
Oleh Rina Setiawati
Hari masih gelap ketika selembar daun terpaksa meninggalkan tangkainya.
Perlahan, ia menggeliat, menahan perih yang menembus hingga ke urat nadinya.
Keringat seolah mengalir dari setiap pori, membawa pergi sisa-sisa kehidupan.
Pori-pori melebar, menyeret keluar cairan terakhir, mengoyak rasa yang pernah menghangatkan. Sesuatu yang asing merangsek dari dalam, memaksa keluar, merayap inci demi inci meninggalkan jasad yang dulu segar.
Dingin yang belum pernah singgah sebelumnya bercampur dengan panas yang membakar raga, menghanguskan kejernihan yang dulu diagungkan.
“Apakah ini akhirnya?”
“Apakah kebebasan akan diraih?”
Lalu, selembar daun itu pun terlepas. Ia jatuh dari tangkainya, meninggalkan pohon dengan seribu kesedihan, menanggalkan hidup yang selama ini menyesakkan.
Inilah akhir perjalanannya kembali ke tanah, rumah yang menunggu tanpa syarat.
Menghadap Sang Khalik, menjawab segala tanya.
Makna Filosofis dari Daun Gugur
Sejak lama, daun gugur dijadikan simbol perpisahan, kematian, sekaligus kepulangan. Ketika satu helai daun jatuh, ia bukan sekadar kehilangan kehidupan di pohonnya, melainkan sedang menjalani takdir.
Sama seperti manusia, setiap daun punya waktunya sendiri untuk kembali ke tanah.
Bagi sebagian orang, gugurnya daun terasa sedih, ada yang hilang, ada yang pergi.
Namun, jika dilihat dari sisi lain, gugur adalah tanda kepulangan. Daun tidak mati sia-sia, ia kembali menjadi bagian dari bumi, memberi kehidupan baru bagi tanah yang merindukannya.
Wallahu’alam.





