kita perlu meningkatkan gaya hidup sehat seperti menjaga pola makan (pembatasan garam, gula, dan lemak), serta melakukan aktivitas fisik teratur — bukan karena tren atau FOMO.

(San)

Baca Juga:  Kamaluddin Latief Ingatkan Bahaya Lonjakan COVID-19 di ASEAN dan Ketimpangan Kesehatan Global

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *