
Nurdin Qusyaeri, DARAS.ID
Tubuh itu tak butuh piring yang penuh,
Ia hanya perlu secuil untuk mampu tegak,
Namun kita jejali ia dengan dunia,
Lupa, kenyang seringkali adalah luka yang tertunda.
Jiwa pun tak butuh banyak sorak,
Cukup sebersih air mata tobat,
Sebab yang mencemari bukan musuh di luar,
Melainkan dosa kecil yang dibiarkan menetap.
Hati, oh hati yang rapuh namun sombong,
Mengira ambisi adalah cahaya,
Padahal ia nyala api yang diam-diam membakar,
Ketenangan hati tinggal di rumah kesederhanaan,
bukan di istana keinginan yang tak pernah puas.
Lisan—pedang paling tajam yang kita punya,
Sering menyayat sebelum sempat menimbang,
Padahal diam adalah bahasa para bijak,
Dan tenangnya lisan ialah ketika ia memilih hening.
Sedikit bukanlah kekurangan,
Ia adalah jalan pulang.
Sedikit makan—sehat.
Sedikit dosa—tenang.
Sedikit ambisi—lapang.
Sedikit bicara—terjaga.
Sebab dalam senyap yang menyejukkan,
Hidup mendengar suaranya yang paling jujur:
Bahwa yang sejati,
Seringkali bersemayam dalam yang sunyi.
Wallahu’alam






