Oleh Nurdin Qusyaeri
Jika semua ibadah kita hanya karena Ramadan, maka ia akan pergi—seperti bulan yang mengikis diri, menjadi sabit, lalu hilang dalam kelam.
Tapi jika Allah yang menjadi sebab, maka tak ada yang berubah, meski purnama telah berganti.
Sholat tetap tegak, tangan tetap terangkat, hati tetap rindu—seperti sungai yang mengalir, tak peduli musim berganti.
Dan jika mudik/silaturahim hanya karena Lebaran, maka ia hanya ritual yang terpenjara waktu — setahun sekali, seperti kembang yang layu setelah mekar.
Tapi jika ia dilakukan sebagai bentuk ketaatan, karena kasih sayng, maka silaturahim takkan pernah bertepi.
Ia akan terus hidup, seperti akar yang menjalar di bawah tanah, menghidupi pohon, meski daun-daun berguguran.
Karena yang fana hanyalah waktu, sedang yang kekal adalah niat yang tulus.
Ramadan pergi, tapi cinta kepada-Nya tetap abadi.
Lebaran usai, tapi tangan yang menjabat takkan terlepas.
Ingat, kita bukan hamba bulan, bukan hamba hari raya— kita hamba Allah yang Maha Kekal.
Maka, jangan berhenti ketika Ramadan pergi.
Jangan putus ketika Lebaran usai.
Sebab ibadah bukan tentang waktu, tapi tentang hati yang tak pernah berhenti berdegup dalam rindu pada-Nya.
Wallahu’alam





