Website Berita dan Opini
Indeks

Apa Jadinya Indonesia Tanpa Pemuda

Bangunlah Pemuda Revisioner! 80 Tahun Indonesia Merdeka

 

Apa jadinya Indonesia tanpa Pemuda?
Foto Ilustrasi Canva: Pemuda- Indonesia – merdeka

Oleh Popi Sri Mulyani 

Delapan puluh tahun sudah merah putih berkibar, Indonesia berdiri sebagai bangsa merdeka.Kemerdekaan ini bukan hadiah, bukan kado manis dari penjajah,melainkan buah dari perjuangan panjang.

perlawanan, darah, air mata, dan pengorbanan tanpa henti Para pendiri bangsa, dengan semangat dan persatuan yang kokoh,menolak persetujuan pada janji manis kolonial,dan memilih jalan penuh risiko: merebut kemerdekaan dengan kekuatan sendiri.

Di tengah perjalanan sejarah itu,

pemuda revisioner menjadi api yang membakar semangat bangsa.

Mereka tidak hanya sekedar mengikuti arus, tetapi berani menggambarkan keadaan, menantang kompromi, dan mendesaknya generasi tua agar segera memproklamasikan kemerdekaan.

Tanpa keberanian mereka, siapa yang tahu kapan Indonesia berani berdiri tegak sebagai bangsa merdeka?

Baca Juga:  Refleksi 17 Agustus: Apa Arti Kemerdekaan bagi Kita Hari Ini?

Apa Jadinya Indonesia Tanpa Pemuda Revisioner?

Bayangkan ….

Jika Sukarni,Wikana, Chairul Saleh, dan kawan-kawan tidak mendesak Soekarno-Hatta di Rengasdengklok untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Kalau pemuda 1928 tidak menyatukan sumpah mereka, dalam Sumpah Pemuda. Apabila generasi muda saat itu memilih diam, menunggu, atau mencari kenyamanan pribadi.

Tanpa pemuda revisioner, kemerdekaan mungkin hanya tinggal mimpi,Ditunggu oleh rasa takut dan kompromi politik.

Tanpa mereka, mungkin Indonesia akan merdeka bukan menjadi bangsa yang berdaulat,

tetapi sebagai bangsa yang “dimerdekakan”—dengan syarat, dengan batas, dan dengan harga diri yang terpasung.

Kini, delapan dekade setelah proklamasi, kita bertanya-tanya:

Apakah benar Indonesia sudah merdeka?

Merdeka dari siapa? Untuk siapa?Secara politik, kita bebas. Tidak ada bendera penjajah yang berkibar di negeri ini.

Namun, apakah bangsa ini benar-benar merdeka dari korupsi,  kemiskinan, dan ketidakadilan? 

Apakah generasi mudanya merdeka dari penjajahan gaya baru—penjajahan mental, hedonisme, dan lupa sejarah?

Indonesia merdeka, tetapi apakah rakyatnya merdeka? Indonesia berdiri tegak, tetapi apakah pemudanya masih setegak dahulu?

Bangkitlah !

Wahai pemuda bangsa!

Bangunlah dari tidur panjangmu!

Lihatlah negeri ini tanpa dirimu — apa jadinya Indonesia tanpa pemuda revisioner?

Indonesia tidak lagi membutuhkan bambu runcing.

Indonesia membutuhkan bambu runcing di pikiranmu, keberanian di hatimu, dan persatuan di langkahmu!

Dulu pemuda melawan kolonialisme fisik.

Saat ini pemuda harus melawan mental kolonialisme — melawan malas, 

melawan apatis, melawan lupa sejarah!

Pemuda hari ini bukan lagi dituntut mengangkat senjata, tetapi menuntut mengangkat kesadaran.

Tantangan kita bukan lagi kolonialisme fisik, tetapi nilai kolonialisme:

  • Ideologi instan yang membius pikiran.
  • Budaya konsumtif yang melontarkan daya juang.
  • Hoaks dan cuplikan yang merusak akal sehat.

Bangsa ini memerlukan pemuda revisioner baru—pemuda yang berani mengubah bangsa,berani menolak kebusukan, melawan arus ketidakadilan, dan berani bersatu untuk kepentingan bersama.

Bukan pemuda yang larut dalam kesenangan saat ini, tetapi pemuda yang mengerti makna kemerdekaan: kebebasan yang bertanggung jawab.

Nyalakan Kembali Api Kemerdekaan

Delapan puluh tahun lalu,api kemerdekaan menyala dari jiwa pemuda yang gelisah dan tidak mau diam.

Kini, api itu harus dinyalakan kembali:

Dengan karya nyata, bukan hanya kata. Semangat persatuan, bukan perpecahan. Keberanian, bukan pasrah dalam diam.

Maka Bangunlah pemuda revisioner! 

Sejarah tidak pernah menunggu orang yang tidur panjang.

Indonesia membutuhkanmu hari ini, bukan besok.

Jangan biarkan merah putih hanya menjadi kain yang berkibar setiap 17 Agustus.

Jadikan ia simbol perjuangan yang terus hidup, mengalir dalam darah setiap anak bangsa.

Karena tanpa pemuda revisioner, Indonesia kehilangan nyali.

Tanpa revisi pemuda, kemerdekaan hanyalah formalitas.

Dan tanpa revisi pemuda, masa depan bangsa ini akan tergadai.

Jadi, Ayo Bangkitlah! Saatnya menulis babak baru perjuangan bangsa ini—bukan dengan senjata, tetapi dengan gagasan, keberanian, dan persatuan!

Semoga manfaat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *