
Oleh Noor Wahida Arifin*
Dalam kehidupan rumah tangga, sering kali muncul dilema antara mengikuti keputusan keluarga atau tetap setia pada komitmen di luar rumah, seperti organisasi.
Kisah ini menggambarkan perjalanan batin seorang istri yang harus memilih antara menaati suaminya atau mempertahankan loyalitas pada organisasi yang telah lama ia jalani.
Sebut saja mereka Bapak DEA dan Ibu NN, pasangan suami istri yang hidup harmonis dan dikaruniai dua anak, seorang perempuan dan seorang laki-laki. Kehidupan mereka tampak biasa saja, sebagaimana keluarga-keluarga lain pada umumnya.
Bapak DEA bekerja di sebuah perusahaan BUMN, sementara Ibu NN berperan sebagai ibu rumah tangga yang aktif dalam sebuah organisasi Islam.
Namun, kehidupan mereka berubah drastis ketika pada tahun 1999, perusahaan tempat Bapak DEA bekerja melakukan pemutusan hubungan kerja massal. Dengan tabah, ia menerima kenyataan tersebut dan bersama istrinya mulai merintis usaha kecil-kecilan dengan membuka kios dagang.
Berkat ketekunan dan doa yang tak henti-hentinya, dalam waktu satu tahun usaha mereka berkembang pesat.
Dari hasil jerih payah tersebut, mereka menanamkan niat besar: ingin menunaikan ibadah haji.
Perjuangan Menuju Baitullah
Melaksanakan rukun Islam kelima tentu bukan perkara mudah. Butuh kesabaran dan keteguhan hati dalam menghadapi berbagai tantangan. Akhirnya, pada tahun 2013, mereka mendaftarkan diri untuk berhaji.
Namun, perjalanan panjang menuju Tanah Suci tidak selalu berjalan sesuai rencana. Keberangkatan mereka yang awalnya diperkirakan tahun 2018 harus tertunda akibat berbagai faktor, termasuk pandemi COVID-19 yang melanda dunia.
Hingga akhirnya, di tahun 2023, keduanya mendapat kabar bahwa mereka akan berangkat sebagai tamu Allah ke Baitullah. Rasa syukur membuncah, tetapi di saat yang sama, muncul ujian lain yang tak terduga.
Dilema Pemilihan KBIHU
Perslisihan kecil mulai muncul ketika Bapak DEA meminta istrinya untuk berpindah Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) dari organisasi yang selama ini diikuti oleh Ibu NN. Perintah itu terasa berat bagi sang istri. Hatinya dipenuhi perasaan kecewa dan gundah.
Namun, ia akhirnya memilih untuk menaati suaminya, menyadari bahwa dalam Islam, ketaatan kepada suami memiliki posisi penting, selama tidak bertentangan dengan syariat.
Meski telah berusaha menerima keputusan tersebut, Ibu NN masih menyimpan kekecewaan. Saat perjalanan menuju Tanah Suci, ia hampir tak berkata sepatah kata pun kepada suaminya.
Bapak DEA yang sibuk sebagai kepala regu (Karu) juga mulai merasakan ada sesuatu yang berbeda. Ada jarak yang tidak kasatmata, ada ketidakhadiran emosional yang mengganjal di antara mereka.
Pelaksanaan Ibadah yang Diuji
Meski ibadah haji mereka berjalan dengan baik, ada ketegangan yang tak kunjung reda. Bapak DEA kerap menunjukkan sikap tegas yang terkadang disertai amarah, alih-alih kelembutan yang seharusnya menemani perjalanan spiritual mereka.
Ketika puncak ibadah di Mina selesai, emosi Ibu NN akhirnya meledak dalam perjalanan menuju Madinah.
Dalam hati kecilnya, ia masih bergumul dengan perasaan antara memilih kesetiaan pada organisasi atau tetap mengikuti keputusan suami.
Hingga akhirnya, sebuah pertanyaan tegas keluar dari mulut Bapak DEA, “Silakan pilih, ingin tetap dengan suami atau tetap dengan organisasi?”
Saat itulah Ibu NN sadar bahwa dalam kehidupan berumah tangga, suami adalah pemimpin yang harus dihormati.
Ia pun memilih untuk mendukung dan menaati suaminya, karena bagaimanapun, seorang istri memiliki kewajiban untuk berbakti kepada suaminya selama tidak melanggar ajaran agama.
Pelajaran dari Perjalanan Haji
Setibanya di Madinah, ketegangan di antara mereka mulai mencair. Dengan izin Allah, perjalanan mereka berakhir dengan damai.
Dalam Islam, ketaatan kepada suami bukanlah bentuk ketundukan buta, melainkan bagian dari harmoni dalam keluarga yang tetap harus berlandaskan pada aturan syariat.
Sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nisa ayat 34, seorang istri diwajibkan menaati suaminya. Namun, dalam QS. An-Nisa ayat 59, umat Islam juga diperintahkan untuk taat kepada Allah, Rasul-Nya, dan pemimpin di antara mereka—dengan catatan, selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syariat Islam.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa dalam kehidupan, ada kalanya kita harus menghadapi dilema antara dua pilihan yang sama-sama penting.
Namun, pada akhirnya, kebijaksanaan dalam bersikap dan memahami prioritaslah yang akan membawa ketenangan dan keberkahan dalam hidup.
*Penulis adalah mahasiswi KPI Tamhied Semester VIII
Editor: Nurdin Qusyaeri





