Agama  

Tangisan di Hari Kebangkitan

Oleh Nurdin Qusyaeri

Langit telah terbelah. Bumi telah remuk. Lautan yang dulu bergelombang kini kering tak berbekas. Tak ada bintang yang bersinar, tak ada kehidupan yang berdenyut.

Semesta ini, yang pernah bermegah dengan keindahan dan kelimpahan, kini tak lebih dari serpihan ketiadaan.

Lalu, di tengah kehancuran yang mutlak, terdengarlah seruan dari Sang Maha Perkasa:

“Man Malikul Yaum?!

Siapa Penguasa sebenarnya pada hari ini?!”

Tak ada satu pun yang menjawab. Tak ada raja, tak ada penguasa, tak ada yang berani mengangkat suara.

Semuanya telah tiada, kecuali Dia yang Maha Kekal.

Di antara reruntuhan itu, Allah membangkitkan Jibril, malaikat yang sejak dulu mengemban wahyu-Nya. Dengan penuh takzim, Jibril berdiri, menanti perintah.

“Carilah maqam Kekasih-Ku… Muhammad Rasulullah,” perintah-Nya.

Maka, Jibril pun bergerak. Di mana? Di mana harus kucari? Tak ada bumi yang bisa dijejak, tak ada langit yang bisa dituju. Hanya kehancuran dan kehampaan.

Namun, di balik gulita yang pekat, Jibril melihatnya. Sebuah cahaya—terang, lembut, penuh keagungan. Tidak perlu lagi bertanya, karena cahaya itu hanya bisa berasal dari satu sosok: Muhammad, Rasulullah.

Jibril mendekat, dengan kelembutan yang selama ini menyertai setiap perjumpaan mereka. Dengan suara penuh hormat dan kasih, ia berkata:

“Bangunlah, wahai Rasulullah… Allah menyuruhku membawamu ke hadirat-Nya.”

Perlahan, cahaya itu bergerak. Mata yang teduh itu terbuka. Bibirnya yang suci pun bergetar dengan pertanyaan pertama yang keluar dari hatinya:

“Hari apakah ini, wahai Jibril?”

Jibril menundukkan kepalanya. Dengan suara bergetar ia menjawab:

“Ini adalah hari pembalasan.”

Sejenak hening. Lalu, di antara keheningan itu, terdengar suara yang membuat langit pun menangis:

“Yaa Jibril, aku tidak bertanya tentang diriku. Aku bertanya tentang umatku…”

Baca Juga:  Fitrah Manusia: Kembali ke Asal, Melawan Modernitas

Ah, Rasulullah…! Bahkan di hari di mana setiap insan hanya memikirkan dirinya, engkau masih memikirkan kami… Engkau masih memikirkan kami yang telah lalai, yang telah jauh, yang sering mengkhianati ajaranmu dengan nafsu dunia.

Jibril menahan tangis. Ia berkata:

“Demi keagungan Tuhanku, tidak akan dibangkitkan seorang manusia pun sebelum engkau, ya Rasulullah.”

Namun, Rasulullah tidak memikirkan keistimewaan itu. Hatinya masih bergetar untuk umatnya.

“Semoga akan besar pertolongan pada hari ini, karena aku akan memberi syafa’at bagi umatku,” ucapnya dengan suara yang dipenuhi cinta dan harapan.

Wahai umat Muhammad, tidakkah kita tersentuh? Dari wafatnya hingga dibangkitkan kembali, hanya satu yang ada dalam lisannya: “Umatku… Umatku… Umatku.”

Di antara para nabi, hanya dia yang tak meminta keselamatan untuk dirinya sendiri. Hanya dia yang tidak menggunakan doa mustajabnya untuk kebahagiaannya sendiri.

Dia menengadahkan tangan ke hadirat Ilahi, dan dengan suara penuh rintihan, ia berkata:

“Tuhanku… Penguasaku… Penghuluku… Aku tidak meminta untuk diriku, aku memohon untuk umatku…”

Dan ingatlah sabdanya yang menggetarkan:

“Setiap nabi memiliki satu doa mustajab, dan setiap nabi telah menggunakannya. Tetapi aku… aku menyimpannya sebagai syafa’at bagi umatku kelak di Hari Kiamat.”

Ya Allah… kami yang berdosa ini, yang sering melupakan sunnahnya, yang sering lalai dari jalannya… Adakah kami masih pantas mendapatkan syafa’atnya?

Wahai Rasulullah, betapa besar kasih sayangmu… Betapa tak terbalaskan cintamu… Kami bersaksi bahwa engkau adalah rahmat terbesar bagi kami…

Semoga di hari itu, saat semua manusia bergetar ketakutan, kita masih mendengar suara lembut itu memanggil:

“Umatku… Umatku… Umatku…”

Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *