Website Berita dan Opini
Indeks

Ujian Nurani Dibalik Serangan Fajar, Dhuha dan Tahajud

Ujian Nurani dibalik serangan fajar, Dhuha dan tahajud
Foto WAG: Wadah untuk menampung serangan fajar.

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Masa tenang Pilkada 2024 yang berlangsung dari 24 hingga 26 November seharusnya menjadi momen refleksi sebelum hari pencoblosan.

Dalam aturan, masa tenang berarti tidak ada kampanye, tidak ada alat peraga, dan seluruh aktivitas politik dihentikan. Namun, di balik ketenangan aturan, realitas di lapangan sering kali jauh berbeda.

Pengamanan Ketat di Masa Tenang

Biasanya, pihak kepolisian, Bawaslu dan KPU sebelumnya memastikan kondusivitas dengan patroli intensif. Pihak berwenang melakukan himbauan kepada masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi informasi yang belum jelas sumbernya.

Lembaga yang punya kewenangan menangani Pilkada gencar melakukan Patroli di lokasi strategis seperti kantor KPU, Bawaslu, dan objek vital pemerintah.

Penjagaan khusus dilakukan di area penyimpanan kotak suara untuk memastikan keamanan menjelang hari pencoblosan. Langkah-langkah dimaksud bertujuan mencegah pelanggaran pemilu dan menjaga kelancaran Pilkada.

Dramatisasi Politik di Balik Masa Tenang

Meski aturan melarang kampanye, suasana masa tenang sering kali lebih riuh daripada masa kampanye. Demo demi demo bermunculan dengan dalih memperjuangkan keadilan, padahal arah politiknya sudah jelas, menjatuhkan lawan.

Di sisi lain, survei-survei politik yang kredibilitasnya diragukan ikut meramaikan suasana, menyebarkan grafik penuh warna untuk menggoyahkan pilihan masyarakat.

Namun, yang paling mencolok adalah manuver gerilya tim pemenangan pasangan calon (Paslon) menjelang hari H. Bagi-bagi uang alias beli suara menjadi taktik andalan. Jika dilakukan malam hari, ini dikenal dengan istilah serangan tahajud. Ketika dilakukan subuh, namanya serangan fajar. Sedangkan jika dilakukan pagi hari menjelang ke TPS, itu disebut serangan dhuha.

Penting untuk diingat, semua aktivitas ini termasuk pelanggaran pemilu. Maka, sebaiknya hindari transaksi tersebut. Jika ada yang memberi uang dengan memaksa—tanpa ada transaksi atau permintaan—kembalikan ke hati nurani Anda.

Baca Juga:  Mengapa Dedi Mulyadi Menang Telak di Pilgub Jabar? Ini Faktor-Faktor Penentu Kemenangannya

Pilihlah sesuai keyakinan, tanpa terpengaruh amplop. Namun, jika ingin benar-benar tenang, lebih baik tidak berurusan sama sekali dengan hal-hal seperti ini.

Apa yang Harus Dilakukan Warga?

Di tengah berbagai drama ini, masyarakat seharusnya memanfaatkan masa tenang untuk merenungkan pilihan. Fokus pada visi, misi, dan rekam jejak kandidat, bukan pada amplop atau propaganda. Pilihan yang bijak adalah investasi bagi masa depan bangsa.

Suara Kita, Masa Depan Kita

Masa tenang mungkin penuh ironi dan intrik, tapi esensi dari Pilkada tetap berada di tangan rakyat. Polisi boleh menjaga, tim sukses boleh manuver, bahkan amplop boleh beredar, tetapi keputusan akhir ada di bilik suara. Pergilah ke TPS dengan keyakinan. Pilihan Anda adalah suara demokrasi, arah baru bagi negeri ini.

Drama masa tenang hanyalah bagian dari perjalanan, tetapi hari pencoblosan adalah panggung utama. Jadilah penentu masa depan, bukan sekadar penonton dalam demokrasi kita. Wallahu’alam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *