Website Berita dan Opini
Indeks

Kemauan: Yang Membedakan “Bisa” dan “Tidaknya”

Kemauan: yang membedakan "bisa" dan "tidak"
Foto pamanggih: Gunung indah dan lautan

 

Saya akan memulai tulisan ini dengan  sebuah ungkapan Anaz Almansour:

“Malas bukan karena Anda tidak mampu. Malas karena kemauan Anda lemah. Berani dan semangat bukan karena Anda hebat, tetapi karena kemauan Anda kuat untuk bertindak.”

Quote sederhana ini menyimpan pelajaran yang dalam.

Sering kali kita mengira persoalan hidup adalah soal kemampuan. Padahal, tidak sedikit orang yang sebenarnya mampu, tetapi tidak bergerak karena kemauannya kalah oleh rasa malas, takut, dan nyaman.

Ada yang punya ilmu, tetapi tidak belajar. Ada yang punya bakat, tetapi tidak berlatih.

Ada yang punya kesempatan, tetapi tidak berani mengambilnya.

Bukan tidak bisa. Tapi tidak mau memulai.

Kita juga sering menunggu semangat sebelum bekerja. Padahal, justru bekerjalah terlebih dahulu, maka semangat akan tumbuh.

Jangan menunggu berani untuk melangkah.

Melangkahlah, keberanian akan menyusul.

Jangan menunggu mampu untuk memulai. Mulailah, maka kemampuan akan berkembang.

Karena kemampuan tanpa kemauan hanya menjadi potensi yang tidak pernah menjadi prestasi.

Sehingga, yang menentukan bukan siapa yang paling pintar, paling berbakat, atau paling berani.

Tetapi siapa yang memiliki kemauan untuk memulai, kemauan untuk bertahan, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.

Maka, sebelum katakan: “Saya tidak bisa.”

Coba tanya: “Atau sebenarnya saya belum cukup mau?”

Bisa jadi yang selama ini kita sebut ketidakmampuan, sebenarnya hanyalah kemauan yang belum cukup kuat.

Kemampuan membuka peluang. Kemauan menggerakkan.

Keberanian memulai. Disiplin mempertahankan, dan Konsistensi mengubahnya menjadi keberhasilan.

 

Nurdin Qusyaeri

Baca Juga:  Hayati, Social Butterfly Temukan Makna Hidup di Tengah Sepi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *