Website Berita dan Opini
Indeks
Ragam  

Hidup: Tentang Pemberangkatan dan Kedatangan

Foto diambil dari Medsos

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Hidup, pada akhirnya, adalah serangkaian pemberangkatan dan kedatangan. Ia seperti stasiun yang tak pernah benar-benar sunyi—selalu ada langkah kaki yang pergi, selalu ada mata yang menanti kedatangan. Di setiap detiknya, kehidupan mengajarkan bahwa tidak ada yang abadi tinggal. Bahkan kita, terhadap diri sendiri, kadang harus belajar merelakan versi lama yang harus pergi agar versi baru bisa datang.

Aku baru benar-benar merasakan makna itu beberapa hari lalu. Tanggal 12 April, aku mengantar keberangkatan ibu dan bapak tercinta untuk menunaikan ibadah umroh. Di bandara, kami harus menunggu—ada delay dua jam. Waktu terasa lambat, seolah memberi kesempatan lebih untuk menatap wajah mereka, mendengar suara mereka, menahan haru yang menggantung di ujung mata. Dalam keheningan ruang tunggu, aku menyaksikan: betapa banyak orang datang ke sana hanya untuk dua hal—mengantar atau menjemput. Pemberangkatan dan kedatangan. Tidak lebih.

Dan kemarin, 21 April, aku kembali ke tempat yang sama. Tapi kali ini untuk menjemput. Rasa rindu yang membuncah harus lebih lama ditahan karena delay lima jam. Aku duduk bersama ratusan wajah yang serupa—menunggu dengan sabar, menatap layar informasi, berharap satu nama muncul di papan kedatangan. Di tengah penantian, aku terdiam: betapa bandara ini tak pernah menjanjikan pertemuan tepat waktu. Tapi ia mengajarkan kesabaran dan kerinduan. Dua hal yang hanya bisa lahir dari cinta.

Pemberangkatan adalah kepergian yang tak selalu kita siapkan. Kadang ia datang diam-diam, hanya menyisakan jejak yang membekas di ruang hati. Kita melepas orang-orang tercinta, mimpi-mimpi yang tak kunjung nyata, atau masa lalu yang terlalu lama kita peluk erat. Kita menyadari bahwa tidak semua yang kita genggam ditakdirkan untuk tetap tinggal. Ada yang hanya mampir untuk mengajari, bukan menemani sepanjang jalan.

Baca Juga:  Amnesti dan Abolisi untuk Korupsi sebagai Preseden Buruk dan Pengkhianatan Komitmen

Namun dalam setiap kepergian, Tuhan menitipkan pelajaran. Tentang ikhlas yang sebenarnya, tentang kuat yang sesungguhnya, dan tentang cinta yang tak selalu memiliki harus berarti memiliki. Kita diajak berdamai dengan kehilangan, karena justru di situlah kedewasaan tumbuh. Bahwa mencintai dengan tulus berarti siap membiarkan sesuatu pergi ketika memang saatnya pergi.

Kedatangan pun tak kalah misterius. Ia hadir tanpa janji, kadang mengejutkan, kadang tak sesuai harap. Namun hidup selalu memberi ruang bagi perjumpaan baru: wajah-wajah baru yang menyapa, jalan baru yang terbuka, harapan baru yang tumbuh dari reruntuhan luka lama. Kedatangan adalah cara Tuhan menunjukkan bahwa setelah gelap, selalu ada cahaya yang kembali. Bahwa tak ada duka yang tak punya ujung, dan tak ada air mata yang tak dibalas pelangi.

Kedatangan mengajarkan kita untuk selalu membuka hati. Sebab yang datang mungkin bukan yang kita tunggu, tapi yang kita butuh. Ia datang membawa pesan, bahwa hidup bukan tentang siapa yang datang atau pergi, tapi tentang bagaimana kita belajar dari setiap tapak jejak yang melintasi jalan hidup kita.

Dan pada akhirnya, hidup adalah perjalanan. Kita semua penumpang. Kita naik di satu waktu, dan akan turun di waktu yang lain. Yang terpenting bukan berapa lama kita tinggal, tapi bagaimana kita hadir. Bukan tentang siapa yang tinggal paling lama, tapi siapa yang meninggalkan makna.

Maka jika hari ini kau sedang melepas, menangislah. Itu bukan tanda lemah, itu tanda kau pernah mencintai dengan sungguh. Tapi jangan lupa, setelah melepas, hidup akan mengajarkan menyambut. Karena sesungguhnya, setiap pemberangkatan mengandung janji: bahwa akan ada kedatangan lain yang membawa makna baru.

Baca Juga:  Julidisme Politik: Satir tentang Janji yang Mati

Bandara dan kehidupan sama-sama menjadi panggung bagi rindu, perpisahan, harapan, dan cinta. Di sanalah kita belajar: bahwa hidup tidak selalu tentang memiliki, tapi tentang bagaimana kita hadir dalam tiap pemberangkatan dan menanti dengan sabar setiap kedatangan.

Teruslah berjalan. Peluklah kehilangan, dan sambutlah kedatangan. Karena hidup tak pernah benar-benar berhenti. Ia hanya berpindah dari satu stasiun rasa ke stasiun hikmah yang lain. Dan kita, hanyalah peziarah yang sedang menuju rumah sejati.

Selamat menjalani hidup, antara perpisahan dan pertemuan. Antara perih yang dalam dan harapan yang menyala. wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *