Perang Dunia III di Ujung Tanduk: Panggung Drama Lima Jagoan Dunia

Perang Dunia III di Ujung Tanduk: Panggung Drama Lima Jagoan Dunia ala SBY
Foto Dora.com

Nurdin Qusyaeri, DARAS.ID

Bayangkan dunia ini sebagai panggung teater raksasa, dan Timur Tengah adalah sorotan lampu panggung yang kian memanas, nyaris membakar tirai!

Mantan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, atau yang akrab kita panggil SBY, melempar bom peringatan lewat cuitannya di Twitter (eh, maksudnya X) pada 19 Juni 2025. Katanya, kalau duel Iran-Israel ini sampai kebablasan, dunia bakal masuk babak “game over” dengan efek spesial kehancuran massal. Bukan sinetron biasa, ini drama geopolitik kelas berat!

SBY, bak sutradara kawakan, menyorot lima aktor utama yang pegang naskah masa depan dunia: Benjamin Netanyahu, Ali Khamenei, Donald Trump, Vladimir Putin, dan Xi Jinping. Mereka ini bukan sembarang pemeran, tapi “strong men” yang punya kuasa mengguncang panggung global.

Baca Juga:  Geopolitik Baru Global South: Indonesia Makin Dekat ke Timur?

Bayangkan mereka seperti Avengers versi politik, tapi entah kenapa kok malah mirip Boyband yang lupa lirik lagu damai. Satu salah langkah, atau dalam bahasa SBY, “miscalculation,” bisa bikin penonton—eh, umat manusia—berlarian panik sambil teriak, “Apocalypse now!”

Dengan gaya puitis nan bijak, SBY mengingatkan bahwa sejarah itu ibarat novel tragedi berulang. Dari zaman Romawi sampai era Netflix, selalu ada “warlike leaders” yang hobi main api, padahal penonton cuma pengin happy ending dengan popcorn dan kedamaian. Ego dan ambisi mereka, kata SBY, bagaikan bensin di tengah kobaran konflik. Satu percikan saja, dunia bisa jadi panggangannya.

Tapi, jangan khawatir dulu! SBY, sang pujangga politik, masih optimis. Dia bilang, Perang Dunia III itu bukan takdir, melainkan plot twist yang bisa dihindari. Asal, lho ya, kelima jagoan tadi diberi “kearifan jiwa” dan “kejernihan pikiran” oleh Sang Sutradara Agung di atas sana. Kalau enggak, ya sudahlah, siap-siap kita semua jadi penutup trilogi dystopia yang tak pernah kita minta.

Indonesia, sebagai penutur mantra perdamaian, punya peran jadi penutup celah di panggung ini. Lewat diplomasi dan dialog, kita bisa berbisik ke telinga dunia:

“Duhai, jangan main petasan di dekat gudang dinamit!”

Seperti harapan SBY, mari kita doakan agar para pemimpin ini tak jadi pemeran antagonis dalam film perang, melainkan pahlawan yang memilih jalan damai. Waktu masih ada, tiket menuju perdamaian belum habis.

Jadi, ayo, sutradara-sutradara dunia, ubah naskahnya jadi drama romansa damai, bukan thriller bencana! Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *