Puisi  

Ketika Rasa Menjadi Alasan

Ketika Rasa Menjadi Alasan
Gambar Ilustrasi

Oleh Popi Sri Mulyani*

Ada masa di mana cinta tidak lagi menjadi rumah,
dan janji yang dulu dilantunkan dikhianati,
kini berguguran seperti daun yang kehilangan musimnya.

Kau berkata, tak ada rasa…
lalu aku bertanya dalam diam,
ke mana perginya debar yang dulu menyatukan dua jiwa?

Apakah bosan menjadi dalih untuk pergi tanpa bekas?
Apakah rasa yang kau puja, kini menjadi alasan tuk membuang?
Padahal bertahun-tahun kau singgah di pelataran hatiku,
menjadi cahaya dalam ruang-ruang sepi yang kupeluk sendiri.

Kini, dengan bibirmu yang sama,
kau ucap tak ada lagi rasa.
Bukankah itu kejam—
menghapus kisah dengan satu kata?

Apa ini bentuk kebijaksanaan,
atau hanya pelarian dari tanggung jawab perasaan?

Mungkin aku bukan takdirmu,
tapi mengapa kau pernah hadir begitu nyata?
Mengapa kau ukir mimpi jika hanya untuk disangkal?
Tak adakah sedikit saja kenangan yang membuatmu tinggal?

Aku menatap langit malam dan bertanya,
“Apakah semua ini adil?”
Namun Tuhan, Sang Pemilik Hati,
lebih tahu luka yang tersembunyi di balik doa-doa diamku.

Jika kau sungguh kehilangan arah,
mintalah kepada-Nya—
bukan untuk mencintaiku kembali,
tapi untuk memahami arti cinta yang suci.

Namun sudahlah,
biarlah luka ini menjadi jalan pulang bagiku.
Karena aku pun berhak bahagia,
berhak sembuh, berhak dicintai.

Maka kulepaskan dirimu—
bukan karena tak cinta,
tapi karena aku memilih menyerahkanmu
kepada Sang Pemilik Jiwa.

Dan dalam setiap air mata yang gugur,
kutahu… ini bukan akhir.
Ini hanya awal dari kebebasan mencintai diriku sendiri.

Ketika rasa pergi,
jangan biarkan luka tinggal di dalam hati.
Lepaskan dengan lapang dada,
dan izinkan takdir bekerja dengan caranya.

*Penulis adalah Mahasiswi KPI IAI Persis Bandung 

Baca Juga:  Untukmu yang Terlihat Kuat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *