
Oleh Nurdin Qusyaeri
Dalam waktu hanya delapan hari, pemerintahan Presiden Bashar al-Assad di Suriah yang selama puluhan tahun dianggap kokoh, akhirnya runtuh. Peristiwa ini bukan hanya mencengangkan rakyat Suriah, tetapi juga mengejutkan dunia internasional. Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyebut peristiwa ini sebagai game changer—sebuah perubahan besar yang mengubah lanskap politik dan sejarah Suriah.
Berbicara dalam acara penganugerahan Lifetime Achievement Award 2024 CNBC Indonesia, SBY menyoroti fenomena unik dari perlawanan rakyat Suriah ini. “Ini adalah kejutan besar. Gerakan perlawanan yang tidak memiliki satu pemimpin tunggal mampu menjatuhkan pemerintahan Assad. Ini adalah aliansi, bukan perlawanan terorganisir yang biasa kita lihat,” ujarnya.
Namun, SBY mengingatkan bahwa tumbangnya rezim Assad bukan hanya urusan Suriah. “Implikasinya global. Akan memengaruhi geopolitik, keamanan, dan perdamaian internasional. Dunia semakin kompleks dan rumit,” tegasnya.
Rezim Assad dan Luka Lama Palestina
Runtuhnya Bashar al-Assad membawa harapan baru bagi banyak pihak, terutama rakyat Palestina yang selama ini merasakan dampak dari kebijakan Assad. Salah satu noda terbesar dalam sejarah rezim ini adalah kejahatan kemanusiaan di Kamp Yarmouk, kamp pengungsi Palestina terbesar di Suriah.
“Rezim Assad mencabut listrik, memutus pasokan makanan, dan menghujani kamp dengan serangan. Ratusan warga Palestina syahid. Ini adalah kejahatan perang yang telah tercatat dalam laporan Amnesty International,” kata seorang analis Timur Tengah.
Di mata dunia, Assad dianggap tidak berbuat banyak untuk mendukung perjuangan Palestina atau merebut kembali wilayah strategis seperti Dataran Tinggi Golan. Selama lima dekade, upayanya dianggap stagnan. Maka ketika pemberontak Suriah berhasil menumbangkan Assad, dunia—termasuk Israel—langsung bersiaga.
Israel memanfaatkan momen transisi ini dengan menggempur infrastruktur militer Suriah. “Israel menyadari bahwa pesawat dan alutsista peninggalan Assad bisa digunakan melawan mereka di masa depan,” jelas seorang pengamat geopolitik. Situasi ini menandai babak baru yang belum tentu stabil bagi Timur Tengah.
Kompleksitas Dunia Baru Tantangan bagi Pemimpin Global.
Dalam konteks geopolitik global, SBY menyoroti bagaimana dinamika politik internasional semakin sulit diprediksi. Ia membandingkan situasi saat ini dengan era Perang Dingin, di mana tatanan dunia relatif lebih sederhana—hanya dua blok besar: Barat dan Timur. Kini, konfigurasi kekuatan dunia semakin beragam, dengan berbagai blok baru seperti BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan) yang mulai bergerak dari fokus ekonomi ke arah politik.
“Dulu, G20 adalah forum ekonomi, dan G7 lebih berfokus pada ekonomi. Namun, kini ada nuansa politik yang semakin kuat. BRICS bahkan sudah tidak lagi murni menjadi blok ekonomi,” ungkap SBY. Ia juga menambahkan bahwa pergeseran ini menciptakan tatanan baru yang disebutnya sebagai “the new, new normal.”
Menurut SBY, perubahan besar ini membutuhkan kesiapan dari para pemimpin dunia, termasuk Indonesia. “Dunia memasuki fase yang sangat berbeda. Kita harus memahami konfigurasi baru ini untuk menjaga stabilitas,” imbuhnya.
Harapan Baru untuk Palestina, tapi Tantangan Tetap Besar.
Dengan runtuhnya Bashar al-Assad, muncul harapan bahwa pemerintahan baru Suriah akan mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina. Namun, harapan ini masih harus diuji. Apakah transisi kekuasaan ini benar-benar akan membawa perubahan berarti bagi rakyat Palestina?
Saat ini, kelompok-kelompok pemberontak Suriah telah membuat berbagai janji dalam video propaganda mereka, termasuk dukungan terhadap Palestina. Namun, janji tinggal janji jika tidak diwujudkan dalam tindakan nyata. Dunia masih menunggu bagaimana wajah baru Suriah akan terbentuk di tengah dinamika geopolitik yang memanas.
Arah Suriah di Tengah Dunia yang Berubah
Perubahan besar di Suriah ini bukan hanya peristiwa lokal, melainkan bagian dari puzzle besar dinamika global. Dalam lanskap internasional yang penuh ketidakpastian, satu hal yang pasti: dunia sedang bergerak menuju konfigurasi baru yang lebih kompleks.
Seperti kata SBY, “Ini adalah game changer. Dunia semakin rumit, dan para pemimpin harus mampu membaca arah angin.” Suriah kini memasuki babak baru, dan dunia menanti apakah perubahan ini akan menjadi angin segar atau badai baru. wallahu ‘alam.






