Kekerasan terhadap Jurnalis di Los Angeles Saat Meliput Kerusuhan

Kekerasan Terhadap Jurnalis di Los Angeles
Kerusuhan di Los Angeles Amerika Serikat (Foto: Caroline Brehman/EPA)

Internasional, daras.id – Di tengah gelombang demonstrasi dan kerusuhan yang mengguncang Los Angeles selama beberapa hari terakhir, sebuah insiden tragis menimpa jurnalis asal Australia, Lauren Tomasi dari 9News. Saat tengah melakukan peliputan langsung di jalanan pusat kota, Tomasi dan juru kameranya terkena tembakan peluru karet dari aparat keamanan.

Dalam siaran langsungnya, Tomasi menyampaikan dengan suara bergetar: “Kami berada jauh dari garis depan bentrokan. Tidak ada peringatan. Tiba-tiba kami ditembak,” katanya, sebagaimana dikutip 9News Australia. Cuplikan video insiden itu dengan cepat menyebar di media sosial dan memicu kemarahan publik.

Pemerintah Australia melalui Kementerian Luar Negeri menyampaikan kecaman resmi kepada Washington. “Semua jurnalis, termasuk warga negara Australia, memiliki hak untuk bekerja dengan aman, bahkan saat meliput situasi konflik. Kami mendesak penyelidikan menyeluruh,” ujar juru bicara kementerian tersebut seperti dikutip The Guardian.

Asosiasi Jurnalis Internasional (IFJ) juga merilis pernyataan mengecam tindakan kekerasan terhadap wartawan. “Ini bukan sekadar kesalahan teknis di lapangan. Ini adalah tanda serius memburuknya iklim kebebasan pers, bahkan di negara yang menyebut dirinya demokratis,” ujar Anthony Bellanger, Sekjen IFJ, dalam rilis resminya.

Menurut laporan Reuters, sedikitnya delapan jurnalis mengalami kekerasan fisik, intimidasi, atau penahanan selama liputan kerusuhan ini. Beberapa wartawan dilaporkan kehilangan alat kerja akibat disita atau dihancurkan aparat.

Demokrasi di Ujung Lensa

Peristiwa di Los Angeles memunculkan ironi yang menggugah; kekerasan terhadap media terjadi di negara yang mengklaim sebagai penjaga kebebasan sipil. Amandemen Pertama Konstitusi AS, yang menjamin kebebasan pers, tampak kehilangan makna di tengah tekanan situasi darurat.

Kritikus menyebut bahwa kekerasan terhadap jurnalis di Los Angeles bukan hanya ekses teknis, melainkan strategi kontrol narasi. Dalam era post-truth, ketika siapa yang menguasai narasi berpotensi menguasai opini publik, keberadaan jurnalis independen bisa dianggap ancaman.

Baca Juga:  Opini Bisa Mengancam Nyawa? Refleksi dari Kasus Penulis Detik yang Diteror

Refleksi untuk Indonesia

Insiden kekerasan terhadap jurnalis di Los Angeles ini menjadi pengingat bahwa kebebasan pers adalah nilai yang rapuh, bahkan di sistem demokrasi mapan. Indonesia, yang memiliki sejarah kelam kekerasan terhadap jurnalis, sepatutnya memandang kejadian ini sebagai refleksi penting bahwa kekuasaan yang tidak dikontrol bisa menjadikan pers sebagai musuh.

Solidaritas jurnalis lintas negara dibutuhkan, tetapi lebih penting lagi adalah kesadaran publik bahwa membela media yang bebas berarti membela hak warga untuk tahu dan untuk bersuara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *