Hari Ketika Rindu Menemukan Pelukannya

Pertemuan Perdana Orang Tua & Santri Kelas 7 dan Tajhiziyah Pondok Pesantren Persatuan Islam 153 Al-Firdaus

Bandung, DARAS.ID — Esok pagi, langit Kampus 2 Pondok Pesantren Persatuan Islam 153 Al-Firdaus akan menjadi saksi pertemuan yang tak biasa.

Sebuah perjumpaan yang telah dinanti lebih dari satu bulan lamanya—sejak anak-anak itu pertama kali melangkah meninggalkan rumah, menanggalkan pelukan hangat orang tua, demi memulai perjalanan baru sebagai santri.

Selama itu pula, tidak ada suara yang terdengar lewat telepon. Tidak ada pesan singkat yang bisa dikirimkan. Tidak ada mata yang bisa bertemu. Hanya doa yang diam-diam melayang di setiap sujud, hanya kerinduan yang tak pernah berhenti mengetuk dada.

Besok, tepat pukul 08.00 WIB, para orang tua sudah diminta hadir di Kampus 2. Mereka akan menunggu dengan hati berdebar, momen penuh kenangan ketika anak-anak mereka tiba dari Kampus 1 pukul 10.00 WIB.

Di sanalah rindu akan pecah menjadi air mata, pelukan akan menjadi bahasa yang tak perlu diterjemahkan, dan botram—makan bersama dengan bekal yang dibawa dari rumah—akan menjadi jamuan cinta antara orang tua dan anak.

Namun, di balik senyum bahagia yang akan terlihat besok, tersimpan kisah perjuangan yang tak semua orang tahu. Memondokkan anak bukanlah hal yang mudah.

Ada ayah dan ibu yang tampak tegar, padahal hatinya nyaris runtuh ketika melepaskan buah hati di gerbang pesantren. Ada anak yang kuat menahan rindu, namun ada pula yang setiap malam memeluk gulingnya sambil berbisik, “Aku ingin pulang.”

Ada yang anaknya kuat tapi orang tuanya yang rapuh. Ada orang tua yang kuat tapi anaknya menangis. Ada pula yang keduanya cengeng—tapi justru di situlah cinta diuji. Dan ada yang sama-sama tabah, tapi tetap menyimpan segumpal rindu yang tak pernah berkurang.

Baca Juga:  Atap Gazebo FKIP Universitas Siliwangi Roboh, 18 Mahasiswa Terdampak: Kampus Lakukan Evaluasi Menyeluruh

Semua orang tua memiliki pertarungannya sendiri. Semua anak memiliki proses masing-masing. Namun satu hal yang sama: mereka rela menukar jarak dan waktu demi satu harapan suci—agar anak-anak ini tumbuh menjadi shalih dan shalihah, menjadi qurrata a’yun—penyejuk mata dan hati, cahaya yang akan mengakhiri langkah dunia hingga akhirat.

Pertemuan besok adalah tentang rindu yang menemukan tujuan, tentang cinta yang terjalin dalam jarak, dan tentang keyakinan bahwa setiap air mata yang jatuh adalah bagian dari perjalanan menuju kebaikan.

Pihak pesantren mengingatkan:

  1. Hadir tepat waktu pukul 08.00 WIB di Kampus 2.
  2. Santri akan tiba dari Kampus 1 pukul 10.00 WIB.
  3. Membawa bekal untuk botram bersama anak masing-masing.
  4. Tidak diperkenankan menuju Kampus 1.
  5. Infaq dapat diterima di kantor TU Kampus 2.

Dan esok, Kampus 2 akan dipenuhi aroma bekal dari rumah, gemuruh tawa bercampur isak haru, serta doa-doa yang terucap lirih di sela pelukan. Sebab pertemuan ini bukan sekadar agenda, melainkan hari ketika rindu menemukan pelukannya, dan cinta menemukan wujudnya.

Jazakumullah khairan

Pondok Pesantren Persatuan Islam 153 Al-Firdaus

(Popi Sri Mulyani)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *