Website Berita dan Opini
Indeks

Amerika Di-Bajak Lagi: Trump Comeback, Israel Masih Jadi Bos

Amerika Di-Bajak Lagi: Trump Comeback, Israel Masih Jadi Bos
Foto x: rakyat Amerika sedang mendemo menentang kebijakan Donald Trump menyerang Iran

Oleh Nurdin Qusyaeri

Breaking news-nya bukan soal perang, tapi soal siapa yang duduk di kursi empuk Gedung Putih: Donald J. Trump balik lagi!

Yup, si rambut jagung, tukang tweet, raja reality show, dan hobi bikin dunia dag-dig-dug ini kembali memimpin “the greatest nation on earth”—katanya sih.

Tapi belum lama duduk manis di kursi kepresidenan, rakyatnya sudah turun ke jalan. Ribuan warga AS unjuk rasa di Times Square, depan White House, sampai Boston. Bukan karena Trump ngaco lagi (walaupun itu biasa), tapi karena rakyat menolak keterlibatan Amerika dalam perang lawan Iran untuk membela Israel.

Mereka bawa poster bertuliskan:

  • “Trump, don’t make the world your reality show!”
  • “No more wars for Bibi!” (Bibi = Benjamin Netanyahu)

Kocaknya, bahkan warga AS sendiri udah sadar:

“Kita tuh udah susah, malah disuruh nyerang Iran. Emang Israel itu siapa? Majikan?”

Baca Juga:  Serangan AS-Israel ke Iran: Dalih Nuklir atau Hegemoni?

Ketika Gedung Putih Dikirimin Script dari Tel Aviv

Jujur aja, bro. Melihat Trump balik jadi presiden dan langsung ambil posisi membela Israel, ini bukan kejutan. Ini kayak nonton sinetron yang kita semua udah tahu ending-nya: Amerika jadi bodyguard setia, Israel jadi drama queen, dan rakyat AS… jadi korban pajak.

Amerika, negara superpower, eh sekarang jadi super pander. Pander ke siapa? Ke Bibi Netanyahu. Dari jaman Obama, lanjut Trump, Biden, dan balik ke Trump, skrip-nya sama: Israel salah, Iran disalahin.

Trump sendiri, dengan gaya khas “Make America Great Again”-nya, kayaknya justru sedang sibuk Make Israel Invincible Again. Dan rakyat AS? Ya itu tadi—bikin poster, turun ke jalan, sambil bilang:

“Kami ingin murah susu, bukan rudal baru!”

Kenapa Iran Jadi Sasaran Lagi?

Jawabannya singkat: karena Iran tidak jinak.

Sejak Revolusi Islam 1979, Iran mencoret nama Amerika dari daftar bestie. Mereka buang Shah—raja boneka ciptaan CIA—dan berdiri sendiri. Tanpa Microsoft, tanpa Amazon, tanpa TikTok, mereka malah makin mandiri.

Yang bikin AS-Israel makin pusing: Iran masih survive tanpa jadi budak Bank Sentral Yahudi versi Rothschild. Lah, ini kan keterlaluan, pikir mereka—masa negara bisa maju tanpa utang dan pengawasan “mafia finansial global”?

Maka skenario pun dimulai. Iran dijelek-jelekin. Dituduh teroris. Dibilang ancaman dunia. Padahal yang rutin ngebom negara lain itu siapa? Bukan Iran. Yang suka ngintilin setiap konflik dan nyodorin senjata? Bukan Iran.

Trump: Presiden atau Presenter?

Jujur ya bro, kadang kita bingung: Trump itu presiden atau host TV?

Retorikanya penuh drama. “Iran is a threat!”, “We will crush them!” katanya dengan gaya debat seperti mau jual alat pemanggang sosis di QVC.

Padahal rakyat AS lagi pengen makan sosis murah, bukan beli bom buat perang di Timur Tengah. Tapi ya, siapa yang bisa ngatur si Om Trump? Bahkan kadang rambutnya aja gak bisa dia atur.

Rakyat Teriak Damai, Presiden Teriak Perang

Demo anti-perang ini bukan cuma simbol kebangkitan nalar. Ini adalah suara nurani rakyat yang udah muak dijadikan penonton di negara sendiri.

Mereka tahu:

Diplomasi lebih murah dari perang

Iran bukan musuh nyata mereka

Israel bukan anak emas Tuhan yang harus dilindungi terus

Tapi pemerintahannya tetap tutup telinga. Mungkin karena telinganya dipasang headset langsung dari Tel Aviv.

Pamungkas: Amerika, Kapan Kamu Balik Waras?

Amerika harus sadar, bro: jadi negara besar itu artinya berani menolak dikendalikan. Bukan malah joget pas Netanyahu main suling.

Rakyatnya udah kasih sinyal. Dunia udah ngasih warning. Kalau Trump tetap ngotot bawa AS ke medan perang karena pesanan sponsor, maka nanti dunia gak bilang “America the great” tapi “America the puppet.”

Kalau presidennya tetap ngikutin maunya Bibi, bukan rakyatnya sendiri, ya maaf: itu bukan demokrasi. Itu Demok-Bibi.

Wallahu’alam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *