Seni Menasehati Tanpa Menyakiti: Belajar dari Cucu Rasulullah, Hasan-Husain

Seni Menasehati Tanpa Menyakiti Belajar dari Cucu Rasulullah Hasan-Husein
Foto: fNews.id. Ilustrasi cucu Rasulullah, Hasan-Husain sedang duduk.

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Pada suatu hari yang penuh sinar  cahaya, dua cucu mulia Rasulullah SAW, Hasan dan Husain, melangkahkan kaki ke masjid. Aroma hikmah mengiringi perjalanan mereka, sebagaimana nurani yang bersih menjadi pedoman hidup mereka.

Di masjid itu, pandangan mereka tertuju pada seorang lelaki tua yang sedang berwudhu dan kemudian melaksanakan shalat. Namun, ketelitian keduanya menangkap kejanggalan dalam gerakan sang lelaki tua. Wudhunya tidak sempurna, dan shalatnya tak sesuai dengan tuntunan yang benar.

Hasan dan Husain, dengan segala kelembutan yang diwarisi dari kakek mereka, ingin meluruskan kesalahan tersebut. Namun, mereka enggan menyinggung perasaan lelaki tua itu. Maka, setelah berembuk, mereka sepakat menggunakan cara yang halus dan penuh hikmah.

Di hadapan lelaki tua itu, Hasan dan Husain berpura-pura berdiskusi tentang tata cara wudhu dan shalat. Mereka menyusun siasat seolah-olah sedang memperdebatkan siapa di antara mereka yang wudhunya lebih benar. Dengan suara lembut, mereka memohon lelaki tua itu untuk menjadi penilai.

Hasan memulai dengan wudhu dan shalatnya, diikuti oleh Husain yang melakukan hal serupa. Sang lelaki tua mengamati keduanya dengan seksama. Perlahan, kesadarannya terbangun. Ia melihat kesempurnaan dalam gerakan kedua pemuda itu—gerakan yang selama ini luput dari wudhunya dan shalatnya sendiri.

Mata lelaki tua itu basah. Dengan penuh kerendahan hati, ia berkata, “Betapa indahnya wudhu dan shalat kalian. Betapa bijaknya cara kalian menuntun dan membimbingku tanpa menyakiti perasaanku. Semoga Allah melimpahkan berkah kepada kalian.”

Kisah ini bukan sekadar tentang membetulkan yang salah. Ini adalah pelajaran tentang hikmah dalam menyampaikan kebenaran, tentang bagaimana kasih sayang dapat menyentuh hati tanpa harus menyakiti. Hasan dan Husain mengajarkan bahwa teladan adalah cara terbaik untuk menuntun orang menuju kebenaran.

Baca Juga:  Teh Mey Raih Penghargaan Tokoh Inspiratif BRIA 2024 atas Dedikasi untuk 500 UMKM

Dalam dunia yang sering diwarnai oleh kritik tajam dan penghukuman, kisah ini bersinar seperti lentera yang membimbing kita untuk berbicara dengan kelembutan dan memberi nasihat dengan cinta. Semoga kita semua dapat meneladani kebijaksanaan kedua cucu Rasulullah SAW ini. Wallahu’alam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *